semua lebih dari cukup.

Dulu aku sama seperti orang kebanyakan, menutupi semua luka dengan tawa, belum lagi berpura kuat agar semua tak melihat sisi lemahku. Aku rajin berganti topeng setiap saat, memolesnya sampai berkilau, dan menghiasnya dengan beragam pernak-pernik hingga aku tak tahu bagaimana wujud wajah asliku. 

Menghapus dengan cleansing balm tak membantu semuanya hilang. Terlalu banyak aku mengenakan topeng kepalsuan ini. Terlalu tebal hingga sulit aku memudarkannya.

Usahaku untuk melepaskannya sangat tak mudah. Aku harus melepaskan satu persatu, mengingat setiap detail wajah asliku, dan menerima mukaku yang sebenarnya. 

Rekatan tiap topeng sangat erat, tiap aku mengelupasnya aku seperti membuka kisah lama yang ingin dilupakan. Tapi berkat topeng itu, aku bisa mengingat setiap luka yang pernah menyayat hatiku dan karenanya aku bisa sampai di pencapaian ini.

Mau tak mau, aku harus mengikis topeng sampai aku bisa melihat aku yang sebenarnya. Supaya aku dapat menjadi aku. 

Aku memang belum hebat seperti kalian yang sudah berpasangan, berjalan sampai negeri orang, atau berstatus pegawai tetap. Namun, apa aku butuh semua itu? 

Rasanya hidupku yang biasa saja ini lebih menyenangkan dari foto-foto aestetik yang kalian pajang di sosial media. Tawaku lebih lepas setelah topengku terlepas. Terlebih tawaku yang tak ada unsur pura-pura ini lebih renyah di telinga ketimbang tawa sumbang yang kalian umbar.

Aku sudah cukup dengan semua yang aku miliki sekarang. Senyum Ibuk di setiap video call, tawa khas Bapak dan semua permintaan aneh bin randomnya, pertanyaan seputar lowongan dari adikku yang pertama, serta jawaban singkat dari si bungsu di setiap chat dariku.

Semua yang ku punya sekarang, lebih dari cukup untuk aku yang sekarang. 

Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes