Postingan

diam bukan berarti tanpa luka.

Tidak ada yang benar-benar biasa saja. Setiap keluarga menderita dengan porsinya masing-masing, hanya cara menutupinya yang berbeda. Ada yang menutup rapat dengan doa, ada yang menertawakannya sampai lelah, ada juga yang memilih diam dan menganggap semua baik-baik saja. Tapi luka tetap ada, meski dibungkus dengan rapi. Mungkin itulah mengapa orang kadang merasa berhak tahu. Mereka mengira ikut campur bisa memperbaiki keadaan, padahal sering kali justru menambah runyam. Ada batas tipis antara peduli dan mencampuri, antara perhatian dan mengorek-ngorek. Orang sering lupa bahwa ada hal-hal yang memang tidak perlu diketahui. Tidak semua cerita harus dibongkar, tidak semua luka harus dipertontonkan. Tapi kalau sesuatu itu melibatkan kita, tidak adil rasanya jika justru kita yang tidak diberi tahu. Dan di tengah semua itu, ada orang-orang yang memilih diam. Yang tak banyak cerita biasanya punya kepekaan lebih. Mereka terbiasa membaca tanda, menangkap sinyal yang tidak terucap. Mereka tahu ...

perjalanan (kembali) mencari rumah

Badai kembali datang. Aku yang sadar kakiku penuh lumpur berlari menerjang badai ke teras di ujung jalan yang gelap. Temaram lampu kuning yang terkadang berkedip menjadi satu-satunya hiasan di teras yang penuh debu. Aku segera membersihkan kakiku dari debu sebelum menginjakan kaki ke lantai teras berlapis kayu coklat tua. Pemandangan ini seperti tak asing buatku tapi aku yang sudah terlalu lelah tak menghiraukannya. Usai kakiku bersih, aku duduk di teras itu. Debunya belum terlalu tebal, mungkin belum terlalu lama di tinggalkan. Tapi rumput di halaman depan sudah mulai meninggi. Pot bunga yang berjajar di pinggir teras juga berantakan. Tak terasa hujan mulai rintik. Dari kejauhan cahaya putih datang menghampiri. Sepertinya pemilik rumah datang. Ia turun dari mobil bagusnya. Payung hitam menutup setengah wajahnya sehingga aku tak terlalu melihat wajahnya. Aku sudah menyiapkan senyum dan menyusun permohonan maaf untuknya. Benar, belum sempat aku berucap wajahnya nampak dari balik payung....

semoga aku hilang dalam tidurku.

Hari-hari ini cepat berlalu. Rutinitas membosankan dan hati yang kosong menjadi teman. Mungkin minggu ini aku tak bicara lebih dari lima puluh ribu kata. Aku terlalu banyak diam dan memendam pikiranku. Rumah nampaknya masih sepi. Semua seolah membeku bersama dengan topik pindah rumah yang aku lontarkan. Tak apa aku kembali menjadi tokoh antagonis tapi mengapa selalu aku? Semua yang ada di kepalaku seolah salah. Bahkan ketika aku berusaha jujur, hasilnya tetap saja dianggap salah. Rasanya seperti hidup di ruang sidang tanpa hakim, hanya penuh jaksa yang menunggu celah untuk menuding. Kadang aku berpikir, mungkin benar: diam adalah bentuk perlindungan terakhir. Kalau aku tak bersuara, tak ada yang bisa mereka salahkan. Tapi anehnya, bahkan diam pun bisa ditafsirkan macam-macam. Mereka bilang aku dingin, egois, terlalu jauh, terlalu sulit dimengerti. Padahal aku hanya berusaha tidak hancur di depan mereka. Aku bosan jadi pemeran sampingan di cerita orang lain. Bosan jadi “masalah” hanya k...

aku dan keruwetan kepalaku.

Bukan kamu orang pertama yang mengomentariku seperti itu. Telingaku sudah biasa menerimanya. Mulutku juga hanya bisa terkatup. Aku memilih untuk tidak melawan karena memang begitu adanya. Ruwet. Aku terbiasa terlihat baik-baik saja, gampang mengumbar senyum, tertawa tiap guyon receh yang orang lontarkan. Pokoknya aku bisa bersikap asyik ke semua orang. Aku seorang pendengar yang baik. Apa saja masalahmu mau dari percintaan, orang tua, perekonomian, sampai politik aku siap mendengar. Setiap kali kamu menelepon, aku akan angkat sekalipun aku berada di tengah badai. Kalaupun aku terlewat, aku akan segera meneleponmu balik atau mengirim pesan agar kamu tak kepikiran. Tapi, mungkin cerita tentangku akan sangat sedikit. Semua yang berenang di kepalaku terlalu sulit untuk kuterjemahkan. Setiap kata yang mau kuucap seakan percuma. Aku tak pernah melihat kalian antusias mendengarkan ceritaku. Entah karena lidahku yang belibet atau memang ceritaku tak sebanding dengan milikmu. Kadang aku juga me...

aku tolol, ya.

Ga tau lagi kenapa kepalaku penuh dengan kamu. Padahal setelah pertemuan sebelumnya aku sudah berjanji untuk tidak memikirkanmu dan menghilang. Tapi kamu menghancurkan seenaknya. Semua hal yang kulakukan kemarin seolah percuma. Kamu tahu aku. Mulutku selalu sulit untuk menolak ajakanmu apalagi kalau sudah ada namamu di notifikasiku. Beberapa hari ini aku menunggu notifikasi darimu lagi. Aku tolol, ya. Aku juga ga tau kenapa aku melakukannya. Semua terjadi begitu saja. Aku tahu diri. Aku sadar posisi. Tapi kalau memang kamu yang aku suka, aku bisa apa? Iya, kamu sudah ada dia. Aku tahu tembok kita juga terlalu tinggi. Semua tak mungkin terjadi. Tapi beri aku waktu untuk melepaskan semuanya perlahan. Semua terlalu cepat, sampai aku tak sempat untuk mencernanya. Di pikiranku, aku yang memang tidak pantas untuk menerima kebaikanmu. Aku memang tidak layak untuk mencicipi bahagia dari orang lain. Sampai aku mengira kalau kamu orang yang aku tunggu untuk melepas dahagaku. Sebentar kamu menena...

dari balik bahu

Gambar
De javu. Peristiwa semalam seperti mengulang cerita 12 tahun lalu. Aku cuma bisa menonton dari balik bahu, namun kali ini benar-benar milik orang asing. Tak ada yang berubah. Aku masih sama, perempuan bodoh yang selalu salah mencintai orang. Lampau, kamu jadi orangnya. Lelaki yang sudah menjadi milik orang lain. Mungkin sampai sekarang kamu tak menyadarinya. Bisa jadi sama sekali tak mengingat aku siapa. Tapi terkadang aku masih ingin tahu keberadaanmu. Untuk yang sekarang, lelaki itu bukan kamu. Dia orang lain yang senasib sepertimu, bisa aku miliki dalam mimpi. Kalau yang sekarang aku menangkap, dia juga menangkap sinyal dariku. Tapi, aku tahu diri kalau dia milik orang lain. Selain itu, juga terlalu banyak hal yang menghalangi. Bandung sepertinya tak akan pernah menjadi persinggahan yang ramah buatku. Ia seperti persembunyian sementara, sebuah ruang transit yang hanya mengingatkanku pada kenyataan: aku tak pernah benar-benar punya rumah di hati siapapun. Dan aku masih di sini, menun...

tidak semua harus menjadi sesuatu.

"Banyak-banyak terima kasih Tuhan buat berkat-Mu yang terus ada sampai sekarang. Meskipun sempat aku ragu akan keberadaanku, aku percaya perjalanan ke tempat ini akan buat pengalaman yang lebih baik daripada hari ini." Enggak tahu kenapa bisa berdoa kayak gitu pas bermalam di Baduy Dalam. Seharian jalan kaki menikmati ciptaan Tuhan seharusnya aku capek dan langsung tidur tapi kayaknya suasana bikin aku mikir jauh lagi. Hari ini terlalu banyak ilmu baru yang masuk ke otak ini. Perjalanan yang sebenernya sudah lama aku pengen ini punya banyak hal yang harus mulai aku lakukan. Baduy sebenarnya punya banyak potensi buat jadi tempat wisata yang punya ciri khasnya. Masyarakat bisa kok jadi sama kayak masyarat luar lainnya. Nyatanya pemerintah setempat juga sudah hadir buat mereka. Tapi mereka menolaknya dengan halus. Mereka memilih hidup sederhana seperti ajaran yang mereka yakini. Pilihan mereka justru yang membuat mereka terlihat berbeda dengan yang lainnya. Sampai di Baduy Dalam...