double shoot

Menghilang memang jadi salah satu defend mechanism yang paling aku kuasai. Tak ada seorangpun yang bisa mendebatnya. Tampak luar aku bisa terlihat tenang, tak punya beban masalah apapun, namun semua badai muncul menemani tiap malam.

Bodohnya, aku masih menambah amunisi dengan segelas coffee aren latte dengan double shoot. Benar sajakan. Seolah rasa pahitnya bisa menutupi getir di kepala, padahal cuma menambah jantung berdebar, mata terjaga, dan pikiran makin liar ke mana-mana. Ironis, aku membayar untuk menyiksa diri sendiri.

Katanya orang-orang bijak, “lari tidak akan menyelesaikan masalah.” Tapi kalau aku diam, apa masalahnya akan menyelesaikan aku? Mana yang lebih dulu: aku hancur atau masalahku hilang? Sialnya, aku sudah terbiasa jadi orang yang pura-pura kuat di depan semua orang, padahal kenyataannya aku sudah lama kalah dalam peperangan di dalam kepala sendiri.

Lucunya, semua orang masih percaya. Mereka lihat aku tertawa, mereka lihat aku update story, mereka lihat aku minum kopi manis di gelas cantik—padahal di baliknya aku sedang menghitung sisa napas, berharap tidak terlalu panjang umur.

Aku ingin berhenti. Berhenti dari semua basa-basi, berhenti dari semua pura-pura, berhenti dari semua pertanyaan “kamu baik-baik aja?” yang bahkan mereka sendiri malas dengar jawabannya.

Tapi aku masih di sini. Dengan double shoot yang kucari-cari, dengan rasa pahit yang kuanggap sahabat, dengan malam-malam yang selalu jadi saksi betapa kacaunya kepala ini.

Dan sekarang aku cuma bertanya pada diri sendiri, sambil menatap gelas kosong:

Apakah aku sedang mencoba bertahan hidup… atau cuma sedang memperlambat cara bunuh diri yang paling sopan?

Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes