catatan yang tidak perlu diingat tapi tak bisa dilupakan.

Ada masa ketika aku pikir hidup paling melelahkan adalah deadline kantor dan rapat yang tidak pernah selesai. Lalu aku ikut Pelatihan Bela Negara di Rindam Magelang, dan ternyata tubuh manusia bisa disiksa dengan cara yang jauh lebih kreatif daripada sekadar zoom jam delapan pagi.

Semuanya dimulai dengan upacara, acara paling damai selama pelatihan. Sebelum kami dilempar ke realitas tempat ini: dunia di mana “istirahat” hanyalah kata dalam kamus, dan “minum” hanya dilakukan saat pelatih tidak melihat. Lengkap dengan suara teriakan yang bisa menggetarkan tanah, atau minimal menggetarkan niat untuk hidup.

PBB menjadi pembuka: seni menggerakkan kaki kanan dan pikiran kiri secara bersamaan. Dalam hitungan lima menit, kami berubah dari manusia merdeka menjadi robot setengah rusak yang salah langkah hanya karena angin lewat. Pelatih mengawasi seperti cctv yang selalu “recalculating”, tapi dengan volume suara lebih besar dan ancaman yang lebih meyakinkan.

Kelas-kelas teori kemudian hadir sebagai oase palsu. Duduk memang, tapi otak tetap dipaksa bekerja sambil mata berjuang agar tidak tumbang. Materi kebangsaan, etika, kepemimpinan, radikalisme semuanya disampaikan dengan gaya yang membuatmu sadar bahwa ini bukan sekadar pelatihan. Ini “peringatan halus” dari negara: jangan macam-macam.

Bela diri taktis muncul untuk mengingatkan bahwa tubuhmu bisa sakit di tempat-tempat yang sebelumnya tidak kamu ketahui memiliki saraf. Posisi kuda-kuda? Lebih mirip kuda pincang. Pelatih mencontohkan sekali, kami mengulang sepuluh kali, dan tetap terlihat seperti video buffering.

Lalu jadilah kami dilempar ke permainan kepemimpinan dan kerja sama tim. “Kerja sama,” katanya. Padahal lebih mirip simulasi bagaimana manusia kehilangan kesabaran dalam 30 detik pertama. Ada yang dominan, ada yang pasrah jadi batu hias. Semua demi menyelesaikan misi yang, ironisnya, bahkan di dunia nyata pun tidak akan pernah kami hadapi.

Jam makan pun tidak jauh lebih baik. Bahkan lebih horor. Porsinya gila. Nasi numpuk kayak lagi bangun pondasi rumah. Dan lauknya? Cuma dua: pindang yang baunya mengintai mimpi buruk, dan telur rebus yang muncul setiap saat kayak mantan toxic yang nggak mau pergi. Susu Milku yang lebih bisa di bilang sirup rasa susu coklat siap mendorong roti Ro-ka rasa pandan. Mau protes? Silakan, tapi lidahmu bakal ikut dilipat sama pelatih.

Kemudian datang bagian paling menyenangkan versi pelatih: survival. Bagian paling menyedihkan versi peserta. Tapi justru aku paling menikmati bagian ini.

Kami belajar menangkap ular tapi hari itu menjadi menu makan siang. Dari cara memegang ekornya, menekan kepalanya, menguliti, memotong, dan membakar. Daging ular bakar tak seenak bayanganku. Aku lebih suka di goreng garing sehingga mirip leher ayam. Tapi aku lebih memilih ular ketimbang ikan pindang yang sejak dulu sudah aku jauhi.

Water rescue? Jangan bayangkan adegan heroik di sungai atau kolam. Nyatanya hanya latihan kering di lapangan, semacam tutorial dasar untuk menyelamatkan orang yang bahkan tidak tenggelam. Kami belajar teknik angkat, tarik, dan gendong. Yang paling dekat dengan air hanyalah keringat sendiri, itu pun kalau masih tersisa air dalam tubuh untuk dikeluarkan.

Di sela-sela itu semua, ada yel-yel yang harus diteriakkan penuh semangat. Entah kenapa rasanya seperti candaan gelap tentang hati yang sudah beberapa kali ingin menyerah.

Lagu Halo-Halo Bandung diputar lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai rasanya otakku minta cerai dari kepalaku sendiri. Kalau Bandung bisa ngomong, mungkin dia bakal bilang, “Udahlah bang, saya capek.” Tapi pelatih tetap nyuruh kami teriak, seolah lagu itu adalah oksigen. Padahal tiap kali nyanyinya mulai, yang mati duluan justru semangatku. Di sela-sela siksa itu, kami harus teriak, "Hanya satu tekad kami!" Entah tekad apa. Tekad untuk bertahan hidup? Tekad untuk kabur? Tekad untuk bunuh diri secara emosional, yang jelas, tiap kali teriakannya menggema, rasa lelah berubah jadi pasrah.

Outbond itu, menuruni dinding dengan tali. Anehnya jadi satu-satunya bagian yang terasa waras. Tubuh tegang, tangan panas, kaki gemetar, tapi kepalaku justru tenang. Tidak ada teriakan yang masuk, tidak ada lagu nasional yang memantul di otak. Hanya aku, tali, dan dinding. Kalau semua ini harus diulang, bagian itu saja. Yang lain? Tidak usah sok heroik.

Malamnya disebut-sebut “malam pembentukan mental”. Katanya seram. Nyatanya tidak. Tidak ada hantu, tidak ada bisikan. Yang ada cuma wajah-wajah penuh cat hitam yang susah hilang, lengket di kulit dan di kepala. Capek, lengket, malas. Seramnya bukan pada suasana, tapi pada kesadaran bahwa besok masih harus bangun dan berpura-pura kuat.

Dan entah bagaimana, semua itu akhirnya selesai juga. Teriakan berhenti. Barisan bubar. Tidak ada lagi nasi gunung, telur abadi, dan pindang sialan yang terus mengejar sampai mimpi. Kami pulang bukan sebagai pahlawan cuma orang-orang lelah yang senang karena satu hal sederhana: akhirnya bisa lari jauh dari pindang.

Ini cuma catatan singkat tentang hari-hari yang seharusnya bisa dilupakan tapi sialnya menempel: teriakan tanpa jeda, lagu yang diputar kebanyakan, tubuh yang dipaksa patuh, wajah penuh hitam yang susah hilang, nasi kebanyakan, telur yang selalu ada, dan pindang yang rasanya seperti hukuman tambahan—semua bercampur jadi satu rasa muak yang anehnya bertahan lama; tidak ada pelajaran heroik, tidak ada momen suci, hanya kelelahan yang jujur dan satu kesadaran pahit: aku tidak ingin mengingatnya, tapi tubuhku sudah lebih dulu menyimpannya.


Postingan populer dari blog ini

semua karena bacotmu yang jahat.

apa aku boleh bahagia?

orang hanya percaya dengan apa yang mereka lihat