Postingan

episode mengagumimu sudah selesai.

Aku berada di tengah percakapan makan siang bersama beberapa teman yang kamu kenal. Kemudian wallpaper handphoneku berubah menjadi foto profilmu. Beberapa teman sempat ikut melirik dan membaca nama lengkapmu yang tertera di layar.  "Posisi?" tanyamu begitu aku mengangkat panggilanmu. Kamu masih dengan pertanyaan yang sama sejak awal kita berteman. Aku hanya menjawab singkat, "Bekasi." "Ngapain?" "Dolanlah. Nyapo?" "Reti rak?" Password dari semua intro cerita pun sudah kamu ucap. Aku yang tadinya biasa saja jadi antusias. Namun mengingat banyak mata dan telinga yang mengintai aku belagak tak terlalu senang. "Dan terjadi lagi." "Apane, pak?" "Ga jadi, nanti sore wae. Dah." singkat, padat, dan mengundang pertanyaan. Itulah kamu dari awal kukenal. Aku kembali melanjutkan kegiatanku hari itu. Tak penasaran, tapi aku cukup tahu diri. Apalagi posisiku sekarang tak berada di dekatmu lagi. Beberapa hari kemudian kam...

selasar Jakarta yang bersimbah air mata.

Aku pernah menangis sembari menyusuri keramaian selasar ini. Barisan beton yang senyap menjadi saksi. Tanpa suara namun pipiku basah kuyub. Lalu lalang Jakarta yang sibuk tak menghiraukan air mataku. Aku senang sisi Jakarta yang sibuk mencari harta sampai lupa menaruh empati. Robot yang menunduk mencari hiburan masing-masing. Hingga mereka tak sadar akan adanya keberadaanku yang kacau. Aku yang sedang kalut dengan perasaanku sendiri. Aku merasa tak memiliki siapapun untuk pulang. Tak ada seorangpun yang mengerti aku seperti aku yang selalu dipaksa untuk mengerti orang lain. Aku masih menunggu suatu saat nanti ada seseorang yang tanpa aku cari dan tanpa aku minta, datang menghampiriku dan berkata, "Aku tahu kamu bisa semua sendiri tapi ke depannya kamu nggak sendiri lagi karena ada aku." Sampai saat itu datang, aku sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk berbenah agar kelak ketika seseorang itu hadir, aku sudah berani menangis di depannya, berbicara sambil menatap matanya, dan mele...

sekalipun aku menghilang, kalian tidak akan menyadarinya.

Aku tak tahu apa yang dibicarakan di belakangku. Omongan miring, tegak lurus atau bisa saja diagonal tentangku. Aku biasanya bodo amat. Peduli setan dengan omongan mereka. Toh tak membuat rekening tabunganku berkurang. Tapi akhir-akhir ini banyak hal yang baru aku sadari. Porsi cerita tentangku memang sedikit. Aku sadar diri kalau mau sesulit apa kisahku, pasti kalian akan menganggap kalau milik kalian yang lebih sulit because you only see the good side of me dan memang hanya itu yang ingin aku tunjukan saat itu. Lama-kelamaan, bibir yang terus tersenyum dan telinga yang selalu mendengar ini lelah. Walau aku bisa menyembunyikannya, sampai kapan aku bisa menahannya? Beberapa kali aku mengemis untuk meminjam telingamu. Tak apa hanya sebentar yang penting aku bisa lega setelah mengeluarkan semua yang lama tertahan. Sesekali aku juga menyelipkan ceritaku di tengah ceritamu yang selalu terdengar lebih menarik. Sampai aku hafal silsilah nenek moyangmu dan aku mengenal seisi duniamu tanpa ka...

maaf aku lupa dengan doaku sendiri.

