Postingan

kuat ndaftar, lemah latihan

Gambar
Recap dua event race kemarin. Sama-sama rame, sama-sama bikin basah kuyup, penuh pelari elit, dan seperti biasa, geng gerbong belakang cuma sendiko dawuh mbukak dalan wae yang penting sadar posisi. Ora usah sok-sokan nyalip orang depan kalau ujungnya minggir sambil megang dengkul sendiri. Race 1 — Tugu Muda Marathon (TMM) Datang dengan modal muka kenceng padahal aslinya masih trauma sama over COT Semarang Mountain Race. Belum sembuh mentalnya, sudah daftar race lagi. Ya gimana ya, kadang manusia memang hobi mengulangi penderitaan dengan nomor BIB berbeda. Awal race masih sok tenang. Pace dijaga biar nggak kemrungsung sendiri di awal. Tapi makin lama makin mumet. Terutama tiap ketemu perempatan. Fokus lari buyar karena harus mikir nyebrang sambil lihat motor, marshal, pelari lain, sama nyawa sendiri. Ini race apa simulasi bertahan hidup. Terus entah kenapa, di saat badan mulai haus dan berharap isotonik, malah nggak nemu sama sekali. Adanya air putih yang langsung kokop dari botolny...

every minutes matters.

Gambar
Semarang Mountain Race, event yang sebenarnya dari awal nggak pengen-pengen banget diikuti karena sudah terlanjur daftar Tugu Muda Marathon. Mengingat kemampuan masih segitu-gitu aja dan race day-nya cuma selisih seminggu, ada rasa takut juga buat daftar. Tapi ya beginilah, kalau sudah pengen pasti harus keturutan. Akhirnya daftar juga event itu, modal nekat dan niat pengen finish. Latihan? Ya sewajarnya manusia saja, nggak yang gimana-gimana juga. Berjalannya waktu, sampailah ke hari yang ditunggu-tunggu. Hari H race semua terasa biasa saja. Dari start sampai antre turun ke sungai masih haha-hihi aja bawaannya. Sudah berasa Semarang Mountain and River daripada run, karena tiap beberapa ratus meter ketemu sungai lagi. Belum sampai WS 1, tiba-tiba kaki mulai terasa kram. Semakin dipaksa, semakin narik. Padahal dari awal sudah mikir mau ngejar waktu di turunan saja karena sadar diri kalau di tanjakan susah napas. Eh, belum WS 1 kok kaki sudah terasa berat begini. Di WS 1 akhirnya melipir...

berhenti memaksa mengerti.

Rencana Tuhan itu kadang rasanya kayak bercanda yang terlalu niat, terlalu detail, dan sama sekali nggak minta persetujuan. Di awal aku dibuat bingung, diputar ke sana kemari, disuruh jalan tanpa peta tapi ditanya kenapa capek. Aku sempat mikir, ngapain aku kuliah sampai Surabaya kalau ujungnya kerja di Jakarta? Bukannya bisa lurus aja? Tapi hidup jelas nggak kenal kata efisien. Setelah lulus dari Surabaya, aku keterima kerja di Jakarta, lalu entah kenapa harus nyasar lagi ke Purwakarta lingkungan yang sebagian besar orangnya Jawa Timur, dengan bahasa yang kasar, volume suara tinggi, dan tekanan yang jauh lebih ngegas dari Jawa Tengah. Harusnya kaget, harusnya tersinggung, harusnya ngerasa asing. Tapi kenyataannya aku fine-fine aja. Karena rupanya aku sudah dilatih dulu. Lalu muncul pertanyaan berikutnya yang sama nyebelinnya. Ngapain aku lama kerja di Jakarta dan sekitarnya kalau akhirnya aku harus balik ke rumah dan dapat pekerjaan tetap di sini? Ngapain ribet, ngapain muter, ngapain...

paraghaps for him.

