Postingan

the romantic part of my life is just beginning.

Aku duduk di coffeeshop yang baristanya sudah hafal pesananku. Tanpa banyak kata, aku membayar dan duduk di tempat biasanya. Usai menelepon, aku memutar album baru Hindia yang belom aku dengarkan semuanya. Walau puasa, tempat ini tetap ramai dengan orang-orang sibuk yang mengadakan meeting di luar kantor. Tak lama hujan turun. Aku hanya bisa mendengarkan suara Baskara, samar rintik hujan dan omongan tak jelas orang-orang yang mengomongkan topik yang menurut mereka penting. Detik itu aku merasa seperti di dalam film. Dibayanganku, aku seperti Bella Swan yang sedang duduk di depan jendela besar. Kamera berputar mengelilingiku, menangkap ekspresiku yang sebenarnya biasa saja tapi tak tahu detik itu aku merasa senang saja. Speed diperlambat sekian milidetik. Soundtrack hindia, everything you are sayup mulai terdengar. The romantic part of my life is just beginning . Satu persatu doaku tembus ke langit. Aku takut perayaan ini terlalu cepat. Aku takut salah menangkap perasaanmu. Aku takut p...

tanpa perayaan.

Ada yang sibuk merayakan pencapaiannya padahal di sudut lain ada yang menderita karena ketidakpekaannya. Aku tidak menyalahkan siapapun atas kegagalan yang selama ini merongrongku. Aku tak merengek walau dunia selalu tak sejalan denganku. Aku tak minta banyak bantuan untuk melangkah walau kakiku telah koyak. Aku terus berlari menggunakannya meski aku tahu, tak mungkin aku dapat melakukannya. Selamaku hidup, poros semesta berputar padamu. Sebanyak apapun usaha yang kuberikan, rasanya tak pernah cukup di matanya. Aku yang bernomor punggung dua, tetap tak pernah menjadi prioritas. Tetap namanya yang terpatri menjadi nomor satu meski yang ia beri tak lebih dari yang ia terima. Ia sibuk menyuapi egonya sendiri dan menganggap semua telah cukup. Aku tahu aku juga tak pernah lebih darinya tapi dari sedikit yang aku punya, tetap ku coba untuk memprioritaskan kepada yang seharusnya. Suaraku tak pernah lebih lantang. Semua harus berada di bawahnya tanpa semua sadari. Apapun yang terjadi meski kam...

dilarang jujur di proyek

Gambar
Ada aturan sederhana tapi sakral di sini: dilarang jujur di proyek! Jangan coba-coba. Jujur itu sama saja menggali lubang kuburmu sendiri, lalu orang-orang akan dengan senang hati menimbunmu hidup-hidup. Di sini, jujur bukanlah nilai, melainkan penyakit. Orang yang jujur dianggap bodoh, naif, dan tidak tahu diri. Aku sudah terlalu sering jadi saksi bisu kebusukan mereka. WhatsApp penuh perempuan muda yang haus perhatian, panggilan video mesra dengan istri sah di rumah sambil tangan sibuk meraba LC di samping. Ajaib, bukan? Dua dunia berjalan bersamaan tanpa rasa bersalah. Satu demi satu wajah mereka kuingat, bukan karena kagum, tapi karena jijik. Awalnya aku kira hanya oknum. Tapi semakin lama, semakin jelas bahwa sistem ini memang dibangun dari kebohongan. Satu dari ratusan mungkin bisa dipercaya, sisanya? Ya, pelatih semua. Kejahatan yang belum mereka coba mungkin cuma membunuh. Dan aku kadang bingung, apakah itu karena mereka belum ada kesempatan, atau karena memang jadwalnya belum ...

semua yang kulihat seperti film fiksi yang tidak benaran terjadi.

