Sabtu, 25 Oktober 2025 0 comments

kapan nyusul?

Di tengah tren nikah muda, aku merasa seperti anomali. Bukan karena aku anti pada pernikahan, tapi karena aku tidak ingin berbohong pada diri sendiri. Orang-orang di sekitarku seolah punya peta hidup yang sama: lulus, menikah, punya anak, menua bersama. Aku tidak menentang itu, tapi aku juga tidak ingin berlari hanya karena semua orang berlari ke arah yang sama. Kadang aku iri, bukan pada kebahagiaan mereka, tapi pada keyakinan mereka untuk mengikuti arus tanpa banyak bertanya. Aku iri pada kemampuan mereka untuk menyerah pada tekanan sosial dan tetap tampak bahagia di foto-foto yang penuh senyum.

Aku hanya belum menikah. Tapi di mata mereka, status itu seperti dosa sosial. Seolah aku gagal jadi dewasa hanya karena belum ada cincin di jari. Mereka bertanya dengan nada ringan tapi penuh makna: “Kapan nyusul?” Pertanyaan sederhana yang menusuk di tempat paling sunyi dalam kepala. Aku hanya bisa tersenyum, pura-pura tidak terganggu, padahal ada keinginan untuk bertanya balik: kenapa mereka begitu terganggu dengan pilihan hidup orang lain? Aku tak pernah menanyakan kenapa mereka menikah, kenapa terburu-buru, kenapa tetap bertahan padahal sudah tak bahagia. Tapi dunia ini aneh—diam dianggap sombong, jujur dianggap takut, dan berbeda dianggap salah.

Kadang aku berpikir, mungkin diamku salah. Kukira dengan diam, orang-orang akan berhenti menggonggong. Tapi rupanya semakin aku tenang, semakin keras mereka menilai. Mereka yang menikah dengan sponsor orang tua berbicara lantang soal kemandirian. Mereka yang hidupnya masih ditopang berbicara tentang tanggung jawab. Mereka yang tak pernah benar-benar memikul beban berbicara tentang kesiapan. Ironi yang terlalu nyata, tapi dibiarkan karena status “sudah menikah” seolah cukup untuk menutup semua celah logika.

Aku tidak menolak menikah. Aku hanya tidak ingin menjadikannya pelarian. Aku ingin hidup yang dijalani karena sadar, bukan karena takut. Aku ingin cinta yang lahir dari kesiapan, bukan kepanikan. Karena di balik banyak pernikahan yang tampak bahagia, aku melihat mata yang lelah, hati yang dingin, dan kehidupan yang penuh kompromi tanpa arah. Mereka menang di mata sosial, tapi kehilangan diri mereka sendiri pelan-pelan.

Tidak semua orang punya privilese yang sama. Tidak semua bisa memulai hidup baru dengan tabungan aman dan restu tanpa beban. Beberapa dari kami masih berjuang untuk berdiri sendiri, bukan karena ego, tapi karena ingin memastikan bahwa nanti, saat waktunya tiba, kami benar-benar siap berbagi hidup, bukan sekadar menambah beban. Tapi dunia tidak sabar pada orang yang sedang mempersiapkan diri. Dunia hanya tahu hasil, bukan proses.

Aku lelah, tapi juga sadar. Bahwa diam bukan kelemahan, melainkan bentuk perlawanan paling halus. Bahwa tidak menikah belum tentu berarti kesepian. Kadang justru di kesendirian, aku menemukan kejujuran yang tidak kupahami saat berada di tengah keramaian. Karena di dunia yang sibuk berpura-pura bahagia, mungkin kesendirian adalah satu-satunya ruang di mana aku benar-benar jadi diriku sendiri.

Selasa, 21 Oktober 2025 0 comments

Menang Atas Perasaan


Pelan. Itu kata yang akhir-akhir ini sering aku ulang dalam kepala, seolah jadi mantra buat menahan diri supaya nggak kabur lagi. Aku sedang belajar keluar dari versi diriku yang selalu menghindar — yang pura-pura sibuk, pura-pura nggak peduli, padahal cuma takut disakiti. Aku pikir dulu menjauh adalah cara paling aman buat bertahan, tapi nyatanya justru bikin aku perlahan kehabisan napas, dicekik pelan-pelan oleh rasa sepi yang kuundang sendiri.