Tidak pernah terlintas bakal merasakan 'musim' ini. Cerita-cerita sebelumnya tidak pernah sejauh ini. Ini yang paling jauh. Padahal rasanya baru kemaren aku deep talk ke Ibuk kalau mungkin aku tak ingin menikah. Lebih baik aku bekerja mengumpulkan uang dan tinggal panti jompo. Aku sudah ga punya ekspektasi apapun sedari awal. But if it's written we will meet but if it's not i am okay. Doaku cuma satu, kalau memang jalannya Tuhan kasih jalan tapi kalau bukan Tuhan juga yang bakal sembuhkan. Sejauh ini, dia yang paling konsisten dibanding yang sebelum-sebelumnya. Dari beragam makhluk yang aku temui, yang aku lihat dan aku rasa, he is just being himself . Tidak mencoba menjadi orang lain, tidak mencoba terlalu keras untuk terlihat sempurna. Just simple, honest, and present. Kadang aku juga berpikir lucu saja. Dari dulu aku selalu merasa harus membuat jalanku sendiri. Even though, truthfully, I know how to build my own road, and I still have some of nomer mandor who coul...

yang sedang aku pikirkan dan tak mungkin aku ucap

Kalau kendali ini boleh dilepas sebentar saja, mungkin mulutku sudah tak berhenti misuh dan muring sampai kering sendiri. Kata-kata kasar akan keluar tanpa sensor, tanpa jeda, tanpa peduli siapa yang berdiri di depan. Bukan cuma untuk orang-orang kantor yang hobi berlagak profesional tapi pikirannya sempit, tapi untuk siapa pun yang dengan percaya diri memamerkan kebodohannya. Kadang aku benar-benar ingin bertanya, apa mereka tidak pernah berpikir? Atau justru terlalu sering berpikir sampai isinya jadi kacau dan basi? Lucu sekali melihat orang-orang yang dengan entengnya mengomentari hidup orang lain, mengatur, menilai, menyusun standar seolah-olah mereka arsitek kehidupan paling benar. Padahal kalau cermin diajak bicara, mungkin cermin pun akan muak melihat pantulan wajah yang sama setiap hari, penuh tuntutan, kosong tanggung jawab. Orang-orang dari masa lalu juga tak kalah menarik. Bisa-bisanya datang dengan wajah tanpa malu, sambat tentang hidup yang katanya tidak adil. Seolah dunia...

dia yang semoga akan lama.

mungkin Tuhan kasih aku kebahagiaan dengan cara aku merelakan yang sudah pergi terlebih dahulu. rasanya sulit membuka hati dimana dari luar, hidup ini tampak berjalan sempurna. hari-hari terisi rapi oleh rutinitas yang dianggap wajar: bekerja, menghasilkan uang, sesekali pergi berlibur. semuanya seperti memenuhi standar orang hidup pada umumnya. tidak ada yang benar-benar salah, tidak ada yang perlu dikeluhkan. tapi di balik kerapian itu, ada ruang kosong yang terus menganga. emosi yang tidak meledak, hanya hampa dan datar. perlahan, hidup terasa seperti daftar kewajiban yang harus diselesaikan agar tetap terlihat “normal”. setiap pagi dijalani bukan karena ingin, tapi karena harus. bahkan hal-hal yang seharusnya menyenangkan kehilangan rasanya. bukan lelah fisik yang menggerogoti, melainkan perasaan menjalani hidup tanpa benar-benar hadir di dalamnya. di tengah semua itu, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenal diri ini. dan yang lebih sunyi, diri ini pun tak sepenuhnya mengen...

berharap begini saja.

Gambar
Tahun ini aku tidak minta banyak. Bahkan mungkin tidak minta apa-apa. Cukup bertahan sampai akhir tahun tanpa drama tambahan, tanpa target palsu, tanpa daftar pencapaian yang harus dipamerkan agar terlihat hidup. Tidak ada kekhawatiran yang perlu dipelihara, tidak ada lomba yang harus dimenangkan. Bangun, jalan, pulang. Sesederhana itu. Aneh, tapi rasanya cukup. Aku tidak tahu ini disebut puas atau menyerah. Bisa jadi aku akhirnya sampai, bisa juga aku cuma kehabisan tenaga untuk peduli. Ambisi yang dulu ribut di kepala sekarang diam, tidak mati, tapi jelas tidak mau bangun. Rasanya seperti mesin yang masih menyala tapi tidak lagi ke mana-mana dan untuk sekali ini, aku tidak terganggu. Dulu aku berjalan pakai bahan bakar yang tidak sehat tapi efektif: kebencian, dendam, pembuktian. Semua itu mendorongku cepat, jauh, dan tanpa istirahat. Sekarang tangkinya kosong. Aku berdiri di sini sambil menatap sisa-sisanya, sadar bahwa ternyata ia tidak bisa dipakai selamanya. Ironis, tapi jujur: a...