semoga aku hilang dalam tidurku.
Hari-hari ini cepat berlalu. Rutinitas membosankan dan hati yang kosong menjadi teman. Mungkin minggu ini aku tak bicara lebih dari lima puluh ribu kata. Aku terlalu banyak diam dan memendam pikiranku. Rumah nampaknya masih sepi. Semua seolah membeku bersama dengan topik pindah rumah yang aku lontarkan. Tak apa aku kembali menjadi tokoh antagonis tapi mengapa selalu aku? Semua yang ada di kepalaku seolah salah. Bahkan ketika aku berusaha jujur, hasilnya tetap saja dianggap salah. Rasanya seperti hidup di ruang sidang tanpa hakim, hanya penuh jaksa yang menunggu celah untuk menuding. Kadang aku berpikir, mungkin benar: diam adalah bentuk perlindungan terakhir. Kalau aku tak bersuara, tak ada yang bisa mereka salahkan. Tapi anehnya, bahkan diam pun bisa ditafsirkan macam-macam. Mereka bilang aku dingin, egois, terlalu jauh, terlalu sulit dimengerti. Padahal aku hanya berusaha tidak hancur di depan mereka. Aku bosan jadi pemeran sampingan di cerita orang lain. Bosan jadi “masalah” hanya k...