Setiap kali sesuatu mulai terasa dekat, aku refleks menarik diri. Ada bagian dari diriku yang percaya kalau kedekatan cuma awal dari kehilangan. Jadi aku menyiapkan diri lebih dulu — bukan dengan kekuatan, tapi dengan jarak. Ironis, ya? Aku sibuk menjauh biar nggak kecewa, tapi malah kecewa karena terus menjauh. Sampai akhirnya aku sadar, aku nggak hidup, cuma sembunyi dalam versi aman dari diriku sendiri.

Sekarang aku sedang belajar buat diam di tempat. Belajar buat nggak buru-buru menutup pintu setiap kali ada yang ngetuk, bahkan kalau bunyinya bikin jantung deg-degan. Aku mencoba menahan diri untuk nggak langsung kabur saat rasa takut datang, membiarkan perasaan itu duduk sebentar, lalu pergi sendiri. Aku ingin berhenti nge-ghost diriku sendiri setiap kali hidup mulai terasa ribut.

Nggak mudah, tentu saja. Kadang aku masih ingin lari sejauh mungkin, biar nggak perlu ngerasain apa-apa. Tapi aku mulai sadar, kabur itu bukan bentuk perlindungan, itu cuma cara halus buat bunuh diri pelan-pelan. Aku nggak lagi ngejar kesembuhan instan — karena nggak ada. Aku cuma pengen bisa hadir di tengah rasa takut, di tengah bingung, di tengah hidup yang sering terasa absurd.

Tapi “berdamai” ternyata bukan kata yang lembut seperti yang sering dikutip di internet. Nggak ada lilin aromaterapi, nggak ada playlist lo-fi, nggak ada journaling penuh afirmasi positif. Berdamai itu kotor, sunyi, dan kadang bikin muak. Karena nggak ada yang romantis dari duduk sendirian di kamar, ngerasa kosong, tapi harus pura-pura baik-baik aja. Di titik tertentu aku mulai bertanya-tanya: ini tenang, atau cuma mati rasa?

Lucu juga ya, dunia suka banget ngomong soal self-love, tapi nggak pernah ngajarin gimana cara mencintai diri sendiri yang rusak. Katanya, “terima dirimu apa adanya.” Oke, tapi gimana kalau yang ada itu cuma reruntuhan? Kalau setiap kali aku ngaca, yang kutemui cuma wajah yang capek pura-pura kuat? Kadang aku berpikir, mungkin aku nggak benar-benar pengen sembuh — mungkin aku cuma pengen berhenti berpura-pura.

Luka-luka ini anehnya justru terasa jujur. Mereka kasar, tapi nyata. Sementara versi “positif” dari diriku terasa seperti topeng yang lengket dan susah dilepas. Aku mulai bisa menghargai sisi gelap itu — bukan karena aku bangga, tapi karena di sanalah aku benar-benar hidup. Dunia nggak pernah suka orang yang jujur tentang sakitnya, tapi aku juga udah terlalu letih buat terus menutupi darah di balik senyum.

Sekarang aku tahu, nggak semua hal akan baik-baik aja. Beberapa luka nggak bisa sembuh — mereka cuma berhenti nyakitin karena kita udah kebal. Dan mungkin itu nggak apa-apa. Mungkin jadi dewasa bukan soal pulih, tapi soal bisa hidup berdampingan dengan yang retak tanpa berharap utuh lagi. Aku mulai belajar mencintai ketidakpastian, karena ternyata di sanalah kejujuran tinggal.

Malam ini aku nggak nyari cahaya. Aku cuma duduk di tengah gelap, ngerasain detak jantung yang masih ada, tanda kalau aku belum sepenuhnya menyerah. Mungkin ini bentuk keberanian yang paling sederhana — bukan berlari ke arah terang, tapi bertahan di tempat, walau semua hal dalam diri teriak pengen kabur. Aku nggak tahu apakah ini proses, atau cuma istirahat sebelum mundur lagi. Tapi untuk sekarang, biarlah begini dulu.

