Postingan

sunrise yang tertinggal di mimpi

Gambar
Jumat malam, kami berangkat — delapan orang, delapan versi semangat yang berbeda. Ini kali pertama aku pergi bersama teman-teman kantor, dan entah kenapa rasanya agak canggung tapi juga seru. Kami naik motor bersama menuju Dieng. Malam itu gerimis, kabut turun pelan, dan udara dingin mulai menggigit bahkan sebelum sampai. Jam menunjukkan pukul 23.30 ketika akhirnya kami tiba di basecamp. Selesai registrasi dan beres mencari tempat, kami menggelar sleeping bag seadanya. Rencananya, cuma istirahat sebentar biar bisa ngejar sunrise di puncak. Tapi ternyata tidur di udara dingin itu nikmatnya nggak main-main. Alarm berbunyi berkali-kali, tapi cuma jadi musik latar mimpi. Sunrise yang kami kejar ternyata cuma bisa dinikmati di mimpi. Kami baru benar-benar bangun pukul 06.30 — telat jauh dari ekspektasi. Setelah mandi kilat, menyiapkan logistik, dan berdoa, kami mulai berjalan. Jalur awalnya melewati ladang kol dan kentang yang rapi seperti mosaik hijau. Sekitar lima belas menit kemudian k...

am i toxic?

Sometimes I catch myself wondering if I’m toxic. Not because I enjoy hurting people, but because it’s hard for me to believe that anyone could really care about me without a reason. Whenever someone gets too close, I start to tense up. My mind goes on high alert, scanning every word, every silence, every small delay in their reply. It’s like I’m always waiting for proof that I’m not worth staying for. And when I think I see it — even if it’s not really there — I start pulling away. Quietly. Casually. Like disappearing before they can notice I’m gone. It’s a habit that feels safe but also lonely. Every time someone tries to care, I question it. Every act of kindness feels suspicious, every compliment sounds rehearsed. I don’t know when I started doubting love like this. Maybe it began the first time I trusted someone who left without explanation. Or maybe it’s a mix of all the small heartbreaks that piled up until I stopped expecting people to stay. I built a version of myself that look...

yang katanya 'surga'

Aku datang jauh dari dasar neraka, berjalan dengan luka di kaki dan sisa bara di dada, berharap di sini aku bisa bernapas lebih lama. Tapi ternyata, udara “surga” ini sama saja — cuma dibungkus lebih halus, diberi aroma bunga dan kata-kata manis agar terasa lebih bisa diterima. Di sini memang tak sepanas asal usulku. Tak sebrutal dan sefrontal masa laluku. Tapi sisa-sisanya? Sama saja. Manusia tetaplah manusia — gemar menghakimi tapi takut dihakimi, sibuk memperbaiki citra tapi lupa memperbaiki isi kepala. Racauanku dianggap aneh. Mereka bilang aku terlalu sensitif, terlalu emosional, terlalu... banyak mikir. Tapi kelakuan mereka tak jauh beda denganku. Hanya saja, mereka pandai membungkusnya dengan pakaian yang rapi, senyum yang dibuat-buat, dan doa yang dilafalkan hanya untuk didengar orang lain. Balutan kulit mereka putih bersih, seolah kesucian bisa diukur dari seberapa terang warna epidermisnya. Tapi kalau kau bongkar sedikit lapisan luarnya, baunya sama. Busuk oleh iri, oleh ...

kata-kata berbahaya

Aku sering heran kenapa orang begitu mudah bicara tentang love language . Seolah-olah cinta bisa diringkas jadi lima kategori rapi seperti di buku pegangan. Padahal bagiku, cinta tidak pernah sesederhana itu. Apalagi kalau sejak kecil aku tidak tumbuh di rumah yang mengenalkan cinta lewat kata-kata. Karena jujur saja, aku tidak tumbuh di rumah yang penuh kata-kata manis. Aku tidak terbiasa mendengar “aku sayang kamu” di meja makan, atau ucapan “kamu hebat” setiap kali berhasil melakukan sesuatu. Di rumah, cinta bukan lewat kata. Cinta itu dibungkus dalam hal-hal lain: piring nasi yang sudah tersaji, listrik yang tetap menyala, pakaian yang selalu bersih. Jadi jangan salahkan aku jika kini aku canggung. Aku bukan orang yang pandai mengekspresikan cinta lewat kata. Bagiku, kata itu tipis, rapuh, bisa hilang terbawa angin. Aku lebih percaya pada hal-hal kecil yang kasat mata: memastikan orang lain makan lebih dulu, menyiapkan sesuatu sebelum diminta, atau sekadar diam menemani. Kadang ...

