Senin, 15 Desember 2025 0 comments

Tuhan terlalu baik tapi aku terlalu curiga.

Kadang aku masih ragu dan bingung dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Kenapa Tuhan baik, terlalu baik malah. Padahal dengan semua yang sudah terjadi, aku merasa tak sepantas itu untuk mendapatkan semua ini. Memakai seragam ini, bisa duduk bersama orang-orang yang sebelumnya tak pernah kuduga, bisa kembali tinggal di kota ini. Rasanya tak pernah terbayang sebelumnya.

Yang tidak pernah dibicarakan orang adalah rasa bersalah yang datang bersama “berkat”.

Karena saat hidup akhirnya lurus, pertanyaannya bukan lagi kenapa aku gagal, tapi kenapa aku berhasil. Dan anehnya, yang kedua jauh lebih menyiksa.

Aku menatap diri sendiri di kaca—rapi, pantas, terlihat seperti orang yang tahu ke mana hidupnya pergi. Padahal tidak. Aku hanya sedang berdiri di antrean yang benar, mengenakan kostum yang tepat, di waktu yang kebetulan berpihak. Tidak ada pencerahan. Tidak ada momen film religi dengan musik lembut. Yang ada hanya aku, dengan kepala penuh kebisingan dan hati yang masih curiga pada kebahagiaan.

Aku menunggu semuanya runtuh.

Karena begitulah hidup mengajariku: kalau terlalu tenang, berarti badai sedang ambil ancang-ancang. Jadi setiap kali seseorang berkata, “Kamu beruntung,” aku ingin tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena mereka tidak tahu berapa banyak bagian dari diriku yang sudah mati untuk sampai ke titik ini.

Tuhan, kalau memang Kau sedang baik, tolong jangan tiba-tiba berubah pikiran.

Aku duduk di antara orang-orang yang berbicara tentang rencana lima tahun ke depan, sementara aku masih berusaha berdamai dengan lima tahun ke belakang. Mereka bicara tentang mimpi, aku menghitung trauma. Mereka menyebut masa depan, aku masih membereskan reruntuhan.

Dan lucunya, aku terlihat baik-baik saja.

Seragam ini menutup banyak hal. Ia membuatku tampak sah, resmi, layak. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kainnya ada tubuh yang lelah berpura-pura pantas. Bahwa setiap pencapaian ini rasanya seperti kesalahan administratif yang belum diperbaiki semesta.

Aku tidak iri pada mereka. Aku iri pada versi diriku yang bisa menerima semua ini tanpa curiga. Karena sampai hari ini, aku masih merasa seperti tamu yang duduk terlalu lama di rumah orang lain. Menikmati jamuan, sambil siap-siap minta maaf kalau sewaktu-waktu disuruh pulang.

Mungkin ini doa yang buruk. Mungkin ini iman yang retak. Tapi beginilah kejujuranku: aku tidak tahu cara bersyukur tanpa takut. Tidak tahu cara bahagia tanpa bersiap kehilangan.J ika Tuhan memang sedang mengujiku, ini ujian yang paling kejam—memberiku hidup yang baik, lalu membiarkanku mempertanyakan apakah aku pantas memilikinya dan kalau ini bukan ujian, maka aku harus belajar satu hal yang belum pernah benar-benar kupelajari: Percaya bahwa sesuatu yang baik tidak selalu harus dibayar dengan penderitaan.

Tapi malam ini, aku belum sampai ke sana.

Sabtu, 29 November 2025 0 comments

catatan yang tidak perlu diingat tapi tak bisa dilupakan.

Ada masa ketika aku pikir hidup paling melelahkan adalah deadline kantor dan rapat yang tidak pernah selesai. Lalu aku ikut Pelatihan Bela Negara di Rindam Magelang, dan ternyata tubuh manusia bisa disiksa dengan cara yang jauh lebih kreatif daripada sekadar zoom jam delapan pagi.