Karena besok, siapa tahu aku balik ngilang lagi. Dan kalaupun iya, mungkin itu juga bagian dari perjalanan — versi lain dari bertahan. Kadang bertahan memang nggak selalu berarti terus maju. Kadang bertahan cuma berarti… masih di sini, walau semuanya pengen pergi.

Minggu, 19 Oktober 2025 0 comments

sunrise yang tertinggal di mimpi

Jumat malam, kami berangkat — delapan orang, delapan versi semangat yang berbeda. Ini kali pertama aku pergi bersama teman-teman kantor, dan entah kenapa rasanya agak canggung tapi juga seru. Kami naik motor bersama menuju Dieng. Malam itu gerimis, kabut turun pelan, dan udara dingin mulai menggigit bahkan sebelum sampai. Jam menunjukkan pukul 23.30 ketika akhirnya kami tiba di basecamp.

Selesai registrasi dan beres mencari tempat, kami menggelar sleeping bag seadanya. Rencananya, cuma istirahat sebentar biar bisa ngejar sunrise di puncak. Tapi ternyata tidur di udara dingin itu nikmatnya nggak main-main. Alarm berbunyi berkali-kali, tapi cuma jadi musik latar mimpi. Sunrise yang kami kejar ternyata cuma bisa dinikmati di mimpi. Kami baru benar-benar bangun pukul 06.30 — telat jauh dari ekspektasi.

Setelah mandi kilat, menyiapkan logistik, dan berdoa, kami mulai berjalan. Jalur awalnya melewati ladang kol dan kentang yang rapi seperti mosaik hijau. Sekitar lima belas menit kemudian kami sampai di pintu rimba. Napas mulai berat, tapi semangat masih penuh. Di pos satu, semua masih bercanda. Jalurnya nggak terlalu jauh dari basecamp, mungkin sekitar lima belas menit juga. Tapi mulai dari pos dua, rasanya tenaga mulai diuji. Medan lebih menanjak, dan kaki mulai protes pelan-pelan. Untungnya, pemandangan di sekitar menenangkan — dan setiap kali berhenti buat ambil foto, rasanya seperti alasan yang sah buat istirahat.

Lewat “akar cinta,” kami berhenti lagi. Spot itu memang terkenal, katanya siapa pun yang foto di situ bakal punya cinta abadi. Aku nggak tahu soal itu, tapi yang jelas cintaku saat itu cuma ke botol air minum. Dari pos dua ke pos tiga lumayan jauh, hampir satu jam perjalanan dengan beberapa kali berhenti.

Menjelang puncak, kami bertemu pendaki lain yang terlihat kelelahan. Satu orang tampak menggigil hebat — gejala hipotermia. Kami sempat membantu sebisanya: memberi air hangat, menyarankan turun. Tapi mereka keras kepala, tetap ingin lanjut ke atas. Aku sempat terpikir, kadang manusia memang aneh — lebih takut terlihat lemah daripada benar-benar sakit. Setelah kondisi mereka agak membaik, kami lanjut jalan.

Begitu sampai di puncak, semua rasa capek hilang. Prau memang seindah cerita orang-orang. Garis langitnya bersih, sabananya luas, dan udara di sana terasa beda — seperti dunia sedang menahan napas sejenak. Kami sempat antre cukup lama di plang “Gunung Prau” untuk foto, tapi akhirnya memutuskan lanjut ke sabana. Dan ternyata sabana itu luar biasa.

Bunga daisy yang sering kulihat di Instagram ternyata benar-benar ada, meski warnanya sedikit lebih pudar dari filter kamera. Tapi justru karena itu, keindahannya terasa lebih nyata. Kami makan siang di sabana sambil bercanda dan menikmati sisa dingin yang masih bersahabat. Rencana awalnya, kami mau lanjut ke Sunrise Camp, tapi belum sempat naik ke bukit itu, kabut datang lebih cepat dari rencana. Tembok putih dingin itu menelan pemandangan, dan kami sepakat untuk turun.

Perjalanan turun terasa lebih cepat. Entah karena jalurnya menurun, atau karena perut sudah terisi dan hati sudah tenang. Energi yang sempat terkuras, seperti diisi ulang oleh sabana yang tenang dan tawa ringan di antara teman-teman.

