Postingan

berharap begini saja.

Gambar
Tahun ini aku tidak minta banyak. Bahkan mungkin tidak minta apa-apa. Cukup bertahan sampai akhir tahun tanpa drama tambahan, tanpa target palsu, tanpa daftar pencapaian yang harus dipamerkan agar terlihat hidup. Tidak ada kekhawatiran yang perlu dipelihara, tidak ada lomba yang harus dimenangkan. Bangun, jalan, pulang. Sesederhana itu. Aneh, tapi rasanya cukup. Aku tidak tahu ini disebut puas atau menyerah. Bisa jadi aku akhirnya sampai, bisa juga aku cuma kehabisan tenaga untuk peduli. Ambisi yang dulu ribut di kepala sekarang diam, tidak mati, tapi jelas tidak mau bangun. Rasanya seperti mesin yang masih menyala tapi tidak lagi ke mana-mana dan untuk sekali ini, aku tidak terganggu. Dulu aku berjalan pakai bahan bakar yang tidak sehat tapi efektif: kebencian, dendam, pembuktian. Semua itu mendorongku cepat, jauh, dan tanpa istirahat. Sekarang tangkinya kosong. Aku berdiri di sini sambil menatap sisa-sisanya, sadar bahwa ternyata ia tidak bisa dipakai selamanya. Ironis, tapi jujur: a...

Tuhan terlalu baik tapi aku terlalu curiga.

Kadang aku masih ragu dan bingung dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Kenapa Tuhan baik, terlalu baik malah. Padahal dengan semua yang sudah terjadi, aku merasa tak sepantas itu untuk mendapatkan semua ini. Memakai seragam ini, bisa duduk bersama orang-orang yang sebelumnya tak pernah kuduga, bisa kembali tinggal di kota ini. Rasanya tak pernah terbayang sebelumnya. Yang tidak pernah dibicarakan orang adalah rasa bersalah yang datang bersama “berkat”. Karena saat hidup akhirnya lurus, pertanyaannya bukan lagi kenapa aku gagal , tapi kenapa aku berhasil . Dan anehnya, yang kedua jauh lebih menyiksa. Aku menatap diri sendiri di kaca—rapi, pantas, terlihat seperti orang yang tahu ke mana hidupnya pergi. Padahal tidak. Aku hanya sedang berdiri di antrean yang benar, mengenakan kostum yang tepat, di waktu yang kebetulan berpihak. Tidak ada pencerahan. Tidak ada momen film religi dengan musik lembut. Yang ada hanya aku, dengan kepala penuh kebisingan dan hati yang masih curiga pada keba...

catatan yang tidak perlu diingat tapi tak bisa dilupakan.

Gambar
Ada masa ketika aku pikir hidup paling melelahkan adalah deadline kantor dan rapat yang tidak pernah selesai. Lalu aku ikut Pelatihan Bela Negara di Rindam Magelang, dan ternyata tubuh manusia bisa disiksa dengan cara yang jauh lebih kreatif daripada sekadar zoom  jam delapan pagi. Semuanya dimulai dengan upacara, acara paling damai selama pelatihan. Sebelum kami dilempar ke realitas tempat ini: dunia di mana “istirahat” hanyalah kata dalam kamus, dan “minum” hanya dilakukan saat pelatih tidak melihat. Lengkap dengan suara teriakan yang bisa menggetarkan tanah, atau minimal menggetarkan niat untuk hidup. PBB menjadi pembuka: seni menggerakkan kaki kanan dan pikiran kiri secara bersamaan. Dalam hitungan lima menit, kami berubah dari manusia merdeka menjadi robot setengah rusak yang salah langkah hanya karena angin lewat. Pelatih mengawasi seperti cctv yang selalu “recalculating”, tapi dengan volume suara lebih besar dan ancaman yang lebih meyakinkan. Kelas-kelas teori kemudian had...

tembok di 2050 Mdpl.