Semuanya dimulai dengan upacara, acara paling damai selama pelatihan. Sebelum kami dilempar ke realitas tempat ini: dunia di mana “istirahat” hanyalah kata dalam kamus, dan “minum” hanya dilakukan saat pelatih tidak melihat. Lengkap dengan suara teriakan yang bisa menggetarkan tanah, atau minimal menggetarkan niat untuk hidup.

PBB menjadi pembuka: seni menggerakkan kaki kanan dan pikiran kiri secara bersamaan. Dalam hitungan lima menit, kami berubah dari manusia merdeka menjadi robot setengah rusak yang salah langkah hanya karena angin lewat. Pelatih mengawasi seperti cctv yang selalu “recalculating”, tapi dengan volume suara lebih besar dan ancaman yang lebih meyakinkan.

Kelas-kelas teori kemudian hadir sebagai oase palsu. Duduk memang, tapi otak tetap dipaksa bekerja sambil mata berjuang agar tidak tumbang. Materi kebangsaan, etika, kepemimpinan, radikalisme semuanya disampaikan dengan gaya yang membuatmu sadar bahwa ini bukan sekadar pelatihan. Ini “peringatan halus” dari negara: jangan macam-macam.

Bela diri taktis muncul untuk mengingatkan bahwa tubuhmu bisa sakit di tempat-tempat yang sebelumnya tidak kamu ketahui memiliki saraf. Posisi kuda-kuda? Lebih mirip kuda pincang. Pelatih mencontohkan sekali, kami mengulang sepuluh kali, dan tetap terlihat seperti video buffering.

Lalu jadilah kami dilempar ke permainan kepemimpinan dan kerja sama tim. “Kerja sama,” katanya. Padahal lebih mirip simulasi bagaimana manusia kehilangan kesabaran dalam 30 detik pertama. Ada yang dominan, ada yang pasrah jadi batu hias. Semua demi menyelesaikan misi yang, ironisnya, bahkan di dunia nyata pun tidak akan pernah kami hadapi.

Jam makan pun tidak jauh lebih baik. Bahkan lebih horor. Porsinya gila. Nasi numpuk kayak lagi bangun pondasi rumah. Dan lauknya? Cuma dua: pindang yang baunya mengintai mimpi buruk, dan telur rebus yang muncul setiap saat kayak mantan toxic yang nggak mau pergi. Susu Milku yang lebih bisa di bilang sirup rasa susu coklat siap mendorong roti Ro-ka rasa pandan. Mau protes? Silakan, tapi lidahmu bakal ikut dilipat sama pelatih.

Kemudian datang bagian paling menyenangkan versi pelatih: survival. Bagian paling menyedihkan versi peserta. Tapi justru aku paling menikmati bagian ini.

Kami belajar menangkap ular tapi hari itu menjadi menu makan siang. Dari cara memegang ekornya, menekan kepalanya, menguliti, memotong, dan membakar. Daging ular bakar tak seenak bayanganku. Aku lebih suka di goreng garing sehingga mirip leher ayam. Tapi aku lebih memilih ular ketimbang ikan pindang yang sejak dulu sudah aku jauhi.

Water rescue? Jangan bayangkan adegan heroik di sungai atau kolam. Nyatanya hanya latihan kering di lapangan, semacam tutorial dasar untuk menyelamatkan orang yang bahkan tidak tenggelam. Kami belajar teknik angkat, tarik, dan gendong. Yang paling dekat dengan air hanyalah keringat sendiri, itu pun kalau masih tersisa air dalam tubuh untuk dikeluarkan.

Di sela-sela itu semua, ada yel-yel yang harus diteriakkan penuh semangat. Entah kenapa rasanya seperti candaan gelap tentang hati yang sudah beberapa kali ingin menyerah.

Lagu Halo-Halo Bandung diputar lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai rasanya otakku minta cerai dari kepalaku sendiri. Kalau Bandung bisa ngomong, mungkin dia bakal bilang, “Udahlah bang, saya capek.” Tapi pelatih tetap nyuruh kami teriak, seolah lagu itu adalah oksigen. Padahal tiap kali nyanyinya mulai, yang mati duluan justru semangatku. Di sela-sela siksa itu, kami harus teriak, "Hanya satu tekad kami!" Entah tekad apa. Tekad untuk bertahan hidup? Tekad untuk kabur? Tekad untuk bunuh diri secara emosional, yang jelas, tiap kali teriakannya menggema, rasa lelah berubah jadi pasrah.

