Postingan

malam setelah secangkir kopi.

Malam ini aku sendirian di kamar, usai menghabiskan secangkir kopi dan bercengkerama dengan dua orang teman se-mess. Kepalaku terasa ringan karena sebelumnya aku hair spa dan karena kopi tentunya. Jariku ringan menari di atas keyboard. Namun kamarku masih berantakan karena aku belum beberes seminggu ini dan lemburan yang tak kunjung aku kerjakan. Aku sudah merasa sumpek usai solo open tripku ke Karimun minggu lalu. Gelapnya kulit juga belum hilang tapi rasa senangku sudah sirna begitu aku menginjakkan kaki di sini. Tempat yang pernah aku impikan namun sekarang sedikit menyesal. Hah. Kuhela napas panjang dulu sebelum kembali melanjutkan ceritaku. Aku spontan bertanya pada teman yang mengajakku untuk bekerja di sini, setahun lalu. Ya, tepat tahun lalu di tanggal ini. “Temen-temennya gimana? Toxic nggak?” tanyaku. Dia, yang waktu itu masih di sini hanya menyahut, “Kamu lihat aja deh nanti. Baik-baik semua kok. Paling nanti bosen kalau di mess terus.” Lalu aku masuk. Dan ternyata… ternyata...

perasaanku yang kacau dan bajingan yang baik hati.

Ya, ini masih merupakan tulisanku tentangnya. Teman lama yang sekarang entah apa. Degub jantungku tak bisa berbohong. Ia tak mau diam sepanjang perjalananku menuju Purwakarta. Entah darimana aku berasal, jantung ini tak bisa memelankan iramanya ketika mendekati kota ini. Perasaanku semakin kacau ketika melihat rumah bercat kuning tepat di ujung pertigaan jalan. Walau beberapa teman terus menghiburku, rasa takut ini terus menyelubungi. Mereka tetap mendengarkanku meski aku tak mau bercerita. Mereka tetap peduli meski aku tak meminta. Dan mereka tetap selalu ada meski aku selalu menghindar. Dari balik ketakutanku, aku menjadi tahu siapa yang benar-benar peduli dan tidak. Siapa saja yang mencari kebenaran bukan pembenaran. Dari diamku tersirat seribu bahasa. Ternyata beberapa orang memperhatikan dari jauh. Telinga mereka jauh lebih tajam. Setiap percik air yang menetes, mereka lebih peka. Semua yang tak aku sangka justru aku ketahui dari suara-suara tanpa tahu sumbernya. Mereka memang buk...

patah sebelum sempat tumbuh.

Ini menjadi kesalahanku yang kesekian kali dan aku yang bodoh tak punya niat untuk mengakhirnya segera. Berulang kali aku menolak rasa ini. Meneriakannya keras-keras kalau aku tidak sedang jatuh hati. Dia hanya seorang teman yang memang peduli dengan siapapun, bukan hanya aku. Kuulang terus kata “bukan hanya aku” ribuan kali di kepalaku. Dia memang orang yang ramah, mudah dekat dengan siapapun. Orang yang selalu ada bila ada yang kesusahan bahkan mau menjadi tameng bila diperlukan. Memang, kehidupan tak selamanya terang. Ada beberapa ritual yang tak seharusnya dia lakukan malah menjadi rutinitas dan yang seharusnya dia lakukan malah dia abaikan. Tapi, terlalu banyak tapi yang menganjal di hatiku. Dia orang yang selama ini aku cari. Pemikiran sederhananya dan setiap gerak-geriknya selalu menarikku untuk lebih bisa dekat dengannya. Seperti beberapa hari ini, suasana yang membuatku agak ngeri bisa dibuatnya lebih hangat hanya karena kehadirannya. Tak banyak bualan, ia lebih menunjukan sik...

aku meninggalkan perasaanku ketika berangkat ke kantor.

