Tuhan terlalu baik tapi aku terlalu curiga.
Kadang aku masih ragu dan bingung dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Kenapa Tuhan baik, terlalu baik malah. Padahal dengan semua yang sudah terjadi, aku merasa tak sepantas itu untuk mendapatkan semua ini. Memakai seragam ini, bisa duduk bersama orang-orang yang sebelumnya tak pernah kuduga, bisa kembali tinggal di kota ini. Rasanya tak pernah terbayang sebelumnya.
Yang tidak pernah dibicarakan orang adalah rasa bersalah yang datang bersama “berkat”.
Karena saat hidup akhirnya lurus, pertanyaannya bukan lagi kenapa aku gagal, tapi kenapa aku berhasil. Dan anehnya, yang kedua jauh lebih menyiksa.
Aku menatap diri sendiri di kaca—rapi, pantas, terlihat seperti orang yang tahu ke mana hidupnya pergi. Padahal tidak. Aku hanya sedang berdiri di antrean yang benar, mengenakan kostum yang tepat, di waktu yang kebetulan berpihak. Tidak ada pencerahan. Tidak ada momen film religi dengan musik lembut. Yang ada hanya aku, dengan kepala penuh kebisingan dan hati yang masih curiga pada kebahagiaan.
Aku menunggu semuanya runtuh.
Karena begitulah hidup mengajariku: kalau terlalu tenang, berarti badai sedang ambil ancang-ancang. Jadi setiap kali seseorang berkata, “Kamu beruntung,” aku ingin tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena mereka tidak tahu berapa banyak bagian dari diriku yang sudah mati untuk sampai ke titik ini.
Tuhan, kalau memang Kau sedang baik, tolong jangan tiba-tiba berubah pikiran.
Aku duduk di antara orang-orang yang berbicara tentang rencana lima tahun ke depan, sementara aku masih berusaha berdamai dengan lima tahun ke belakang. Mereka bicara tentang mimpi, aku menghitung trauma. Mereka menyebut masa depan, aku masih membereskan reruntuhan.
Dan lucunya, aku terlihat baik-baik saja.
Seragam ini menutup banyak hal. Ia membuatku tampak sah, resmi, layak. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kainnya ada tubuh yang lelah berpura-pura pantas. Bahwa setiap pencapaian ini rasanya seperti kesalahan administratif yang belum diperbaiki semesta.
Aku tidak iri pada mereka. Aku iri pada versi diriku yang bisa menerima semua ini tanpa curiga. Karena sampai hari ini, aku masih merasa seperti tamu yang duduk terlalu lama di rumah orang lain. Menikmati jamuan, sambil siap-siap minta maaf kalau sewaktu-waktu disuruh pulang.
Mungkin ini doa yang buruk. Mungkin ini iman yang retak. Tapi beginilah kejujuranku: aku tidak tahu cara bersyukur tanpa takut. Tidak tahu cara bahagia tanpa bersiap kehilangan.J ika Tuhan memang sedang mengujiku, ini ujian yang paling kejam—memberiku hidup yang baik, lalu membiarkanku mempertanyakan apakah aku pantas memilikinya dan kalau ini bukan ujian, maka aku harus belajar satu hal yang belum pernah benar-benar kupelajari: Percaya bahwa sesuatu yang baik tidak selalu harus dibayar dengan penderitaan.
Tapi malam ini, aku belum sampai ke sana.