Jumat, 23 Januari 2026 0 comments

dia yang semoga akan lama.

mungkin Tuhan kasih aku kebahagiaan dengan cara aku merelakan yang sudah pergi terlebih dahulu. rasanya sulit membuka hati dimana dari luar, hidup ini tampak berjalan sempurna. hari-hari terisi rapi oleh rutinitas yang dianggap wajar: bekerja, menghasilkan uang, sesekali pergi berlibur. semuanya seperti memenuhi standar orang hidup pada umumnya. tidak ada yang benar-benar salah, tidak ada yang perlu dikeluhkan. tapi di balik kerapian itu, ada ruang kosong yang terus menganga. emosi yang tidak meledak, hanya hampa dan datar.

perlahan, hidup terasa seperti daftar kewajiban yang harus diselesaikan agar tetap terlihat “normal”. setiap pagi dijalani bukan karena ingin, tapi karena harus. bahkan hal-hal yang seharusnya menyenangkan kehilangan rasanya. bukan lelah fisik yang menggerogoti, melainkan perasaan menjalani hidup tanpa benar-benar hadir di dalamnya.

di tengah semua itu, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenal diri ini. dan yang lebih sunyi, diri ini pun tak sepenuhnya mengenali siapa dirinya sendiri. terlalu lama menyesuaikan, terlalu sering berfungsi, sampai identitas menjadi kabur. aku ada, tapi seperti tidak menjadi siapa-siapa.

lalu kemudian dia datang, entah dari mana. tanpa peran yang jelas, tanpa janji apa pun. kehadirannya tidak mengubah hidup secara drastis, namun cukup untuk mengganggu keheningan yang selama ini kuanggap biasa. bersamanya, aku menyadari sesuatu yang lama terkubur ternyata ada bagian dari diri ini yang masih ingin merasa, ingin dilihat, ingin dikenali.

dia mungkin tidak datang untuk menyelamatkan. mungkin bahkan tidak untuk tinggal. tapi kehadirannya menjadi penanda bahwa di balik rutinitas yang terus berjalan, masih ada diri yang kosong, bingung, dan perlahan ingin pulang pada dirinya sendiri.

sejauh ini masih banyak keraguan yang muncul. bagaimana aku bisa mengimbangi ritmenya? bagaimana bisa aku satu pace dengannya? apa dia bisa bertahan? apa dia mau selamanya?

bersama ragu, harapan ikut timbul tenggelam. semoga akan lama. semoga dia orangnya. dan semoga-semoga lain yang dulu tidak pernah aku pikirkan.

Jumat, 02 Januari 2026 0 comments

berharap begini saja.

Tahun ini aku tidak minta banyak. Bahkan mungkin tidak minta apa-apa. Cukup bertahan sampai akhir tahun tanpa drama tambahan, tanpa target palsu, tanpa daftar pencapaian yang harus dipamerkan agar terlihat hidup. Tidak ada kekhawatiran yang perlu dipelihara, tidak ada lomba yang harus dimenangkan. Bangun, jalan, pulang. Sesederhana itu. Aneh, tapi rasanya cukup.

Aku tidak tahu ini disebut puas atau menyerah. Bisa jadi aku akhirnya sampai, bisa juga aku cuma kehabisan tenaga untuk peduli. Ambisi yang dulu ribut di kepala sekarang diam, tidak mati, tapi jelas tidak mau bangun. Rasanya seperti mesin yang masih menyala tapi tidak lagi ke mana-mana dan untuk sekali ini, aku tidak terganggu.

Dulu aku berjalan pakai bahan bakar yang tidak sehat tapi efektif: kebencian, dendam, pembuktian. Semua itu mendorongku cepat, jauh, dan tanpa istirahat. Sekarang tangkinya kosong. Aku berdiri di sini sambil menatap sisa-sisanya, sadar bahwa ternyata ia tidak bisa dipakai selamanya. Ironis, tapi jujur: aku sampai di titik ini justru ketika alasan-alasan itu berhenti bekerja.

Dan mungkin itu inti dari semuanya. Aku tidak ingin mengganti bahan bakar lama dengan yang baru. Tidak ingin memaksa diri menemukan makna, motivasi, atau mimpi yang terdengar bagus saat diceritakan ulang. Tahun ini aku memilih diam. Bukan karena kalah, tapi karena lelah. Dan untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.