Outbond itu, menuruni dinding dengan tali. Anehnya jadi satu-satunya bagian yang terasa waras. Tubuh tegang, tangan panas, kaki gemetar, tapi kepalaku justru tenang. Tidak ada teriakan yang masuk, tidak ada lagu nasional yang memantul di otak. Hanya aku, tali, dan dinding. Kalau semua ini harus diulang, bagian itu saja. Yang lain? Tidak usah sok heroik.

Malamnya disebut-sebut “malam pembentukan mental”. Katanya seram. Nyatanya tidak. Tidak ada hantu, tidak ada bisikan. Yang ada cuma wajah-wajah penuh cat hitam yang susah hilang, lengket di kulit dan di kepala. Capek, lengket, malas. Seramnya bukan pada suasana, tapi pada kesadaran bahwa besok masih harus bangun dan berpura-pura kuat.

Dan entah bagaimana, semua itu akhirnya selesai juga. Teriakan berhenti. Barisan bubar. Tidak ada lagi nasi gunung, telur abadi, dan pindang sialan yang terus mengejar sampai mimpi. Kami pulang bukan sebagai pahlawan cuma orang-orang lelah yang senang karena satu hal sederhana: akhirnya bisa lari jauh dari pindang.

Ini cuma catatan singkat tentang hari-hari yang seharusnya bisa dilupakan tapi sialnya menempel: teriakan tanpa jeda, lagu yang diputar kebanyakan, tubuh yang dipaksa patuh, wajah penuh hitam yang susah hilang, nasi kebanyakan, telur yang selalu ada, dan pindang yang rasanya seperti hukuman tambahan—semua bercampur jadi satu rasa muak yang anehnya bertahan lama; tidak ada pelajaran heroik, tidak ada momen suci, hanya kelelahan yang jujur dan satu kesadaran pahit: aku tidak ingin mengingatnya, tapi tubuhku sudah lebih dulu menyimpannya.


Jumat, 21 November 2025 0 comments

tembok di 2050 Mdpl.

Sabtu dini hari, kami berangkat dari rusun — masih ngantuk, tapi pura-pura semangat. Rencana awalnya sih mau ngejar sunrise. Tapi kayaknya matahari pun tahu kami terlalu optimis untuk itu.

Baru keluar dikit, jalanan udah kayak antrean sembako: macet. Ternyata ada kecelakaan di depan terminal Banyumanik. Ya sudah, kami ikut macet bersama puluhan kepala yang juga bertanya-tanya kenapa harus di jam segini. Belum cukup, kami masih sempat-sempatnya mampir ke Indomaret — karena, tentu saja, pendakian tanpa sosis, roti, dan pocari kurang sedap.

Begitu lewat Pasar Jimbaran, suasananya sudah kayak simulasi neraka jam lima pagi. Lalu lalang sayuran segar, truk, pedagang yang teriak, motor zig-zag di antara karung kubis. Di situ aku baru sadar: mungkin yang paling tangguh di dunia bukan pendaki, tapi ibu-ibu pasar yang udah siap tempur sebelum subuh.

Kami belok ke arah Umbul Sidomukti, berharap bisa langsung tancap ke Basecamp Mawar. Tapi ya, harapan tinggal harapan. Portalnya masih tutup. Padahal, kami sudah cari info sekalian cari template video—katanya jalur tektok bisa dibuka dari jam dua. Jam di HP sudah menunjuk 03.30, dan kami cuma bisa bengong di bawah lampu jalan yang redup, sambil pura-pura gak bete.

Akhirnya, setelah debat kecil dan beberapa saran yang gak masuk akal “naik dari sini aja, toh sama aja gunungnya”, kami mutuskan lewat jalur Perantunan. Jalur yang katanya lebih ekstrem. Lebih alami. Lebih “murni”.