Perjalanan pulang pun tidak kalah dramatis. Di turunan Tambi, rem blong dan kami sempat menabrak bagian belakang Hi-ace. Motor tergelincir, dan entah gimana aku bisa koprol ke ladang warga. Dunia sempat berputar beberapa detik — dan ajaibnya, aku keluar dari kejadian itu tanpa luka sedikit pun. Teman-teman panik, aku malah ketawa. Kadang keberuntungan datang dengan cara yang absurd.

Malam itu, saat sudah kembali ke rumah, tubuh rasanya remuk tapi hati entah kenapa ringan. Sunrise memang gagal kulihat di puncak, tapi mungkin bukan itu tujuannya. Kadang yang berharga dari perjalanan bukan pemandangannya, tapi momen kecil di antara lelah dan tawa, dingin dan hangat, kabut dan cahaya. Gunung Prau mengajarkan hal sederhana: bahwa nggak semua yang indah harus disaksikan, dan nggak semua perjalanan butuh hasil sempurna. Beberapa hal cukup untuk dijalani — cukup untuk membuatmu merasa hidup. Tapi anehnya, setelah turun, aku malah ngerasa kosong. Seperti ada bagian dari diriku yang tertinggal di sabana, bersama kabut yang turun terlalu cepat.

Mungkin gunung memang begini — selalu memberi rasa rindu yang samar, tapi tajam. Dan mungkin itu juga cara alam mengingatkan: bahwa kedamaian nggak pernah permanen. Kadang kamu hanya menemuinya sebentar, di ketinggian, sebelum ia kembali hilang.

Selasa, 14 Oktober 2025 0 comments

am i toxic?

Sometimes I catch myself wondering if I’m toxic. Not because I enjoy hurting people, but because it’s hard for me to believe that anyone could really care about me without a reason. Whenever someone gets too close, I start to tense up. My mind goes on high alert, scanning every word, every silence, every small delay in their reply. It’s like I’m always waiting for proof that I’m not worth staying for. And when I think I see it — even if it’s not really there — I start pulling away. Quietly. Casually. Like disappearing before they can notice I’m gone.

It’s a habit that feels safe but also lonely. Every time someone tries to care, I question it. Every act of kindness feels suspicious, every compliment sounds rehearsed. I don’t know when I started doubting love like this. Maybe it began the first time I trusted someone who left without explanation. Or maybe it’s a mix of all the small heartbreaks that piled up until I stopped expecting people to stay. I built a version of myself that looked independent, strong, self-contained — but it was really just armor. Armor so heavy that even I started believing I didn’t need anyone.

But lately, I’ve been tired. Not the kind of tired that sleep can fix — the kind that sits deep in your chest. I’m tired of my own patterns. Tired of pretending that I don’t care when I do. Tired of pushing people away and then wondering why I feel so isolated. I’m starting to see how I sabotage things before they even have a chance to grow. How I convince myself I’m unlovable just to avoid the risk of being proven wrong later. It’s messed up — this need to control my own heartbreak by starting it early.

Sometimes I think maybe I’m not toxic — maybe I’m just scared. Maybe I’m someone who learned to survive by staying a few steps ahead of pain. But survival isn’t living. I don’t want to keep losing good things just because I’m afraid of losing them. So now I’m trying to slow down. To breathe when I feel the urge to run. To stay when everything in me wants to disappear. It’s not easy. My fear doesn’t vanish overnight. But I guess that’s the point — slow down, but don’t stop.

I’m learning that letting people care about me doesn’t make me weak. It doesn’t make me naive. It just means I’m brave enough to try again — even after the part of me that still flinches every time someone says, “I’m here.” And maybe that’s what healing looks like: staying. Staying long enough to see that not everyone leaves, and that not every kind of love ends in pain.

I think I’m finally learning to live without fighting my own heart.

Maybe the goal isn’t to trust everyone blindly, but to trust myself enough to handle whatever comes. To know that if someone stays, I can let them. And if they leave, I’ll survive.

That’s the peace I’m chasing now — not the absence of pain, but think I’m finally learning to live without fighting my own heart.

