Jumat, 13 Februari 2026 0 comments

yang sedang aku pikirkan dan tak mungkin aku ucap

Kalau kendali ini boleh dilepas sebentar saja, mungkin mulutku sudah tak berhenti misuh dan muring sampai kering sendiri. Kata-kata kasar akan keluar tanpa sensor, tanpa jeda, tanpa peduli siapa yang berdiri di depan. Bukan cuma untuk orang-orang kantor yang hobi berlagak profesional tapi pikirannya sempit, tapi untuk siapa pun yang dengan percaya diri memamerkan kebodohannya. Kadang aku benar-benar ingin bertanya, apa mereka tidak pernah berpikir? Atau justru terlalu sering berpikir sampai isinya jadi kacau dan basi?

Lucu sekali melihat orang-orang yang dengan entengnya mengomentari hidup orang lain, mengatur, menilai, menyusun standar seolah-olah mereka arsitek kehidupan paling benar. Padahal kalau cermin diajak bicara, mungkin cermin pun akan muak melihat pantulan wajah yang sama setiap hari, penuh tuntutan, kosong tanggung jawab.

Orang-orang dari masa lalu juga tak kalah menarik. Bisa-bisanya datang dengan wajah tanpa malu, sambat tentang hidup yang katanya tidak adil. Seolah dunia berutang pada mereka. Tapi ketika keadaan dibalik, ketika giliran mereka diminta sedikit saja konsistensi, sedikit saja tanggung jawab—hilang. Menguap. Tiba-tiba sinyal hilang, waktu tak ada, alasan menumpuk seperti pakaian kotor. Ironisnya, setiap kali mendengar cerita mereka, aku malah makin bersyukur. Benang merahnya selalu sama: hidupnya kusut bukan karena nasib, tapi karena ia terlalu sibuk merasa kurang dan lupa bersyukur.

Di tempat ini, setiap pagi aku masih membuka pintu dan mencium wangi kayu tua. Entah kenapa itu satu-satunya hal yang terasa jujur. Kayu tidak pura-pura. Ia lapuk kalau memang lapuk. Ia kokoh kalau memang kuat. Tidak seperti manusia yang gemar membungkus niat dengan senyum ramah dan embel-embel panjang. Gelar, jabatan, pencitraan, semuanya seperti kostum karnaval yang dipakai terlalu lama sampai lupa wajah aslinya seperti apa.

Kadang aku dibuat minder oleh label-label yang mereka sematkan seenaknya. Tapi kemudian aku melihat sekeliling—sekumpulan orang aneh bin ajaib yang bahkan tak bisa mengatur prioritas hidupnya sendiri, apalagi menghargai waktu orang lain. Tiba-tiba rasa minder itu terasa lucu. Penilaian mereka bukanlah vonis. Paling hanya tiga dari sepuluh yang mungkin tidak setuju dengan stigma itu, dan itu pun mungkin karena mereka punya kepentingan tersembunyi. Sisanya? Hanya suara bising yang ingin terdengar penting.

Dulu aku benar-benar ingin berada di sini. Aku bersyukur, bangga, merasa berhasil. Sekarang? Ya, cukup tahu saja. Bersyukur sudah sampai sejauh ini, tapi kalau diminta mengerahkan lebih, memberikan lebih, berkorban lebih, mungkin tidak dulu. Untuk apa? Agar terlihat? Agar dianggap? Sementara yang bekerja sungguh-sungguh justru sering kali terlihat biasa saja, bahkan diremehkan.

Tak apa-apa kalau dinilai tidak bekerja maksimal. Toh penilaian itu hanya permukaan. Kenyataannya aku tahu apa yang kulakukan. Dan tak perlu semua orang tahu. Atau mungkin mereka tahu, hanya saja memilih pura-pura tidak tahu. Terserah. Tidak semua kebenaran harus diumumkan, dan tidak semua pengakuan pantas diperjuangkan.

Di sini rasanya seperti hutan belantara. Semua tampak seragam dari jauh rapi, profesional, beretika. Tapi mendekat sedikit saja, kau akan melihat taring yang disembunyikan, lidah yang lihai menjilat, dan mata yang terus mencari celah untuk menguntungkan diri sendiri. Tampak luar mereka begitu meyakinkan. Hampir menipu kalau tidak terbiasa.

Beruntungnya, aku sudah cukup lama belajar tentang dunia hewan. Jadi aku bisa mengenali jenis-jenisnya tanpa perlu banyak bicara. Ada yang penjilat ulung, ada yang oportunis, ada yang munafik profesional, ada pula yang merasa dirinya predator padahal hanya bangkai yang kebetulan belum tercium. Mereka bergerak dengan insting yang sama: bertahan, menang, terlihat unggul, apa pun caranya.

Dan mungkin yang paling melelahkan bukan keberadaan mereka, tapi fakta bahwa aku masih harus berdiri di tengah-tengahnya. Tetap waras. Tetap bekerja. Tetap menahan diri agar tidak berubah menjadi apa yang paling aku benci.

Karena kalau kendali itu benar-benar dilepas, mungkin bukan mereka yang hancur lebih dulu tapi aku.

