Ada aturan sederhana tapi sakral di sini: dilarang jujur di proyek! Jangan coba-coba. Jujur itu sama saja menggali lubang kuburmu sendiri, lalu orang-orang akan dengan senang hati menimbunmu hidup-hidup. Di sini, jujur bukanlah nilai, melainkan penyakit. Orang yang jujur dianggap bodoh, naif, dan tidak tahu diri.
Aku sudah terlalu sering jadi saksi bisu kebusukan mereka. WhatsApp penuh perempuan muda yang haus perhatian, panggilan video mesra dengan istri sah di rumah sambil tangan sibuk meraba LC di samping. Ajaib, bukan? Dua dunia berjalan bersamaan tanpa rasa bersalah. Satu demi satu wajah mereka kuingat, bukan karena kagum, tapi karena jijik.
Awalnya aku kira hanya oknum. Tapi semakin lama, semakin jelas bahwa sistem ini memang dibangun dari kebohongan. Satu dari ratusan mungkin bisa dipercaya, sisanya? Ya, pelatih semua. Kejahatan yang belum mereka coba mungkin cuma membunuh. Dan aku kadang bingung, apakah itu karena mereka belum ada kesempatan, atau karena memang jadwalnya belum masuk agenda.
Aku sudah mencoba segala cara untuk keluar. Kuliah lagi, mencoba memulai hidup baru, bahkan sempat terpikir menikah biar punya alasan lari. Tapi setiap pintu yang kubuka, tetap saja temboknya sama: dunia ini busuk, dan aku masih terjebak di dalamnya.
Di proyek, kebenaran itu bukan untuk diucapkan. Kalau ada kebocoran, semua serentak “tidak tahu.” Kalau ada masalah, semua mendadak bisu dan buta huruf. Tapi giliran bagi-bagi jatah, entah bagaimana semua jadi jenius matematika hingga pecahan terkecil tak terlewat.
Aku pernah iseng bicara apa adanya. Hasilnya? Aku diperlakukan seperti virus. Tugas dipersulit, kesalahan dicari-cari, gosip murahan disebarkan. Semua hanya karena aku membuka mulut. Di sini, terlalu jujur sama saja dengan bunuh diri sosial.
Seorang senior pernah berkata padaku sambil tertawa hambar: "Kalau kau mau selamat, belajar pura-pura. Jangan jujur. Simpan saja untuk dirimu." Dan aku sadar, itulah inti dari proyek ini. Bukan soal bangunan yang berdiri, tapi soal kebohongan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan mungkin, memang itu doa terbaik untuk proyek ini: semoga runtuh sebelum selesai, semoga roboh menimpa para pelakunya sendiri, semoga jadi monumen busuk dari kebohongan yang mereka pelihara. Kalau dunia memang butuh korban, biarlah mereka tenggelam bersama bangunan yang mereka dirikan atas dasar dusta.
Karena jujur dilarang di sini, maka biarlah kebohongan jadi pusarannya. Aku hanya berharap satu hal: ketika semuanya hancur, jangan ada yang selamat.