Maybe the goal isn’t to trust everyone blindly, but to trust myself enough to handle whatever comes. To know that if someone stays, I can let them. And if they leave, I’ll survive.

That’s the peace I’m chasing now — not the absence of pain, but the presence of gentleness toward myself.

Slow down, but don’t stop.

Keep going, even if the only thing moving is your breath. presence of gentleness toward myself.

Slow down, but don’t stop.

Keep going, even if the only thing moving is your breath.

Rabu, 08 Oktober 2025 0 comments

yang katanya 'surga'

Aku datang jauh dari dasar neraka, berjalan dengan luka di kaki dan sisa bara di dada, berharap di sini aku bisa bernapas lebih lama. Tapi ternyata, udara “surga” ini sama saja — cuma dibungkus lebih halus, diberi aroma bunga dan kata-kata manis agar terasa lebih bisa diterima.

Di sini memang tak sepanas asal usulku. Tak sebrutal dan sefrontal masa laluku. Tapi sisa-sisanya? Sama saja. Manusia tetaplah manusia — gemar menghakimi tapi takut dihakimi, sibuk memperbaiki citra tapi lupa memperbaiki isi kepala.

Racauanku dianggap aneh. Mereka bilang aku terlalu sensitif, terlalu emosional, terlalu... banyak mikir. Tapi kelakuan mereka tak jauh beda denganku. Hanya saja, mereka pandai membungkusnya dengan pakaian yang rapi, senyum yang dibuat-buat, dan doa yang dilafalkan hanya untuk didengar orang lain.

Balutan kulit mereka putih bersih, seolah kesucian bisa diukur dari seberapa terang warna epidermisnya. Tapi kalau kau bongkar sedikit lapisan luarnya, baunya sama. Busuk oleh iri, oleh pura-pura, oleh haus pengakuan.

Di sini, semua berlomba menjadi versi paling suci dari dirinya sendiri — bukan karena ingin berubah, tapi karena takut dibilang hina. Surga macam apa yang isinya orang-orang yang saling mengintip aib, sambil pura-pura mendoakan satu sama lain?

Aku tak tahu apakah aku terlalu rusak untuk tempat ini, atau justru tempat ini yang sebenarnya rusak tapi terlalu pandai berpura-pura utuh. Yang jelas, aku mulai rindu neraka — setidaknya di sana, semua orang jujur tentang betapa panasnya hidup.

Senin, 06 Oktober 2025 0 comments

kata-kata berbahaya

Aku sering heran kenapa orang begitu mudah bicara tentang love language. Seolah-olah cinta bisa diringkas jadi lima kategori rapi seperti di buku pegangan. Padahal bagiku, cinta tidak pernah sesederhana itu. Apalagi kalau sejak kecil aku tidak tumbuh di rumah yang mengenalkan cinta lewat kata-kata.

Karena jujur saja, aku tidak tumbuh di rumah yang penuh kata-kata manis. Aku tidak terbiasa mendengar “aku sayang kamu” di meja makan, atau ucapan “kamu hebat” setiap kali berhasil melakukan sesuatu. Di rumah, cinta bukan lewat kata. Cinta itu dibungkus dalam hal-hal lain: piring nasi yang sudah tersaji, listrik yang tetap menyala, pakaian yang selalu bersih.

Jadi jangan salahkan aku jika kini aku canggung. Aku bukan orang yang pandai mengekspresikan cinta lewat kata. Bagiku, kata itu tipis, rapuh, bisa hilang terbawa angin. Aku lebih percaya pada hal-hal kecil yang kasat mata: memastikan orang lain makan lebih dulu, menyiapkan sesuatu sebelum diminta, atau sekadar diam menemani.

Kadang aku iri juga, pada mereka yang bisa dengan mudah menulis “I love you” sepuluh kali sehari. Pada mereka yang bisa menangis sambil berkata “aku butuh kamu” tanpa malu. Aku? Aku malah membeku, bingung, menelan semua yang ada di dada. Karena di kepalaku selalu ada suara yang berkata: kata-kata itu tak menjamin apa-apa. Kata-kata bisa palsu. Kata-kata bisa menusuk. Kata-kata pernah kupelajari di rumah sebagai sesuatu yang… berbahaya.

