Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Mereka

The Coolest Way To Kill Someone

Gambar
 

Lovesick Bear : Novel Usang Yang Belum Bertemu Jodoh

Gambar
  Mau ngenalin sama Lovesick Bear, novel yang sudah lama tamat di wattpad tapi sampai sekarang belum ketemu jodoh penerbitnya. Maklumlah, anget-anget tai ayam carinya. Sempet kepikiran buat self publish tapi ya gitulah, masih terkendala banyak hal. Mulai belum tahu banyak soal penerbit yang kira-kira bisa buat ngelahirin ini anak pertama, biaya, sampai mikirnya emang ada yang minat ya sama novel buatan aku. Kayak blog ini juga nggak yakin, ga ada yang baca juga. Modal pengen aja semuanya. Tapi nggak papa, semua pasti ada hikmahnya. Kalau bukan sekarang, mungkin nanti kapan-kapan. Entah gimana dulu bisa betah nulis ini novel. Walau lama juga sih kayaknya dulu bisa tamat. Sempet naik turun juga mood nya buat nulis. Kalau nggak salah inget, dulu nulis ini pas awal-awal jadi pengangguran sampe dapet kerja juga sempet ngelanjutin ini novel. Inget banget dulu naik Trans Jakarta sambil ngetik ini di wattpad , udah banyak yang diketik ternyata nggak nge- save . Amsyong emang dulu. Ide a...

Peron Dua, Stasiun Tanah Abang

Halo kamu, apa kabar? Tiba - tiba pagi ini, aku rindu Jakarta . Semua rutinitas yang dulu membuatku jenuh. Bangun pagi, berdesakan di kereta, bekerja, berdesakan lagi, tidur beberapa jam, kemudian mengulang kegiatan itu (lagi). Begitu terus selama tujuh hari dalam seminggu sampai akhirnya aku tak sengaja bertemu kamu. Sore itu aku terburu-buru menaiki kereta terakhir dari Stasiun Jurang Mangu . Awal pandemi , jadwal kereta ikut kacau. Kereta terakhir yang biasanya tiba jam 23.45 wib berubah menjadi 16.45 wib. Padahal jam kerjaku masih sama saja. Aku berdiri memandang keluar jendela berusaha tetap waras di tengah semua angan - angan yang sampai saat itu belum tercapai. Ralat, hingga saat ini mungkin. Berbagai pertanyaan muncul begitu saja di kepala. Apa mereka tidak bosan dengan rutinitas yang mereka jalani? Beberapa wajah mereka sudah tak asing buatku. Bisa dibilang aku bertemu mereka setiap pagi dan kalau aku tak lembur, aku juga bisa pulang bersama mereka. Ekspresi mereka tertutup o...

aku, kau, dan laut

Gambar
Laut kembali gaduh. Riak-riak ombak menari abstrak menerjang karang. Ia memporak-porandakan perkampungan yang tak jauh darinya. Hatinya panas melihat Angkasa. Ia sedang cemburu kepada Angkasa karena ia selalu diramaikan oleh Bintang. "Kenapa lagi? Kamu masih marah padaku?" tanya Angkasa. Laut hanya diam. Buih-buih putih membuncah. Ia menarik air ke tengah dan menyemburkannya kembali ke daratan dengan cepat. Ia tak memberi ampun. Bintang yang mengetahui kemarahan Laut hanya mengedip kepada kedua kawannya, Bulan dan Matahari. "Laut," panggil Bintang pelan. Laut tak menggubris. Ia masih dipenuhi emosi. Ia kembali mengirim air ke daratan, kali ini dengan kuantitas yang lebih besar dan dengan ombak setinggi lebih dari pohon kelapa. Ia marah, semarah-marahnya. Ia melampiaskan segala emosinya. Awan yang melihat, menangis. Matahari meredupkan cahayanya. Bulan bersembunyi di balik kelam. Laut merasa sendirian. Ia pikir semua lebih memilih Angkasa—Bintang yang setia men...