perlahan, hidup terasa seperti daftar kewajiban yang harus diselesaikan agar tetap terlihat “normal”. setiap pagi dijalani bukan karena ingin, tapi karena harus. bahkan hal-hal yang seharusnya menyenangkan kehilangan rasanya. bukan lelah fisik yang menggerogoti, melainkan perasaan menjalani hidup tanpa benar-benar hadir di dalamnya.
di tengah semua itu, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenal diri ini. dan yang lebih sunyi, diri ini pun tak sepenuhnya mengenali siapa dirinya sendiri. terlalu lama menyesuaikan, terlalu sering berfungsi, sampai identitas menjadi kabur. aku ada, tapi seperti tidak menjadi siapa-siapa.
lalu kemudian dia datang, entah dari mana. tanpa peran yang jelas, tanpa janji apa pun. kehadirannya tidak mengubah hidup secara drastis, namun cukup untuk mengganggu keheningan yang selama ini kuanggap biasa. bersamanya, aku menyadari sesuatu yang lama terkubur ternyata ada bagian dari diri ini yang masih ingin merasa, ingin dilihat, ingin dikenali.
dia mungkin tidak datang untuk menyelamatkan. mungkin bahkan tidak untuk tinggal. tapi kehadirannya menjadi penanda bahwa di balik rutinitas yang terus berjalan, masih ada diri yang kosong, bingung, dan perlahan ingin pulang pada dirinya sendiri.
sejauh ini masih banyak keraguan yang muncul. bagaimana aku bisa mengimbangi ritmenya? bagaimana bisa aku satu pace dengannya? apa dia bisa bertahan? apa dia mau selamanya?
bersama ragu, harapan ikut timbul tenggelam. semoga akan lama. semoga dia orangnya. dan semoga-semoga lain yang dulu tidak pernah aku pikirkan.