Bukan berarti aku benar-benar berhenti. Aku hanya berhenti memaksa. Di sela kelelahan ini, aku tetap menyimpan bucket list kecil bukan daftar mimpi besar yang harus mengubah hidup, cuma beberapa hal sederhana yang ingin kutepati sendiri. Tidak untuk dipamerkan, tidak untuk dibuktikan ke siapa pun. Hanya penanda bahwa aku masih ada dan masih berjalan.

Hal-hal itu tidak terdengar heroik. Tidak akan membuat siapa pun bertepuk tangan. Tapi entah kenapa, aku membutuhkannya. Bukan sebagai ambisi, melainkan sebagai alasan untuk berhenti sejenak dan berkata, “ya, aku sampai juga di sini.” Setelah sekian lama bergerak karena dorongan marah dan ingin menang, rasanya adil kalau sekali ini aku bergerak demi diriku sendiri.

Mungkin ini bukan tentang mencapai sesuatu, tapi tentang merayakan bertahan. Merayakan versi diriku yang tidak lagi haus pengakuan, tapi masih cukup waras untuk memberi diri sendiri hadiah kecil. Dan kalau pada akhirnya itu satu-satunya yang bisa kucapai tahun ini, kurasa itu bukan kegagalan. Itu bentuk lain dari hidup.



Senin, 15 Desember 2025 0 comments

Tuhan terlalu baik tapi aku terlalu curiga.

Kadang aku masih ragu dan bingung dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Kenapa Tuhan baik, terlalu baik malah. Padahal dengan semua yang sudah terjadi, aku merasa tak sepantas itu untuk mendapatkan semua ini. Memakai seragam ini, bisa duduk bersama orang-orang yang sebelumnya tak pernah kuduga, bisa kembali tinggal di kota ini. Rasanya tak pernah terbayang sebelumnya.

Yang tidak pernah dibicarakan orang adalah rasa bersalah yang datang bersama “berkat”.

Karena saat hidup akhirnya lurus, pertanyaannya bukan lagi kenapa aku gagal, tapi kenapa aku berhasil. Dan anehnya, yang kedua jauh lebih menyiksa.

Aku menatap diri sendiri di kaca—rapi, pantas, terlihat seperti orang yang tahu ke mana hidupnya pergi. Padahal tidak. Aku hanya sedang berdiri di antrean yang benar, mengenakan kostum yang tepat, di waktu yang kebetulan berpihak. Tidak ada pencerahan. Tidak ada momen film religi dengan musik lembut. Yang ada hanya aku, dengan kepala penuh kebisingan dan hati yang masih curiga pada kebahagiaan.

Aku menunggu semuanya runtuh.

Karena begitulah hidup mengajariku: kalau terlalu tenang, berarti badai sedang ambil ancang-ancang. Jadi setiap kali seseorang berkata, “Kamu beruntung,” aku ingin tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena mereka tidak tahu berapa banyak bagian dari diriku yang sudah mati untuk sampai ke titik ini.

Tuhan, kalau memang Kau sedang baik, tolong jangan tiba-tiba berubah pikiran.

Aku duduk di antara orang-orang yang berbicara tentang rencana lima tahun ke depan, sementara aku masih berusaha berdamai dengan lima tahun ke belakang. Mereka bicara tentang mimpi, aku menghitung trauma. Mereka menyebut masa depan, aku masih membereskan reruntuhan.

Dan lucunya, aku terlihat baik-baik saja.

Seragam ini menutup banyak hal. Ia membuatku tampak sah, resmi, layak. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kainnya ada tubuh yang lelah berpura-pura pantas. Bahwa setiap pencapaian ini rasanya seperti kesalahan administratif yang belum diperbaiki semesta.

Aku tidak iri pada mereka. Aku iri pada versi diriku yang bisa menerima semua ini tanpa curiga. Karena sampai hari ini, aku masih merasa seperti tamu yang duduk terlalu lama di rumah orang lain. Menikmati jamuan, sambil siap-siap minta maaf kalau sewaktu-waktu disuruh pulang.

Mungkin ini doa yang buruk. Mungkin ini iman yang retak. Tapi beginilah kejujuranku: aku tidak tahu cara bersyukur tanpa takut. Tidak tahu cara bahagia tanpa bersiap kehilangan.J ika Tuhan memang sedang mengujiku, ini ujian yang paling kejam—memberiku hidup yang baik, lalu membiarkanku mempertanyakan apakah aku pantas memilikinya dan kalau ini bukan ujian, maka aku harus belajar satu hal yang belum pernah benar-benar kupelajari: Percaya bahwa sesuatu yang baik tidak selalu harus dibayar dengan penderitaan.

Tapi malam ini, aku belum sampai ke sana.

 
;