Tapi bukan berarti aku tidak bisa mencintai. Aku hanya mencintai dengan caraku sendiri, caraku yang sering kali tidak terlihat. Aku mencintai lewat tindakan-tindakan kecil yang kadang kamu tidak sadar. Lewat perhatian yang tidak pernah aku umumkan. Lewat kehadiran yang mungkin terasa biasa, tapi sebenarnya itu satu-satunya hal yang bisa aku beri.

Dan ya, aku tahu itu kadang menyulitkanmu. Kau menunggu kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutku. Kau menunggu pengakuan yang tidak bisa kuberi. Aku tahu. Tapi percaya atau tidak, cinta itu ada. Ia hanya tidak pandai bicara.

Mungkin, kalau kau cukup sabar, kau akan tahu: cinta versiku bukan dari lidahku, tapi dari segala hal kecil yang diam-diam aku lakukan untukmu.

Minggu, 05 Oktober 2025 0 comments

10k di tangan istri yang tepat

Katanya, sepuluh ribu di tangan istri yang tepat bisa jadi berkat. Kalimat yang sering lewat di beranda media sosialku, biasanya disertai foto tangan perempuan yang sedang menanak nasi atau menyiapkan bekal sederhana untuk suaminya. Terlihat hangat memang, tapi di dunia nyata, sepuluh ribu bahkan sudah tak cukup untuk membeli rasa sabar, apalagi rasa kenyang.

Jajan fotoyu dan kopi ku saja sudah gocap. Itu pun belum termasuk ongkos perasaan setelah sadar saldo e-wallet tinggal seharga parkir motor di mall. Lucu, bagaimana orang masih percaya bahwa cinta dan penghematan bisa mengalahkan logika ekonomi.

Aku sering dengar orang berkata, “Uang bukan segalanya.” Kalimat itu memang terdengar bijak, tapi makin ke sini terdengar seperti candaan yang basi. Benar, uang bukan segalanya — tapi coba hilangkan uang dari hidupmu selama sebulan, nanti kamu akan tahu, bahkan sabun dan gas elpiji pun tak bisa dibayar pakai cinta.

Ada banyak rumah tangga yang tampak baik-baik saja di permukaan, tapi retak halus di dalamnya. Bukan karena kurang cinta, tapi karena terlalu sering menambal hidup dengan harapan tanpa perhitungan. Suami yang bangga bilang, “Aku tidak kaya, tapi aku tanggung jawab.” Padahal tanggung jawab tanpa kesiapan finansial sering kali cuma jadi slogan kosong.

Dan istrinya? Dilarang bekerja. Katanya, cukup di rumah saja, biar suami yang menafkahi. Padahal di balik pintu rumah itu, ada kepala yang nyaris meledak karena memikirkan beras yang menipis, listrik yang belum dibayar, dan kebutuhan anak yang terus bertambah. Combo yang pas untuk menambah peliharaan negara — fakir, miskin, dan yang terlantar — kali ini bukan karena malas, tapi karena sistem yang meninabobokan perempuan dengan kalimat manis bertajuk “surga di telapak kaki istri yang sabar.”

Perempuan diajarkan untuk hemat, untuk pandai mengatur keuangan, meski uangnya tak pernah cukup. Diajarkan untuk tetap tersenyum meski isi dapur sudah hampir kosong. Diajarkan untuk sabar, seolah kesabaran bisa mengganti harga minyak goreng.

Dan ironisnya, yang paling sering bilang “uang bukan segalanya” biasanya adalah mereka yang tak pernah kekurangan. Mereka yang tak perlu menghitung kembalian dari tukang sayur. Mereka yang tidur nyenyak karena tagihannya sudah lunas.

Cinta itu penting, tentu saja. Tapi cinta tanpa arah dan tanpa daya hanya akan membuat dua orang saling menua dalam tekanan. Sepuluh ribu di tangan istri yang tepat? Mungkin bisa jadi berkat — kalau suaminya juga tepat. Tepat pikiran, tepat usaha, dan tepat sadar bahwa cinta tak akan bertahan di perut yang lapar.

 
;