Postingan

saya adalah orang.

Gambar
Akhirnya bisa bilang: ya, aku adalah orang. Istilah setelah keterima ke pekerjaan yang sering dibilang idaman, terutama di mata orang tua dan calon mertua. Status yang katanya bikin hidup lebih aman, lebih jelas arahnya. Thank you big enough for You did! Satu-satu doa yang dulu sempat terucap akhirnya dijawab. Ada lega, ada haru, ada rasa seperti “akhirnya aku sampai juga.” Tapi setelah euforia itu mereda, muncul ruang kosong dalam hati. Pertanyaan yang berbisik: lalu apa? Apakah ini cukup? Apakah ini tujuan? Atau ini hanya sebuah tanda koma, bukan titik? Banyak orang jatuh bukan karena menabrak tembok besar, tapi karena tersandung kerikil kecil di jalan. Dan aku takut. Takut terlena dengan kenyamanan, takut terjebak dalam rutinitas yang membuatku lupa bermimpi lebih jauh. Aku pernah berjuang keras, pernah merasakan getirnya gagal, pernah menangis dalam doa. Maka saat pencapaian ini datang, aku ingin mengingat: jangan biarkan perjuangan berhenti hanya karena status sudah didapat. Lucun...

centang satu.

Hari itu perjalanan terakhirku dari Jakarta ke Cikarang. Perasaanku campur aduk antara senang dan sedih. Senang karena bisa mengobrol dengan kawan lama, dan sedih karena mungkin aku tidak akan bisa bertemu lagi dalam waktu dekat atau bisa saja tidak akan bertemu lagi selamanya. Perjalanan dengan sisa baterai handphone di bawah 20% lumayan membuatku cukup ngeri. Aku harus menghematnya agar bisa keluar dari stasiun. Belum lagi aku perlu memesan ojek online. Aku tak memakainya sama sekali setelah masuk ke kereta. Sepanjang perjalanan aku banyak dibuat berpikir. Malam itu suasana cukup ramai. Apalagi rintik hujan tak berhenti sejak sore hari. Keluarga kecil yang nampak bahagia menyelesaikan perjalanan mereka—lengkap dengan anak yang tertidur di pangkuan ibunya, ayah yang repot menenteng belanjaan. Aku diam-diam mencuri pandang. Apa aku boleh bermimpi membuat keluarga kecilku seperti mereka? Aku menatap ke luar jendela kereta, lampu-lampu jalan berlarian mundur. Pertanyaan itu terasa menamp...

ketika manusia bodoh berkumpul

Gambar
Sebenarnya obrolan ini sering terjadi diantara kami. Terakhir menghabiskan waktu 6 jam lebih untuk saling berkabar. Obrolan yang awal mula hanya saling menanyakan kabar berujung saling adu nasib dan menertawakan kebodohan kami masing-masing. Seusai long weekend, ia bercerita panjang tentang hts-nya. Bukan untuk yang pertama kali karena jujur saja aku sudah cukup muak untuk mendengarkannya. Dua orang yang saling menyayangi tapi tak ada yang berani untuk melangkah. Ya, itulah premisnya. Kisah cinta semua orang terdengar mulus di telingaku. Rasa cinta tumbuh begitu saja dan mereka melenggang ke hubungan yang lebih jauh. Halangannya paling mbak-mbak lc dan jarak. Tidak ada terhalang agama yang berbeda, restu orang tua, atau adat. Terlihat mudah tapi aku merasa sulit untuk menjalaninya. Cerita yang sudah orang lain alami bisa jadi pelajaran berharga buatku. Awal mula aku merasa tak punya value apa-apa sehingga orang lain perlu memperjuangkanku. Tapi lama kelamaan setelah bertemu...

ruang berbagi

Jumat siang yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Tak seperti biasanya aku bisa duduk di coffee shop di jam dan hari kerja seperti ini. Ada rasa canggung yang pertama kali muncul, tapi juga ada rasa ingin tahu yang sulit kujelaskan. Mungkin inilah awal mula aku membuka diri kepadamu—atau lebih tepatnya, awal mula aku mencoba membuka diri pada sesuatu yang selama ini selalu kutolak: kemungkinan untuk benar-benar dikenal. Aku duduk, menatap secangkir kopi yang mengepul pelan. Rasanya aneh. Biasanya aku terburu-buru, dikejar jam, dikejar kewajiban, dikejar standar yang entah siapa yang menetapkan. Tapi kali ini aku justru diam, menunggu. Menunggu percakapan, menunggu kata-kata, menunggu keberanian untuk berkata: aku ingin mengenal lebih jauh.  Ada yang berubah. Entah di diriku, entah di sekelilingku. Ruang yang biasanya kupenuhi dengan pertanyaan, dengan rasa takut, kini pelan-pelan menjadi ruang berbagi. Ruang yang tidak lagi hanya dipenuhi omongan orang tentang siapa aku, kapan a...

saat itu tiba.

