selalu ada cerita tentangmu dan namamu yang selalu ada di belakangku.

Seandainya Bapak tahu, ini adalah cerita tentang kita. Cerita yang kebanyakan orang tidak tahu atau bisa saja Bapak tidak pernah tahu juga. Sepanjang aku hidup tiga puluh tahun ini sepertinya tak sampai setengahnya aku bersamamu. Kita seperti sebuah obyek yang sedang bercermin. Beberapa hal kita memang mirip. Gengsi kita terlalu tinggi ya, Pak tapi kita malu untuk mengakuinya. Keras kepala kita sama, rasanya tak ada yang mengalahkannya. Cuma manusia-manusia yang dengan kadar sabarnya luar biasa yang bisa mengerti itu. Aku tahu Bapak sayang aku, begitupun aku tapi cara komunikasi kita memang berbeda. Aku dengan nadaku yang meledak-ledak dan Bapak dengan mode senyapnya. 

Dulu aku sering berujar kalau aku bisa memilih, aku lebih ingin jadi keponakanmu bukan jadi anakmu seperti sekarang. Aku tarik ucapanku itu ya, Pak. Sepertinya jadi keponakanmu jauh lebih tak enak karena harus membenci anak-anakmu yang terlalu memelukmu erat. Belum lagi mereka tak bisa benar-benar memilikimu. Walau kami sama-sama menikmati jerih payahmu rasanya mereka tak bisa mengertimu.

Aku ingat betul, pernah masuk rumah sakit karena gejala tipes dan cuma mau makan nanti nunggu Bapak. Hal-hal yang menurut mereka tidak penting, justru aku ingin, Pak. Aku ingin buku raporku ada tanda tanganmu, pergi dan pulang sekolah di jemput Bapak, atau belajar naik motor sama Bapak. Sepertinya masa kecilku hanya penuh cerita tentangmu saja. Yang aku tahu, Bapak harus kerja jauh biar aku tetap bisa sekolah. Kenyataannya semua bukan tentang aku tapi tentang banyak orang yang perlu Bapak.

Dulu aku merasa selalu jadi yang nomor sekian. Tak pernah ada nasehat atau arahan apapun tapi tuntutan untuk menjadi yang nomor satu selalu hadir. Ketika aku menuntut balik, tak pernah ada tanggapan. Awalnya aku masih berprasangka baik. Mungkin memang sedang tak ada atau aku yang terlalu banyak mau. Sampai dimana cita-citaku harus mengalah dengan kebutuhan keponakanmu, aku cukup menyimpan banyak luka. Ragamu sudah lama pergi dan ternyata bersama jiwamu juga. Semua yang sudah kuusahakan ternyata bertepuk sebelah tangan. Keringatku tak terbayarkan.

Aku sadar, setiap gerakku selalu dicaci. Semua yang aku lakukan selalu tak berarti dimata keponakanmu. Padahal setauku, aku jauh lebih unggul dibanding mereka. Aku sama sekali tak mengecewakanmu. Aku selalu berusaha sebaik mungkin tentang apa yang aku jalani. Aku menerima semuanya tapi tetap saja hatiku terluka.

Pak, aku lelah selalu menjadi tokoh antagonis disetiap cerita keponakanmu. Aku dengar semua ocehan mereka tentangku. Tak apa kalau hanya aku yang menjadi bahan tapi kalau itu tentangmu, apa aku harus tetap diam? Apa itu pantas? Apa itu cara mereka membalas budi?

Aku memang tak tahu apa yang ada dipikiranmu atau apa yang jadi niatmu. Tapi kurasa mereka yang Bapak prioritaskan tidak tahu diri. Setelah semua Bapak usahakan, mereka tidak  berusaha untuk dirinya sendiri apalagi untuk Bapak. Di kepala mereka, Bapak akan meladeni mereka seumur hidup Bapak. Mereka sudah bukan anak kecil yang tak bisa mencari makan sendiri.

Ada banyak hal yang sebenarnya yang ingin aku katakan dan tanyakan. Tapi aku sudah terlalu terluka dengan masa lalu. Sudah ya, pak. Sekarang sudah waktunya Bapak beristirahat. Aku sudah bisa sedikit bahagiakan Bapak. Bukan kewajiban Bapak untuk memenuhi kebutuhan semua orang.

Aku sudah maafkan Bapak walau kata itu tak pernah aku dapat setelah sedekade aku banyak belajar dari orang-orang jalanan. Rasanya selama ini kepahitan yang merusak jiwaku dari dalam. Semua yang kupendam dan kubawa kemanapun menjadi beban   sehingga aku tak bisa berlari.

Sudah, ya Pak. Sudah waktunya Bapak memikirkan diri Bapak sendiri, memprioritaskan kebahagian yang selama ini belum sepenuhnya Bapak rasakan. Kalau mereka tak bisa membalas budi, abaikan saja. Cukup doakan yang terbaik untuk mereka dan aku yang akan memberikan sedikit bahagia buat Bapak.

Kita buat cerita tentang kita, Pak. Kelak aku juga ingin seperti teman-temanku yang punya banyak waktu dan cerita dengan Bapaknya. Bukan setidaknya ada cerita tentang kita melainkan akan selalu ada cerita tentangmu dan namamu yang selalu ada di belakangku. Terimakasih Bapak. 

Postingan populer dari blog ini

orang hanya percaya dengan apa yang mereka lihat

seharusnya kamu bahagia kalau aku tidak mengganggumu (lagi)

apa aku boleh bahagia?