malam setelah secangkir kopi.

Malam ini aku sendirian di kamar, usai menghabiskan secangkir kopi dan bercengkerama dengan dua orang teman se-mess. Kepalaku terasa ringan karena sebelumnya aku hair spa dan karena kopi tentunya. Jariku ringan menari di atas keyboard. Namun kamarku masih berantakan karena aku belum beberes seminggu ini dan lemburan yang tak kunjung aku kerjakan.

Aku sudah merasa sumpek usai solo open tripku ke Karimun minggu lalu. Gelapnya kulit juga belum hilang tapi rasa senangku sudah sirna begitu aku menginjakkan kaki di sini. Tempat yang pernah aku impikan namun sekarang sedikit menyesal.

Hah. Kuhela napas panjang dulu sebelum kembali melanjutkan ceritaku.

Aku spontan bertanya pada teman yang mengajakku untuk bekerja di sini, setahun lalu. Ya, tepat tahun lalu di tanggal ini.

“Temen-temennya gimana? Toxic nggak?” tanyaku.

Dia, yang waktu itu masih di sini hanya menyahut, “Kamu lihat aja deh nanti. Baik-baik semua kok. Paling nanti bosen kalau di mess terus.”

Lalu aku masuk. Dan ternyata… ternyata bosen itu kata lain dari *“selamat datang di neraka versi manusia dewasa.”* Semua orang tampak sopan, tapi di balik senyum itu ada banyak agenda: gosip, persaingan, sampai permainan moral yang membuatmu bertanya-tanya apa orang ini benar-benar manusia atau robot yang diprogram untuk menipu.

Aku menjadi saksi bisu drama harian yang tidak pernah habis. Tertawa palsu, komentar sinis, tatapan yang terlalu panjang untuk hanya sekadar melihatmu lewat. Semua orang di sini ahli memainkan topengnya sendiri—dan parahnya, mereka semua mengira aku tidak bisa melihat. Tapi aku bisa. Aku selalu bisa melihat.

Aku mencoba bersabar. Aku mencoba menulis, mencoba melewatkan hari, mencoba percaya lagi pada manusia—tapi lingkungan ini seperti sapu lidi yang tiap kali kuketat malah menusuk tangan sendiri. Bahkan ide-ide untuk lari, seperti kuliah lagi atau menikah, terasa seperti pura-pura menjadi manusia normal di dunia yang sudah gila.

Mess ini? Tempat latihan ketekunan untuk pura-pura tidak peduli. Lingkungan ini? Tempat di mana jujur adalah lelucon paling mahal yang bisa kamu mainkan pada diri sendiri. Kalau kau berani terlalu terbuka, siap-siap dihakimi diam-diam. Kalau kau diam, bersiaplah dianggap bodoh. Tidak ada jalan tengah—kecuali kau pintar menyimpan wajah palsu, dan aku? Aku terlalu lelah untuk itu.

Dan malam ini, setelah secangkir kopi, aku tersenyum pahit sendiri. Karena setidaknya aku sadar: aku tidak perlu berpura-pura bahagia dengan semua kebusukan yang berjalan di sekitarku. Aku tidak perlu ikut menertawakan semua drama bodoh. Aku bisa tetap “aku,” meski kamar berantakan, lembar lembur menumpuk, dan dunia ini menertawakan harapan-harapan bodohku.

Dan entah kenapa, aku punya satu doa kecil—atau mungkin doa paling busuk: Semoga proyek ini, semua gosipnya, semua kesombongannya, dan semua senyum palsunya, hancur dengan cara yang sama seperti mereka hancurkan rasa tenang orang lain. Semoga mereka sadar, suatu hari nanti, kalau semua topeng itu jatuh, tidak ada yang tersisa kecuali kebusukan mereka sendiri.

Karena jujur dilarang di sini, biarlah kebohongan dan kehancuran jadi satu paket. Dan aku? Aku akan tetap menulis, menertawakan, dan minum kopi pahit ini sendirian.


Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes