Peron Dua, Stasiun Tanah Abang

Halo kamu, apa kabar? Tiba - tiba pagi ini, aku rindu Jakarta. Semua rutinitas yang dulu membuatku jenuh. Bangun pagi, berdesakan di kereta, bekerja, berdesakan lagi, tidur beberapa jam, kemudian mengulang kegiatan itu (lagi). Begitu terus selama tujuh hari dalam seminggu sampai akhirnya aku tak sengaja bertemu kamu.

Sore itu aku terburu-buru menaiki kereta terakhir dari Stasiun Jurang Mangu. Awal pandemi, jadwal kereta ikut kacau. Kereta terakhir yang biasanya tiba jam 23.45 wib berubah menjadi 16.45 wib. Padahal jam kerjaku masih sama saja.

Aku berdiri memandang keluar jendela berusaha tetap waras di tengah semua angan - angan yang sampai saat itu belum tercapai. Ralat, hingga saat ini mungkin. Berbagai pertanyaan muncul begitu saja di kepala. Apa mereka tidak bosan dengan rutinitas yang mereka jalani? Beberapa wajah mereka sudah tak asing buatku. Bisa dibilang aku bertemu mereka setiap pagi dan kalau aku tak lembur, aku juga bisa pulang bersama mereka. Ekspresi mereka tertutup oleh masker yang mulai minggu lalu harus selalu menemani. Kita masih sama-sama manusia. Hidup rumit namun sederhana, panjang namun sementara, dan mereka menuju ke tujuan yang sama. Keabadian, yang entah kapan bisa kita nikmati.

Hidup rumit namun sederhana, panjang namun sementara, dan mereka menuju ke tujuan yang sama. Keabadian.

Peron dua, Stasiun Tanah Abang. Aku kembali menunggu kereta usai berdesakan berpindah jalur. Kamu, orang yang saat itu asing buatku. Mungkin saat itu tampilanmu di mataku biasa saja: kaos oblong hitam dengan sablon yang mulai memudar—tulisan besar “Seringai” dan segala simbolnya—celana jeans gelap, rambut sedikit berantakan, tas selempang yang terlipat di depan. Kamu tidak menonjol, tapi ada sesuatu di cara kamu berdiri yang menarik perhatianku; mungkin posturmu, mungkin senyummu yang nyaris tak terlihat di balik masker.

Kereta datang seperti biasa: bunyi decitan pintu, napas orang banyak, dan hawa hangat yang menguap dari tubuh manusia. Kita terdorong bersama arus, tubuh-tubuh mengunci tanpa izin. Di antara desakan itu, aku menangkap bau kopi—kopi yang entah dari mana—dan sedikit wangi aftershave yang nyaris tidak sopan untuk dirindukan. Kamu menoleh, lalu pandangan kita bertemu. Tidak ada kata, hanya sekejap yang terasa panjang. Matamu menyiratkan sesuatu yang aku tak berani tafsirkan.

Sampai akhirnya, kamu duduk di pojok gerbong, menempel pada jendela, menatap ke luar seperti mencari sesuatu yang tak ada. Aku duduk beberapa tempat darimu, pura-pura membaca notifikasi kosong di ponsel. Jantungku bergerak canggung. Kepala penuh kata yang tak bisa kubilang. Rasanya ingin menanyakan: siapa kamu sebenarnya? Mengapa, di antara ribuan orang ini, aku tiba-tiba merasa familiar?

Kamu menoleh sekali lagi ketika aku tersengal karena tasku tersangkut. Kau membantu—bukan dengan kata, hanya gerakan tangan yang cepat dan jelas. Sebuah tindakan kecil, tapi cukup untuk membuat aku merasa diterima untuk sesaat. Aku ingin mengucapkan terima kasih, tapi suaraku tersangkut oleh kereta yang menderu. Jadi aku hanya mengangguk. Kamu membalas dengan setengah senyum, lalu menunduk lagi.

Di stasiun berikutnya—entah nama apa—kamu turun. Langkahmu hilang di antara orang dan lampu neon. Aku menatap pintu kereta yang menutup di belakangmu sampai suara deru menenggelamkan sisa-sisa perhatian itu. Dalam hitungan detik, kamu jadi kenangan lain yang mungkin hanya ada karena aku mau mengingatnya.

Malam itu, aku pulang dengan kantong penuh sisa rasa yang tak jelas: rindu yang bukan rindu pada orang lama, penasaran yang bukan ingin memiliki, dan kehangatan kecil yang datang dari kebaikan asing. Jakarta, kota yang seringkali kejam, tiba-tiba terasa memberi celah kecil—sebuah momen singkat yang membuat napas agak lebih ringan.

Dan aku masih bertanya pada diri sendiri sampai sekarang: apakah kamu juga mengingat? Atau semuanya hanya satu adegan kecil di ingatanku yang manja, dibuat agar aku tidak merasa sepenuhnya sendirian?

Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes