diam bukan berarti tanpa luka.
Tidak ada yang benar-benar biasa saja. Setiap keluarga menderita dengan porsinya masing-masing, hanya cara menutupinya yang berbeda. Ada yang menutup rapat dengan doa, ada yang menertawakannya sampai lelah, ada juga yang memilih diam dan menganggap semua baik-baik saja. Tapi luka tetap ada, meski dibungkus dengan rapi. Mungkin itulah mengapa orang kadang merasa berhak tahu. Mereka mengira ikut campur bisa memperbaiki keadaan, padahal sering kali justru menambah runyam. Ada batas tipis antara peduli dan mencampuri, antara perhatian dan mengorek-ngorek. Orang sering lupa bahwa ada hal-hal yang memang tidak perlu diketahui. Tidak semua cerita harus dibongkar, tidak semua luka harus dipertontonkan. Tapi kalau sesuatu itu melibatkan kita, tidak adil rasanya jika justru kita yang tidak diberi tahu. Dan di tengah semua itu, ada orang-orang yang memilih diam. Yang tak banyak cerita biasanya punya kepekaan lebih. Mereka terbiasa membaca tanda, menangkap sinyal yang tidak terucap. Mereka tahu ...