10k di tangan istri yang tepat

Katanya, sepuluh ribu di tangan istri yang tepat bisa jadi berkat. Kalimat yang sering lewat di beranda media sosialku, biasanya disertai foto tangan perempuan yang sedang menanak nasi atau menyiapkan bekal sederhana untuk suaminya. Terlihat hangat memang, tapi di dunia nyata, sepuluh ribu bahkan sudah tak cukup untuk membeli rasa sabar, apalagi rasa kenyang. Jajan fotoyu dan kopi ku saja sudah gocap. Itu pun belum termasuk ongkos perasaan setelah sadar saldo e-wallet tinggal seharga parkir motor di mall. Lucu, bagaimana orang masih percaya bahwa cinta dan penghematan bisa mengalahkan logika ekonomi. Aku sering dengar orang berkata, “Uang bukan segalanya.” Kalimat itu memang terdengar bijak, tapi makin ke sini terdengar seperti candaan yang basi. Benar, uang bukan segalanya — tapi coba hilangkan uang dari hidupmu selama sebulan, nanti kamu akan tahu, bahkan sabun dan gas elpiji pun tak bisa dibayar pakai cinta. Ada banyak rumah tangga yang tampak baik-baik saja di permukaan, tapi re...

aku banyak takutnya.

Aku banyak takutnya: takut salah pilih, takut rumah tangga tak sesuai ekspektasi, takut beda pandangan di tengah jalan, takut omongan orang, takut tidak sepadan, bahkan takut tidak cukup membuat nyaman—tapi ya sudah, hidup memang tidak pernah adil, siapa suruh aku berharap terlalu banyak? Kadang aku pikir cinta itu sederhana: ketemu orang yang bikin jantung deg-degan, lalu yakin dia soulmate. Tapi kalau cuma soal deg-degan, kopi sachet pun bisa bikin jantungku berlari. Soulmate ternyata bukan soal sensasi sementara, tapi soal rasa pulang. Aneh, ya. Ada orang yang bikin aku tenang meski kami sering nggak sepaham. Nggak selalu manis, nggak selalu romantis. Kadang malah bikin kepalaku penuh. Tapi entah kenapa, tetap ada rasa aman yang susah dijelaskan. Lalu, ketakutan lain datang: “Bagaimana kalau karirnya nggak seimbang sama aku? Bagaimana kalau orang lain menganggap aku turun kelas karena pilih dia?” Aku sering lupa, ternyata aku lebih takut sama omongan orang ketimbang sepi di kamarku ...

kalau diceritain panjang, jadi aku mending lari.

Gambar
Hidup yang monoton menjalani rutinitas yang itu-itu saja seharusnya banyak-banyak aku syukuri. Itu berarti badai kehidupan tidak sedang bersamaku. Di tengah hiruk pikuk undangan pernikahan dan tentang semua asumsi orang terhadapku, terima kasih karena menurut kalian aku berbahagia. Aku tak setenang itu, sesekali aku ingin mencabik mulutnya saat ia mulai mengoceh menyalahkan semua orang seenaknya. Aku ingin menarik rambutnya sampai lepas dari kulit kepala ketika dagunya sudah mulai lebih tinggi dari lubang hidungnya. You will never understand the hell I feel inside my head. Aku diam bukan karena apa, aku diam karena sibuk menenangkan monster yang ada di dalamku. Di umur yang tak lagi muda ini aku memutuskan untuk berhenti membandingkan nasibku. Aku sudah lelah melihat pencapaian orang lain yang kadang di usia mudanya sudah mendapatkan apa yang belum aku punya, pasangan hidup, rumah, pekerjaan tetap, mobil, destinasi liburan menarik, konser band luar negeri, tas mahal, dan segala bentuk...