Minggu, 04 Agustus 2024

sial, aku ketiduran

Aku berusaha keras mencari sumber suara. Entah berapa kali sudah berdering, sudah waktunya aku kembali ke rutinitas. Aku sempat diam sebentar, ternyata matahari sudah di ubun-ubun. Aku terlambat bangun.

Aku tak ingat jam berapa aku tertidur. Terakhir, aku masih menonton drama Korea sambil makan roti kukus yang salah pesan dan menyeruput kopi yang terlalu manis. Ponselku masih menyala di genggaman tangan dan kacamataku masih terpakai. Sial, aku ketiduran.

Aku mengecek notifikasi usai bergegas mandi dan bersiap. Semua masih sama saja. Tak ada tanda-tanda pesan darimu. WhatsApp, Instagram, X, atau aplikasi apapun.

Seperti biasa: layar penuh notifikasi tak penting, grup kantor, promo e-commerce, undangan webinar yang entah siapa yang mengundang—tapi satu hal yang selalu kosong: pesan darimu.

Aku memandang layar ponselku lama-lama. Barangkali ada notifikasi yang terselip. Barangkali ada sinyal semesta yang tertinggal. Tidak ada. Dan rasanya lucu, aku yang biasanya begitu menguasai rencana, timeline, target, akhirnya cuma jadi orang yang menunggu pesan kosong dari seseorang yang mungkin sudah menghapusku dari pikirannya.

Aku tersenyum pahit. Ya, beginilah aku. Terlambat bangun, terlambat sadar. Terlambat mengerti kalau semua notifikasi dunia tidak akan pernah mengisi ruang yang sebenarnya aku tunggu.

Aku menyeduh kopi lagi. Kali ini lebih pahit. Tidak manis. Entah kenapa aku ingin memaki, ingin menertawakan diriku sendiri. Pagi ini aku belajar bahwa tidak semua yang kita tunggu akan datang. Tidak semua alarm yang kita pasang akan membangunkan kita tepat waktu.

Dan seperti itu juga denganmu.

Aku telat bangun. Kau telat kembali. Kita sama-sama telat, dan sekarang aku duduk di sini menatap layar kosong, bertanya:

aku ini sebenarnya sedang menunggu pesan, atau sedang menunggu diriku sendiri kembali?


0 comments:

Posting Komentar

 
;