semua yang kulihat seperti film fiksi yang tidak benaran terjadi.
Aku kembali dari perjalanan yang pernah kubayangkan tapi tak pernah aku harapkan datang secepat ini. Malam itu semua berjalan seperti biasa. Video call dari orang rumah menemani makan malamku. Aku ingat hari itu aku gofood ayam madura dari kantor yang sempat aku tawarkan kepadamu yang sudah terbaring lemah. Namun aku tak pernah tahu kalau itu makanan terakhir yang aku tawarkan kepadamu.
Kamu mungkin sudah sadar akan ada hari ini sebelumnya namun sikapku masih saja dingin tak tahu apa-apa. Sehari sebelum Natal sampai aku kembali dari libur Tahun Baru Islam sikapku masih acuh tak acuh kepadamu. Syukurnya, aku masih sempat membelikan kurma terakhir untukmu dan semangkuk bubur Ta-wan yang sudah kamu minta sebelum kamu sampai di Semarang. Ibu bahkan sudah mewanti-wanti untuk menuruti semua pintamu agar tak ada penyesalan bila ini menjadi permintaan terakhirmu.
Ternyata yang dibilang Ibu, benar terjadi. Semua seperti mimpi yang sampai sekarang masih belum aku cerna dengan baik. Perasaanku yang seharusnya bersedih masih belum percaya kalau ini benar terjadi. Air mataku malu-malu untuk terjatuh. Sampai banyak pertanyaan datang ke dalam benakku, "Apa aku tidak berhak mendapat kebahagiaan ini sampai setiap aku berbahagia aku tak boleh mengajak orang sekitarku untuk berbahagia juga?" Pertanyaan itu tak hanya aku saja yang rasa. Orang sekitarku juga merasakannya.
Datang sampai ke kotamu berada, air mata tak kunjung datang juga. Lagu Kenanglah Aku milik band Naff lirih mengiringi perjalanan dari stasiun ke rumah. Penumpang di sebelahku kembali terisak, aku hanya termenung berpikir apa yang seharusnya aku lakukan. Di rumah, kursi-kursi biru itu sudah tertata di depan rumah. Karpet sudah melapisi setiap jengkal ruangan. Aku menyelonong masuk, memeluk Ibu.
Usai adzan subuh berkumandang, namamu ikut diumumkan. Perasaanku masih biasa saja. Di kepalaku masih tidak terjadi apa-apa. Selesai sarapan nasi bungkus, aku ke pasar mencari beberapa sayuran untuk di buat urap untuk dibagikan ke tetangga. Di rumah sudah kembali ramai, Bu Nyai sudah bersiap memandikanmu. Aku dan Ibu ikut membantu walau kami tidak tahu bagaimana tahapannya sama sekali. Aku hanya ikut instruksi Bu Nyai yang menyuruhku mengambilkan kain dan handuk. Sisanya aku ikut ucapannya.
Orang-orang berbondong ikut menyaksikan tubuhmu yang dingin kembali menyatu dengan tanah. Bau pandan dan melati jadi parfum terakhirmu. Padahal belum sampai setahun lalu, hidungku akrab dengan ini. Hari-hari orang datang untuk mendoakanmu dan ikut berduka. Aku sibuk di belakang untuk menyiapkan jamuan. Tubuhku lelah tapi lebih baik seperti ini sebagai tanda hormatku untukmu. Aku masih merasa dirimu tidur di kamar seperti biasanya. Kadang aku rindu dirimu yang selalu penasaran dengan apa yang aku masak lalu mencicipi duluan walau aku belum selesai memasaknya.
Semua yang kulihat seperti film fiksi yang tidak benaran terjadi. Kepalaku masih berusaha mencerna semua ini. Entah apa yang orang pikirkan tentangku tapi aku tak mau menyangkal perasaanku yang sedang bersedih. Diam di dalam kamar sendirian nyatanya tak membuat air mataku jatuh juga. Aku hanya lelah dan tidur seharian. Semoga bom waktu ini tak benar-benar meledak di kemudian hari.