Sabtu dini hari, kami berangkat dari rusun — masih ngantuk, tapi pura-pura semangat. Rencana awalnya sih mau ngejar sunrise. Tapi kayaknya matahari pun tahu kami terlalu optimis untuk itu. Baru keluar dikit, jalanan udah kayak antrean sembako: macet. Ternyata ada kecelakaan di depan terminal Banyumanik. Ya sudah, kami ikut macet bersama puluhan kepala yang juga bertanya-tanya kenapa harus di jam segini. Belum cukup, kami masih sempat-sempatnya mampir ke Indomaret — karena, tentu saja, pendakian tanpa sosis, roti, dan pocari kurang sedap. Begitu lewat Pasar Jimbaran, suasananya sudah kayak simulasi neraka jam lima pagi. Lalu lalang sayuran segar, truk, pedagang yang teriak, motor zig-zag di antara karung kubis. Di situ aku baru sadar: mungkin yang paling tangguh di dunia bukan pendaki, tapi ibu-ibu pasar yang udah siap tempur sebelum subuh. Kami belok ke arah Umbul Sidomukti, berharap bisa langsung tancap ke Basecamp Mawar. Tapi ya, harapan tinggal harapan. Portalnya masih tutup. Pad...

manusia yang belajar jadi manusia.

Gambar
Kadang yang menakutkan bukan monster di film, tapi manusia yang tersenyum di kehidupan nyata. Dua hari ini aku belajar satu hal: jadi manusia itu pekerjaan seumur hidup — dan tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar lulus. Dua hari ini aku menyelesaikan drama “Walking on Thin Ice.” Thriller, crime, penuh ketegangan dan kebohongan. Tapi justru di situ aku belajar banyak tentang satu hal yang seharusnya paling sederhana — tapi ternyata paling rumit: jadi manusia. Lucu, ya. Kita lahir sebagai manusia, tapi seumur hidup justru belajar caranya jadi manusia. Katanya, manusia harus punya hati. Tapi entah sejak kapan hati diganti dengan logika untung-rugi. Katanya, manusia itu makhluk sosial. Tapi aku lihat sekarang, banyak yang lebih nyaman bersosialisasi dengan layar, bukan dengan manusia lain. Kadang aku berpikir: apa manusia benar-benar tahu artinya jadi manusia? Atau kita semua cuma aktor yang memainkan peran moral di panggung sosial? Semua tampak baik di permukaan, tapi di balik lay...

kapan nyusul?

Di tengah tren nikah muda, aku merasa seperti anomali. Bukan karena aku anti pada pernikahan, tapi karena aku tidak ingin berbohong pada diri sendiri. Orang-orang di sekitarku seolah punya peta hidup yang sama: lulus, menikah, punya anak, menua bersama. Aku tidak menentang itu, tapi aku juga tidak ingin berlari hanya karena semua orang berlari ke arah yang sama. Kadang aku iri, bukan pada kebahagiaan mereka, tapi pada keyakinan mereka untuk mengikuti arus tanpa banyak bertanya. Aku iri pada kemampuan mereka untuk menyerah pada tekanan sosial dan tetap tampak bahagia di foto-foto yang penuh senyum. Aku hanya belum menikah. Tapi di mata mereka, status itu seperti dosa sosial. Seolah aku gagal jadi dewasa hanya karena belum ada cincin di jari. Mereka bertanya dengan nada ringan tapi penuh makna: “Kapan nyusul?” Pertanyaan sederhana yang menusuk di tempat paling sunyi dalam kepala. Aku hanya bisa tersenyum, pura-pura tidak terganggu, padahal ada keinginan untuk bertanya balik: kenapa merek...

Menang Atas Perasaan

Gambar
Pelan. Itu kata yang akhir-akhir ini sering aku ulang dalam kepala, seolah jadi mantra buat menahan diri supaya nggak kabur lagi. Aku sedang belajar keluar dari versi diriku yang selalu menghindar — yang pura-pura sibuk, pura-pura nggak peduli, padahal cuma takut disakiti. Aku pikir dulu menjauh adalah cara paling aman buat bertahan, tapi nyatanya justru bikin aku perlahan kehabisan napas, dicekik pelan-pelan oleh rasa sepi yang kuundang sendiri. Setiap kali sesuatu mulai terasa dekat, aku refleks menarik diri. Ada bagian dari diriku yang percaya kalau kedekatan cuma awal dari kehilangan. Jadi aku menyiapkan diri lebih dulu — bukan dengan kekuatan, tapi dengan jarak. Ironis, ya? Aku sibuk menjauh biar nggak kecewa, tapi malah kecewa karena terus menjauh. Sampai akhirnya aku sadar, aku nggak hidup, cuma sembunyi dalam versi aman dari diriku sendiri. Sekarang aku sedang belajar buat diam di tempat. Belajar buat nggak buru-buru menutup pintu setiap kali ada yang ngetuk, bahkan kalau bun...