Kadang aku cuma butuh tahu tentang apa yang aku rasakan saat ini sebenarnya memang benar atau hanya asumsiku sendiri saja. Aku memang tak berani untuk mengungkapkannya tapi aku merasa kalau dia yang aku sasar sadar akan apa yang aku rasakan. Aku tahu dia memang sepeka itu tapi apa benar dia benar sadar atau ini masih jadi asumsiku saja? Tapi pertemuan hari ini membuat aku menyimpulkan kalau dia sadar sehingga dia bisa bercerita seperti itu. Dia secara tidak langsung mengatakan alasan mengapa tidak bisa ada kita yang sebenarnya aku juga sudah tahu. Kisah ini terdengar rumit namun kalau dirunut sejak awal sebenarnya hanya dua orang yang kebetulan saling terikat karena pemikiran yang mirip yang dari awal tidak bisa bersatu karena beberapa hal yang memang tak bisa dipaksakan. Mungkin ini salah satu doaku yang terjawab namun kebetulan aku sudah lupa dengan doaku sendiri. Tapi setidaknya ini jawaban dari doa wajibku, jauhkanlah kami daripada yang jahat. Bisa jadi dia masuk kategori 'yang...

the last chapter in this place. finally i'm done.

Akhirnya perjalanan di tempat ini mencapai titik. Walau tak sesuai harapan, paling tidak semesta masih memberiku hal-hal baik yang mengiringi. Ini sebagian jawaban dari doaku dan sebagian lagi keinginan orang-orang yang menganggapku bukan apa-apa. Tapi tak apa, aku tetap merasa menang karena bukan aku yang menyerah namun keadaan yang memaksaku untuk pergi. Aku paham betul siapa aku dan bagaimana caranya aku bisa sampai ke titik ini, jadi aku bersyukur bisa ada di sini, di tengah keramaian tanpa istirahat yang seiring waktu meredup karena badai. Sedari awal aku sudah tahu kalau perpisahan ini akan terjadi tapi aku tak tahu kalau aku yang akan meninggalkan mereka, orang-orang yang ternyata memperhatikan dengan caranya masing-masing. Awalnya pun aku hanya ingin membubuhi koma di cerita ini. Aku sudah nyaman dengan semua yang ada, orang-orang yang sudah membuatku capek untuk heran, tempat nongkrong yang itu-itu saja, dan cuaca kota yang berubah tergantung moodnya. Namun memang tak ada yang...

kembali menuju 3371 mdpl

"Libur tiga hari enaknya kemana ya?" tanyaku iseng. Kebetulan hari itu tepat seminggu sebelum libur panjang akhir pekan karena perayaan Idul Adha. Waktu itu aku sedang mampir ke rumah karena ada teman sekampus yang mengadakan pernikahan. "Bawa keril ya, kalo jadi kita summit." "Aku ga ada latihan sama sekali." "Gapapa, sebisanya aja." "Kita S2 kalo ga bisa ya, S1 dulu. Remidi." "Ok." Lewat percakapan singkat sore itu, kami bertiga berangkat ke Wonosobo. Memang ini bukan perjalanan pertama kami untuk naik gunung, tapi tetap saja tanpa latihan fisik sama sekali aku merasa ada yang kurang. Berbekal niat, ketua kami langsung booking tiket bus dari Bekasi ke terminal Wonosobo. Kami memutuskan untuk naik dari Cibitung agar tidak terjadi seperti kejadian yang lalu ketika kami terjebak macet di daerah Kemayoran. Masalah dimulai ketika kami tiba di rest area Subang. Hal yang aku takutkan terjadi. Aku haid. Aku langsung lemas. Namun mba...

apa yang orang salah kira tentangku.

Gambar
Kembali lagi di pinggir kolam koi depan musholla setelah makan siang. Hari ini masih sendirian, kantor sepi, dan semoga tetap begini. Atau setidaknya aku masih tetap berada disini sampai ada panggilan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Sejak mampir ke rumah, banyak hal yang mengganjal di pikiran. Entah apapun itu aku merasa banyak kesesakan. Mulut ini sudah ingin meluapkan semuanya ke kalian tapi aku selalu merasa ini bukan waktu yang tepat. Cerita kalian lebih rumit dan aku tak mau ceritaku malah menjadi beban untuk kalian. Kalau kalian coba pakai kaca pembesar mungkin kalian akan lebih tahu tentangku. Aku tak secuek yang kalian pikir. Justru aku hapal setiap gerak-gerik, fashion, atau bisa saja aliran musik yang kalian sering dengar tanpa kalian sadari. Aku tak sebodo amat yang kalian kira.  Setiap malam, apa yang kalian katakan pagi harinya seperti kaset yang ter-rewind di kepalaku malah kadang titik koma sampai helaan napasmu aku bisa ingat. Pita kaset itu sampa...