Puji syukur kalau kamu masih bertemu aku hari ini. Aku sendiri tak tahu sampai seberapa jauh aku bisa bernapas. Belum tentu Tuhan yang akan mengambil nyawaku, bisa saja aku sendiri yang mencabut napasku sewaktu-waktu semisal aku lenggang namun kepalaku masih berisik atau orang asing di jalan yang iseng menancapkan pisau ke dadaku. Toh, ada tertulis kalau kematian adalah sebuah keuntungan.
Lelap yang kukira ampuh untuk meredam semua teriakan ternyata hanya menyisakan lelah yang teramat. Dorongan secangkir kopi hitam tak membuat mata mau terbuka di teriknya matahari. Namun di gelapnya malam, dongeng dari tembok lembab kamar tak pernah berhasil membuaiku untuk tidur.
Semalaman menelusuri kenangan masa lalu, mataku baru mau terpejam lewat sepertiga malam. Kadang rasa ingin tahu membawaku jauh menyelami pikiranku yang berliku. Hingga tak terasa aku sudah tenggelam di dalamnya. Sesaat kurasakan kelegaan usai air mata menenangkanku. Namun selesai badai itu reda, langkah yang berat membawaku kembali ke kehidupan nyata. Hanya ada harap hari ini lekas berakhir dan aku bisa melewati badai itu lagi.
Apa aku harus patah dulu sebelum menjadi kuat? Kalau itu yang harus aku lewati, apa aku boleh memilih menjadi biasa saja agar aku tak harus patah. Apa ada jaminan yang patah ini akan tumbuh kembali? Kalau tidak? Apa aku akan cacat?
Semalaman aku sibuk merapikan isi kepala, mengingat kembali memori indah yang semoga menumbuhkan rasa inginku untuk menjumpai esok. Rasa penasaran akan album baru Hindia menggiringku untuk tetap menapak bumi. Belum lagi kelanjutan Taxi Driver dan The Glory yang di season satu sangat menggantung, akhir seperti apa yang akan disajikan. Sepatu baru yang kemarin sampai belum sempat aku ajak melihat dunia. Tas yang dari dulu aku damba belum juga berani aku beli. Aku rindu makan ramen babi di Menya. Hal-hal remeh temeh itu menguar begitu saja.
Ternyata banyak yang aku inginkan. Banyak nikmat yang aku lewatkan. Banyak mimpi yang belum terwujud. Banyak tujuan yang belum sampai. Banyak wacana yang belum terealisasi. Aku masih harus bernapas. Aku masih ingin bertemu esok.

