Ada yang sibuk merayakan pencapaiannya padahal di sudut lain ada yang menderita karena ketidakpekaannya. Aku tidak menyalahkan siapapun atas kegagalan yang selama ini merongrongku. Aku tak merengek walau dunia selalu tak sejalan denganku. Aku tak minta banyak bantuan untuk melangkah walau kakiku telah koyak. Aku terus berlari menggunakannya meski aku tahu, tak mungkin aku dapat melakukannya.
Selamaku hidup, poros semesta berputar padamu. Sebanyak apapun usaha yang kuberikan, rasanya tak pernah cukup di matanya. Aku yang bernomor punggung dua, tetap tak pernah menjadi prioritas. Tetap namanya yang terpatri menjadi nomor satu meski yang ia beri tak lebih dari yang ia terima. Ia sibuk menyuapi egonya sendiri dan menganggap semua telah cukup. Aku tahu aku juga tak pernah lebih darinya tapi dari sedikit yang aku punya, tetap ku coba untuk memprioritaskan kepada yang seharusnya.
Suaraku tak pernah lebih lantang. Semua harus berada di bawahnya tanpa semua sadari. Apapun yang terjadi meski kamu lebih baik, kamu tak boleh lebih darinya. Itu adalah peraturan tak tertulis namun wajib ditaati apapun yang terjadi.
Dan aku lelah. Lelah menjadi bayangan yang dipaksa untuk tetap redup agar cahaya palsunya terlihat lebih terang. Lelah menahan diri agar tidak melangkah lebih jauh hanya karena takut menyalahi aturan yang bahkan tidak pernah aku buat. Ada kalanya aku ingin berhenti, melepaskan nomor di punggungku, dan berjalan pelan dengan kakiku yang koyak—tanpa lagi berlomba, tanpa lagi mengukur diriku dengan dia.
Karena bukankah hidup seharusnya bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai, tapi bagaimana kau tetap bisa bernapas setelah semua luka? Aku ingin percaya bahwa suatu hari, meski aku selalu nomor dua di matanya, aku bisa jadi nomor satu di mataku sendiri.

