Kalau kendali ini boleh dilepas sebentar saja, mungkin mulutku sudah tak berhenti misuh dan muring sampai kering sendiri. Kata-kata kasar akan keluar tanpa sensor, tanpa jeda, tanpa peduli siapa yang berdiri di depan. Bukan cuma untuk orang-orang kantor yang hobi berlagak profesional tapi pikirannya sempit, tapi untuk siapa pun yang dengan percaya diri memamerkan kebodohannya. Kadang aku benar-benar ingin bertanya, apa mereka tidak pernah berpikir? Atau justru terlalu sering berpikir sampai isinya jadi kacau dan basi?
Lucu sekali melihat orang-orang yang dengan entengnya mengomentari hidup orang lain, mengatur, menilai, menyusun standar seolah-olah mereka arsitek kehidupan paling benar. Padahal kalau cermin diajak bicara, mungkin cermin pun akan muak melihat pantulan wajah yang sama setiap hari, penuh tuntutan, kosong tanggung jawab.
Orang-orang dari masa lalu juga tak kalah menarik. Bisa-bisanya datang dengan wajah tanpa malu, sambat tentang hidup yang katanya tidak adil. Seolah dunia berutang pada mereka. Tapi ketika keadaan dibalik, ketika giliran mereka diminta sedikit saja konsistensi, sedikit saja tanggung jawab—hilang. Menguap. Tiba-tiba sinyal hilang, waktu tak ada, alasan menumpuk seperti pakaian kotor. Ironisnya, setiap kali mendengar cerita mereka, aku malah makin bersyukur. Benang merahnya selalu sama: hidupnya kusut bukan karena nasib, tapi karena ia terlalu sibuk merasa kurang dan lupa bersyukur.
Di tempat ini, setiap pagi aku masih membuka pintu dan mencium wangi kayu tua. Entah kenapa itu satu-satunya hal yang terasa jujur. Kayu tidak pura-pura. Ia lapuk kalau memang lapuk. Ia kokoh kalau memang kuat. Tidak seperti manusia yang gemar membungkus niat dengan senyum ramah dan embel-embel panjang. Gelar, jabatan, pencitraan, semuanya seperti kostum karnaval yang dipakai terlalu lama sampai lupa wajah aslinya seperti apa.
Kadang aku dibuat minder oleh label-label yang mereka sematkan seenaknya. Tapi kemudian aku melihat sekeliling—sekumpulan orang aneh bin ajaib yang bahkan tak bisa mengatur prioritas hidupnya sendiri, apalagi menghargai waktu orang lain. Tiba-tiba rasa minder itu terasa lucu. Penilaian mereka bukanlah vonis. Paling hanya tiga dari sepuluh yang mungkin tidak setuju dengan stigma itu, dan itu pun mungkin karena mereka punya kepentingan tersembunyi. Sisanya? Hanya suara bising yang ingin terdengar penting.
Dulu aku benar-benar ingin berada di sini. Aku bersyukur, bangga, merasa berhasil. Sekarang? Ya, cukup tahu saja. Bersyukur sudah sampai sejauh ini, tapi kalau diminta mengerahkan lebih, memberikan lebih, berkorban lebih, mungkin tidak dulu. Untuk apa? Agar terlihat? Agar dianggap? Sementara yang bekerja sungguh-sungguh justru sering kali terlihat biasa saja, bahkan diremehkan.
Tak apa-apa kalau dinilai tidak bekerja maksimal. Toh penilaian itu hanya permukaan. Kenyataannya aku tahu apa yang kulakukan. Dan tak perlu semua orang tahu. Atau mungkin mereka tahu, hanya saja memilih pura-pura tidak tahu. Terserah. Tidak semua kebenaran harus diumumkan, dan tidak semua pengakuan pantas diperjuangkan.
Di sini rasanya seperti hutan belantara. Semua tampak seragam dari jauh rapi, profesional, beretika. Tapi mendekat sedikit saja, kau akan melihat taring yang disembunyikan, lidah yang lihai menjilat, dan mata yang terus mencari celah untuk menguntungkan diri sendiri. Tampak luar mereka begitu meyakinkan. Hampir menipu kalau tidak terbiasa.
Beruntungnya, aku sudah cukup lama belajar tentang dunia hewan. Jadi aku bisa mengenali jenis-jenisnya tanpa perlu banyak bicara. Ada yang penjilat ulung, ada yang oportunis, ada yang munafik profesional, ada pula yang merasa dirinya predator padahal hanya bangkai yang kebetulan belum tercium. Mereka bergerak dengan insting yang sama: bertahan, menang, terlihat unggul, apa pun caranya.
Dan mungkin yang paling melelahkan bukan keberadaan mereka, tapi fakta bahwa aku masih harus berdiri di tengah-tengahnya. Tetap waras. Tetap bekerja. Tetap menahan diri agar tidak berubah menjadi apa yang paling aku benci.
Karena kalau kendali itu benar-benar dilepas, mungkin bukan mereka yang hancur lebih dulu tapi aku.