Jumat, 23 Januari 2026 0 comments

dia yang semoga akan lama.

mungkin Tuhan kasih aku kebahagiaan dengan cara aku merelakan yang sudah pergi terlebih dahulu. rasanya sulit membuka hati dimana dari luar, hidup ini tampak berjalan sempurna. hari-hari terisi rapi oleh rutinitas yang dianggap wajar: bekerja, menghasilkan uang, sesekali pergi berlibur. semuanya seperti memenuhi standar orang hidup pada umumnya. tidak ada yang benar-benar salah, tidak ada yang perlu dikeluhkan. tapi di balik kerapian itu, ada ruang kosong yang terus menganga. emosi yang tidak meledak, hanya hampa dan datar.

perlahan, hidup terasa seperti daftar kewajiban yang harus diselesaikan agar tetap terlihat “normal”. setiap pagi dijalani bukan karena ingin, tapi karena harus. bahkan hal-hal yang seharusnya menyenangkan kehilangan rasanya. bukan lelah fisik yang menggerogoti, melainkan perasaan menjalani hidup tanpa benar-benar hadir di dalamnya.

di tengah semua itu, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenal diri ini. dan yang lebih sunyi, diri ini pun tak sepenuhnya mengenali siapa dirinya sendiri. terlalu lama menyesuaikan, terlalu sering berfungsi, sampai identitas menjadi kabur. aku ada, tapi seperti tidak menjadi siapa-siapa.

lalu kemudian dia datang, entah dari mana. tanpa peran yang jelas, tanpa janji apa pun. kehadirannya tidak mengubah hidup secara drastis, namun cukup untuk mengganggu keheningan yang selama ini kuanggap biasa. bersamanya, aku menyadari sesuatu yang lama terkubur ternyata ada bagian dari diri ini yang masih ingin merasa, ingin dilihat, ingin dikenali.

dia mungkin tidak datang untuk menyelamatkan. mungkin bahkan tidak untuk tinggal. tapi kehadirannya menjadi penanda bahwa di balik rutinitas yang terus berjalan, masih ada diri yang kosong, bingung, dan perlahan ingin pulang pada dirinya sendiri.

sejauh ini masih banyak keraguan yang muncul. bagaimana aku bisa mengimbangi ritmenya? bagaimana bisa aku satu pace dengannya? apa dia bisa bertahan? apa dia mau selamanya?

bersama ragu, harapan ikut timbul tenggelam. semoga akan lama. semoga dia orangnya. dan semoga-semoga lain yang dulu tidak pernah aku pikirkan.

Jumat, 02 Januari 2026 0 comments

berharap begini saja.

Tahun ini aku tidak minta banyak. Bahkan mungkin tidak minta apa-apa. Cukup bertahan sampai akhir tahun tanpa drama tambahan, tanpa target palsu, tanpa daftar pencapaian yang harus dipamerkan agar terlihat hidup. Tidak ada kekhawatiran yang perlu dipelihara, tidak ada lomba yang harus dimenangkan. Bangun, jalan, pulang. Sesederhana itu. Aneh, tapi rasanya cukup.

Aku tidak tahu ini disebut puas atau menyerah. Bisa jadi aku akhirnya sampai, bisa juga aku cuma kehabisan tenaga untuk peduli. Ambisi yang dulu ribut di kepala sekarang diam, tidak mati, tapi jelas tidak mau bangun. Rasanya seperti mesin yang masih menyala tapi tidak lagi ke mana-mana dan untuk sekali ini, aku tidak terganggu.

Dulu aku berjalan pakai bahan bakar yang tidak sehat tapi efektif: kebencian, dendam, pembuktian. Semua itu mendorongku cepat, jauh, dan tanpa istirahat. Sekarang tangkinya kosong. Aku berdiri di sini sambil menatap sisa-sisanya, sadar bahwa ternyata ia tidak bisa dipakai selamanya. Ironis, tapi jujur: aku sampai di titik ini justru ketika alasan-alasan itu berhenti bekerja.

Dan mungkin itu inti dari semuanya. Aku tidak ingin mengganti bahan bakar lama dengan yang baru. Tidak ingin memaksa diri menemukan makna, motivasi, atau mimpi yang terdengar bagus saat diceritakan ulang. Tahun ini aku memilih diam. Bukan karena kalah, tapi karena lelah. Dan untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.

Bukan berarti aku benar-benar berhenti. Aku hanya berhenti memaksa. Di sela kelelahan ini, aku tetap menyimpan bucket list kecil bukan daftar mimpi besar yang harus mengubah hidup, cuma beberapa hal sederhana yang ingin kutepati sendiri. Tidak untuk dipamerkan, tidak untuk dibuktikan ke siapa pun. Hanya penanda bahwa aku masih ada dan masih berjalan.

Hal-hal itu tidak terdengar heroik. Tidak akan membuat siapa pun bertepuk tangan. Tapi entah kenapa, aku membutuhkannya. Bukan sebagai ambisi, melainkan sebagai alasan untuk berhenti sejenak dan berkata, “ya, aku sampai juga di sini.” Setelah sekian lama bergerak karena dorongan marah dan ingin menang, rasanya adil kalau sekali ini aku bergerak demi diriku sendiri.

Mungkin ini bukan tentang mencapai sesuatu, tapi tentang merayakan bertahan. Merayakan versi diriku yang tidak lagi haus pengakuan, tapi masih cukup waras untuk memberi diri sendiri hadiah kecil. Dan kalau pada akhirnya itu satu-satunya yang bisa kucapai tahun ini, kurasa itu bukan kegagalan. Itu bentuk lain dari hidup.



 
;