berharap begini saja.
Tahun ini aku tidak minta banyak. Bahkan mungkin tidak minta apa-apa. Cukup bertahan sampai akhir tahun tanpa drama tambahan, tanpa target palsu, tanpa daftar pencapaian yang harus dipamerkan agar terlihat hidup. Tidak ada kekhawatiran yang perlu dipelihara, tidak ada lomba yang harus dimenangkan. Bangun, jalan, pulang. Sesederhana itu. Aneh, tapi rasanya cukup.
Aku tidak tahu ini disebut puas atau menyerah. Bisa jadi aku akhirnya sampai, bisa juga aku cuma kehabisan tenaga untuk peduli. Ambisi yang dulu ribut di kepala sekarang diam, tidak mati, tapi jelas tidak mau bangun. Rasanya seperti mesin yang masih menyala tapi tidak lagi ke mana-mana dan untuk sekali ini, aku tidak terganggu.
Dulu aku berjalan pakai bahan bakar yang tidak sehat tapi efektif: kebencian, dendam, pembuktian. Semua itu mendorongku cepat, jauh, dan tanpa istirahat. Sekarang tangkinya kosong. Aku berdiri di sini sambil menatap sisa-sisanya, sadar bahwa ternyata ia tidak bisa dipakai selamanya. Ironis, tapi jujur: aku sampai di titik ini justru ketika alasan-alasan itu berhenti bekerja.
Dan mungkin itu inti dari semuanya. Aku tidak ingin mengganti bahan bakar lama dengan yang baru. Tidak ingin memaksa diri menemukan makna, motivasi, atau mimpi yang terdengar bagus saat diceritakan ulang. Tahun ini aku memilih diam. Bukan karena kalah, tapi karena lelah. Dan untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.
Bukan berarti aku benar-benar berhenti. Aku hanya berhenti memaksa. Di sela kelelahan ini, aku tetap menyimpan bucket list kecil bukan daftar mimpi besar yang harus mengubah hidup, cuma beberapa hal sederhana yang ingin kutepati sendiri. Tidak untuk dipamerkan, tidak untuk dibuktikan ke siapa pun. Hanya penanda bahwa aku masih ada dan masih berjalan.
Hal-hal itu tidak terdengar heroik. Tidak akan membuat siapa pun bertepuk tangan. Tapi entah kenapa, aku membutuhkannya. Bukan sebagai ambisi, melainkan sebagai alasan untuk berhenti sejenak dan berkata, “ya, aku sampai juga di sini.” Setelah sekian lama bergerak karena dorongan marah dan ingin menang, rasanya adil kalau sekali ini aku bergerak demi diriku sendiri.
Mungkin ini bukan tentang mencapai sesuatu, tapi tentang merayakan bertahan. Merayakan versi diriku yang tidak lagi haus pengakuan, tapi masih cukup waras untuk memberi diri sendiri hadiah kecil. Dan kalau pada akhirnya itu satu-satunya yang bisa kucapai tahun ini, kurasa itu bukan kegagalan. Itu bentuk lain dari hidup.