Aku tak asing dengan situasi ini. Dua orang perempuan yang saling bicara tanpa ada rasa tak enak dan yang ditutupi. Semua mengalir begitu saja tanpa ada basa-basi kita bisa tahu bagaimana suasana hati lawan bicara kita. Tanpa sentuhan tapi setiap kata yang keluar dari mulut kita benar-benar didengarkan terlebih dahulu baru opini keras yang menampar dilontarkan namun tak ada sakit hati atau apapun itu. Dulu setiap Mak Wah datang, ibu akan selalu begadang di malam pertama. Bukan untuk mengerjakan sesuatu tapi mereka terus bicara tanpa henti. Meski sudah berbaring di atas kasur dan berbeda kamar, suara mereka masih terdengar semalaman. Aku kadang tak paham apa yang mereka bicarakan. Kadang mereka bicara tentang tingkah aneh tetangga mereka dulu, mengenang orang-orang yang mereka kenal, atau tentang apapun itu sampai salah satu diantara mereka tertidur. Esok harinya, dimanapun ada ibuk disitu juga pasti ada Mak Wah yang masih dengan ceritanya atau sebaliknya. Dalam hatiku, apa aku bisa sep...

semua karena bacotmu yang jahat.

"Janji ga marah?" "Iya, emang kenapa dulu tapi?" Aku hanya tertawa mendengar cerita dari Ibuk. Bingung saja harus merespon bagaimana. Apa aku perlu mengirim kue ke rumahmu untuk ucapan terima kasih? Atau aku harus bagaimana?  Gimana aku bisa marah? Katamu aku bisa kesana karena kamu memintakan doa ke 'orang pintar'. Terus, bagaimana dengan doa orang-orang yang memang tulus mendoakanku tanpa aku minta? Bagaimana dengan usaha belajarku siang dan malam sampai aku mengurangi waktu tidur, scroll, dan nongkrongku? Bagaimana dengan kursus online dan try out berbayar yang kuusahakan agar hidupku lebih baik dari hari ini? Apa Tuhan hanya mendengar doa dari 'orang pintar' mu itu saja?  Tapi kalau di tarik mundur jauh ke belakang, apa yang bisa aku capai sampai sekarang ini memang karena bacotmu yang jahat. Omonganmu memang jadi bahan bakarku untuk hidup lebih baik darimu tanpa meminta bantuan dari orang lain. Hinaanmu jadi semangatku untuk belajar lebih giat, ...

sempurna saja tak cukup.

Entah mengapa aku selalu merasa tak pernah pantas menjadi “aku”. Aku memang biasa saja, belum punya banyak pencapaian seperti orang lain, namun aku merasa menjadi “aku” benar-benar tak ada beban dan aku tak pantas seperti ini. Rasa damai yang ku damba kini terjadi walau aku ada di kamar kost yang kecil. Rasa tenang yang ku ingin ada walau kehilangan beberapa orang rasanya tak mengenakan. Tapi menjadi “aku” tak pernah ku bayangkan seberat ini sebelumnya. Orang kira tanyaku ini sekadar keluhan. Orang kira ini sekadar drama. Padahal ini bukan sekadar bertanya pada hidup, tapi bertanya pada diriku sendiri. Tentang kenapa aku selalu merasa harus mengejar sesuatu agar dianggap layak, tentang kenapa aku merasa tak pernah cukup meski sudah berusaha jadi versi terbaik. Sempurna saja ternyata tidak cukup. Tidak cukup untuk menenangkan omongan orang yang selalu punya standar mereka sendiri. Tidak cukup untuk membuat mereka berhenti menilai kenapa aku belum menikah, kenapa aku belum punya ini, bel...