Aku kembali dari perjalanan yang pernah kubayangkan tapi tak pernah aku harapkan datang secepat ini. Malam itu semua berjalan seperti biasa. Video call dari orang rumah menemani makan malamku. Aku ingat hari itu aku gofood ayam madura dari kantor yang sempat aku tawarkan kepadamu yang sudah terbaring lemah. Namun aku tak pernah tahu kalau itu makanan terakhir yang aku tawarkan kepadamu. Kamu mungkin sudah sadar akan ada hari ini sebelumnya namun sikapku masih saja dingin tak tahu apa-apa. Sehari sebelum Natal sampai aku kembali dari libur Tahun Baru Islam sikapku masih acuh tak acuh kepadamu. Syukurnya, aku masih sempat membelikan kurma terakhir untukmu dan semangkuk bubur Ta-wan yang sudah kamu minta sebelum kamu sampai di Semarang. Ibu bahkan sudah mewanti-wanti untuk menuruti semua pintamu agar tak ada penyesalan bila ini menjadi permintaan terakhirmu. Ternyata yang dibilang Ibu, benar terjadi. Semua seperti mimpi yang sampai sekarang masih belum aku cerna dengan baik. Perasaanku ya...

apa ini bahagia yang sebenarnya aku cari atau aku bahagia karena melihat mereka bahagia?

Malam-malam setelah pengumuman pra sanggah, pikiranku malah berkelana entah kemana. Sekian lama aku menantikan namaku ada di peringkat teratas tapi setelah terjadi aku malah meragu. Apa ini benar-benar yang aku mau? Apa aku akan bahagia menjalaninya? Perjalanan ini sudah kumulai sedekade lalu. Tahun demi tahun aku hanya bisa menelan kecewa. Usaha yang aku lakukan, doa yang aku panjatkan, dan harapan orang tua yang setinggi langit seolah hancur ketika pengumuman akhir berkumandang. Jujur, aku tak tahu apa yang sebenarnya harus ku perbuat. Sedari awal, aku hanya mengikuti semua sabdanya, "Semua akan baik sampai kamu mati jika kamu berada disana." Aku tak bisa melawan. Aku menjadikan ini event tahunan yang harus aku lalui walau akan berakhir dengan kekecewaan mereka. Lambat laun aku mulai terbiasa. Aku mulai merasa kecewa mereka hanya sementara dan kemudian aku melanjutkan hidup yang aku pilih sendiri. Pikirku aku akan melalui ini lima kali lagi. Lalu aku bisa menggambar sesuatu...

selalu ada cerita tentangmu dan namamu yang selalu ada di belakangku.

Seandainya Bapak tahu, ini adalah cerita tentang kita. Cerita yang kebanyakan orang tidak tahu atau bisa saja Bapak tidak pernah tahu juga. Sepanjang aku hidup tiga puluh tahun ini sepertinya tak sampai setengahnya aku bersamamu. Kita seperti sebuah obyek yang sedang bercermin. Beberapa hal kita memang mirip. Gengsi kita terlalu tinggi ya, Pak tapi kita malu untuk mengakuinya. Keras kepala kita sama, rasanya tak ada yang mengalahkannya. Cuma manusia-manusia yang dengan kadar sabarnya luar biasa yang bisa mengerti itu. Aku tahu Bapak sayang aku, begitupun aku tapi cara komunikasi kita memang berbeda. Aku dengan nadaku yang meledak-ledak dan Bapak dengan mode senyapnya.  Dulu aku sering berujar kalau aku bisa memilih, aku lebih ingin jadi keponakanmu bukan jadi anakmu seperti sekarang. Aku tarik ucapanku itu ya, Pak. Sepertinya jadi keponakanmu jauh lebih tak enak karena harus membenci anak-anakmu yang terlalu memelukmu erat. Belum lagi mereka tak bisa benar-benar memilikimu. Walau k...

double shoot

Menghilang memang jadi salah satu defend mechanism yang paling aku kuasai. Tak ada seorangpun yang bisa mendebatnya. Tampak luar aku bisa terlihat tenang, tak punya beban masalah apapun, namun semua badai muncul menemani tiap malam. Bodohnya, aku masih menambah amunisi dengan segelas coffee aren latte dengan double shoot. Benar sajakan. Seolah rasa pahitnya bisa menutupi getir di kepala, padahal cuma menambah jantung berdebar, mata terjaga, dan pikiran makin liar ke mana-mana. Ironis, aku membayar untuk menyiksa diri sendiri. Katanya orang-orang bijak, “lari tidak akan menyelesaikan masalah.” Tapi kalau aku diam, apa masalahnya akan menyelesaikan aku? Mana yang lebih dulu: aku hancur atau masalahku hilang? Sialnya, aku sudah terbiasa jadi orang yang pura-pura kuat di depan semua orang, padahal kenyataannya aku sudah lama kalah dalam peperangan di dalam kepala sendiri. Lucunya, semua orang masih percaya. Mereka lihat aku tertawa, mereka lihat aku update story, mereka lihat aku minum kop...