Minggu, 21 Juli 2024

selasar Jakarta yang bersimbah air mata.

Aku pernah menangis sembari menyusuri keramaian selasar ini. Barisan beton yang senyap menjadi saksi. Tanpa suara namun pipiku basah kuyub. Lalu lalang Jakarta yang sibuk tak menghiraukan air mataku.

Aku senang sisi Jakarta yang sibuk mencari harta sampai lupa menaruh empati. Robot yang menunduk mencari hiburan masing-masing. Hingga mereka tak sadar akan adanya keberadaanku yang kacau. Aku yang sedang kalut dengan perasaanku sendiri.

Aku merasa tak memiliki siapapun untuk pulang. Tak ada seorangpun yang mengerti aku seperti aku yang selalu dipaksa untuk mengerti orang lain. Aku masih menunggu suatu saat nanti ada seseorang yang tanpa aku cari dan tanpa aku minta, datang menghampiriku dan berkata, "Aku tahu kamu bisa semua sendiri tapi ke depannya kamu nggak sendiri lagi karena ada aku."

Sampai saat itu datang, aku sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk berbenah agar kelak ketika seseorang itu hadir, aku sudah berani menangis di depannya, berbicara sambil menatap matanya, dan melepas semua topengku ketika bersamanya.

Aku tak ingin ia ikut menyeka luka lamaku. Aku tak ingin menyibukan dirinya untuk merawat luka yang orang lain perbuat. Maka beri aku waktu untuk sembuh dahulu—atau minimal aku usai dengan perasaan lamaku sebelum ia datang dan aku bukakan pintu.

Berhari-hari aku tidur cepat. Raga yang lelah tak mau terisi dayanya. Aku tetap saja mengantuk ketika baru saja membuka mata. Banyaknya waktu untuk lelap tak membuat dayaku terisi. Setelah dayaku habis, malam malah kulalui tanpa lelap. Lelahku semakin menjadi dan ragaku ikut koyak.

Kadang aku bertanya apakah ruang di dadaku ini akan pernah cukup lega untuk menampung harapan lagi. Kadang aku membayangkan sebuah pintu yang tak perlu kupaksa untuk terbuka—yang datang sendiri, pelan, memberi izin untuk rapuh tanpa tuntutan. Lalu aku ingat: sebelum ada yang mengetuk, aku harus membangun rumah kecil di dalam diri. Rumah yang tahan angin. Rumah yang punya ruang untuk jatuh dan bangun lagi.

Malam-malam ini aku menaruh secangkir teh di samping tempat tidur, menulis tiga kalimat yang jujur tiap pagi—bukan janji besar, hanya bukti bahwa aku masih bergerak. Kadang cukup: satu tarikan napas yang panjang, satu lagu yang kubiarkan mengalun sampai habis, satu pesan singkat ke diriku sendiri: "Kamu baik-baik saja untuk sekarang."

Aku tidak tahu kapan lelah ini akan reda. Mungkin besok, mungkin sebulan, mungkin lebih lama. Untuk sekarang aku akan terus merawat hal-hal kecil: membuka jendela saat matahari belum terik, berjalan lima menit tanpa tujuan, menulis kata yang tak harus sempurna. Semua itu terasa sepele, tapi mereka adalah pondasi kecil agar suatu hari aku tak lagi takut membuka pintu.

Dan bila kamu membaca ini nanti, ingatlah: boleh saja menunggu. Boleh saja menjaga jarak dari orang yang belum pantas mengobati luka. Tapi jangan lupa, di sela menunggu itu, rawatlah dirimu sendiri—supaya ketika pintu yang tepat datang, kamu sudah punya alasan untuk membukanya.

0 comments:

Posting Komentar

 
;