Tagihan menghajarku tak kenal ampun. Belum sempat aku menghindarinya, datang pekerjaan lain yang ikut menyiksaku. Hah . Semua itu belum cukup. Pundakku masih terasa ringan, hingga semesta menambahnya dengan nyanyian sumbang orang lapangan yang dipadukan apik dengan musik ala kadarnya dari vendor dan jangan lupa, semuanya dipimpin oleh pemimpin orkestra, bos divisi lain yang kerjaannya menganggu kehidupan orang.  Bagaimana aku pulang sudah aku pikirkan sejak keluar gerbang rumah. Sepanjang perjalanan ke kantor, kuputar ulang kumpulan perjalanan pulang yang setidaknya melegakan dada. Ketika aku membuka mata, bukan chat dari mas pacar yang kutemui melainkan mandor yang meminta hak mereka dipenuhi. Semuanya terus terulang tanpa tahu ujung ceritanya. Kujejalkan headset ke lubang telingaku untuk meredam gemuruh petir di kepala dan menangkal berisik dunia tipu-tipu. Namun paduan suara sumbang luput juga. Lidah beracun tetap melecut hati. Tembok memulai aksinya. Skenario yang awalnya enta...

hal sepele yang membuatku ingin bertemu esok.

Puji syukur kalau kamu masih bertemu aku hari ini. Aku sendiri tak tahu sampai seberapa jauh aku bisa bernapas. Belum tentu Tuhan yang akan mengambil nyawaku, bisa saja aku sendiri yang mencabut napasku sewaktu-waktu semisal aku lenggang namun kepalaku masih berisik atau orang asing di jalan yang iseng menancapkan pisau ke dadaku. Toh, ada tertulis kalau kematian adalah sebuah keuntungan. Lelap yang kukira ampuh untuk meredam semua teriakan ternyata hanya menyisakan lelah yang teramat. Dorongan secangkir kopi hitam tak membuat mata mau terbuka di teriknya matahari. Namun di gelapnya malam, dongeng dari tembok lembab kamar tak pernah berhasil membuaiku untuk tidur. Semalaman menelusuri kenangan masa lalu, mataku baru mau terpejam lewat sepertiga malam. Kadang rasa ingin tahu membawaku jauh menyelami pikiranku yang berliku. Hingga tak terasa aku sudah tenggelam di dalamnya. Sesaat kurasakan kelegaan usai air mata menenangkanku. Namun selesai badai itu reda, langkah yang berat membawaku k...

jangan berubah ketika kalian membaca ini!

Aku sulit menyusun kata dan menyampaikannya secara langsung. Aku merasa setiap bercerita, ceritaku tak kunjung mencapai klimaks. Lidahku pun mendadak kaku ketika ditodong pertanyaan, "kamu kenapa?" Padahal dalam hati aku senang, ketika ada orang yang ternyata menunggu kisahku. Walau aku juga tak tahu, bagaimana responmu setelah mendengar kisahku. Jujur aku ingin kalian tahu bagaimana aku dan perjalanan hidupku. Ketakutan terlanjur membalut lukaku. Aku yang sekarang, sulit terbuka dan menjadi misterius. Mungkin ini adalah kombinasi dari goresan yang selama ini aku kumpulkan. Mereka kini berubah menjadi benteng pertahanan yang kokoh. Aku tahu tak adil rasanya kalau aku menyimpan semua kisahmu tapi kamu tak punya kisah tentangku. Aku tahu kamu juga bertanya-tanya bagaimana ceritaku. Tapi, aku minta maaf karena aku tak bisa menceritakannya secara langsung. Bukannya aku tak mau tapi aku tak bisa. Aku paham kalau kalian tak bisa mengerti aku sepenuhnya kalau kalian sama sekali tak ...

semua lebih dari cukup.

Dulu aku sama seperti orang kebanyakan, menutupi semua luka dengan tawa, belum lagi berpura kuat agar semua tak melihat sisi lemahku. Aku rajin berganti topeng setiap saat, memolesnya sampai berkilau, dan menghiasnya dengan beragam pernak-pernik hingga aku tak tahu bagaimana wujud wajah asliku.  Menghapus dengan cleansing balm tak membantu semuanya hilang. Terlalu banyak aku mengenakan topeng kepalsuan ini. Terlalu tebal hingga sulit aku memudarkannya. Usahaku untuk melepaskannya sangat tak mudah. Aku harus melepaskan satu persatu, mengingat setiap detail wajah asliku, dan menerima mukaku yang sebenarnya.  Rekatan tiap topeng sangat erat, tiap aku mengelupasnya aku seperti membuka kisah lama yang ingin dilupakan. Tapi berkat topeng itu, aku bisa mengingat setiap luka yang pernah menyayat hatiku dan karenanya aku bisa sampai di pencapaian ini. Mau tak mau, aku harus mengikis topeng sampai aku bisa melihat aku yang sebenarnya. Supaya aku dapat menjadi aku.  Aku memang belum...