Langit masih gelap saat kami mulai bersiap untuk summit. Headlamp sudah menyala, wajah-wajah masih setengah sadar, dan langkah pertama terasa seperti negosiasi antara niat dan kantuk. Udara dingin menggigit, tapi kami pura-pura tangguh—karena gak lucu juga baru mulai sudah mengeluh.

Lewat Pos 1 kami terus jalan tanpa istirahat. Logika kami sederhana: mumpung napas masih panjang dan jalur belum tega bikin menyesal. Dari luar terlihat seperti semangat, tapi mungkin lebih karena gengsi—gak mau jadi yang pertama bilang “sebentar ya, minum dulu.”

Di Pos 2, cahaya mulai muncul dari balik kabut. Headlamp satu per satu padam, diganti sinar oranye lembut yang bikin gunung terlihat lebih ramah dari biasanya. Suasana berubah—yang tadinya sunyi, jadi penuh haha hihi palsu, bercampur antara euforia dan denial.

Masuk Pos 3, napas mulai tersengal, langkah mulai gonta-ganti kaki dominan. Lutut sudah mulai kirim surat protes. Tapi kami tetap berjalan santai, karena katanya slow is the new fast. Jalur berikutnya—dari Pos 3 ke Pos 4—adalah ujian mental. Tanah licin sisa hujan semalam, akar-akar menjulur seperti jebakan alam.

Begitu plang “Pos 4” muncul, kami seperti melihat oase. Tapi ya tentu saja, gunung gak suka kalau manusia terlalu senang. Langsung disambut hujan deras. Kami berhenti, menunggu reda, berusaha tidak kehilangan jari-jari karena kedinginan.

Beberapa dari kami mulai menggigil, dan karena diam terlalu lama bikin keadaan makin absurd, akhirnya kami lanjut. Jas hujan dikeluarkan—warna-warni: merah, kuning, biru, hijau. Di tengah kabut dan tanah basah itu, kami terlihat seperti rombongan ayam karet yang tersesat di dunia mistis. Setiap langkah disertai bunyi plastik gesek yang membuat suasana makin tragikomik.

Dan di titik itu, aku mulai bertanya-tanya dalam hati: ini pendakian atau parade sirkus tanpa penonton?

Badai belum juga berlalu. Angin makin jadi, hujan makin kurang ajar, dan kami tetap memaksa naik ke Pos 5—karena sudah terlalu jauh untuk menyerah, tapi terlalu sengsara untuk disebut menikmati.

Setiap langkah terasa seperti dada dan lutut sedang reuni penuh rindu—bertabrakan tanpa henti. Hujan yang tadi cuma deras sekarang berubah jadi ambisius. Tanah makin licin, akar-akar berubah jadi seluncuran alami, dan sepatu kami tidak lagi punya konsep “grip”.

Kami sampai di Pos 5 dengan kondisi yang bisa dibilang: putus asa tapi masih sok kuat. Hujan masih belum selesai memainkan konsernya, jadi kami tidak berlama-lama. Tanpa pikir panjang, kami langsung bergegas menuju puncak Bondolan.

Di tengah perjalanan, bonus datang: air terjun dadakan. Dan bukan air terjun estetik ala wallpaper—ini lebih seperti Milo panas yang ditumpahkan Tuhan tepat ke jalur. Lumpur coklat mengalir deras, membentuk sungai kecil yang gak kecil-kecil amat. Setiap kali melangkah, kami seperti sedang berjuang tidak hanyut oleh minuman energi versi murah ini.

Plastik jas hujan terus berkibas, muka kami sudah tidak bisa dibedakan mana keringat mana hujan. Suhu terus turun, stamina menolak naik.

Tapi puncak Bondolan sudah dekat. Atau minimal, itu yang terus kami bisikkan untuk menenangkan diri. Karena di balik kabut dan guyuran hujan itu, entah apa yang sebenarnya menunggu.

Dan akhirnya, puncak Bondolan atau sesuatu yang seharusnya puncak Bondolan. Karena yang terlihat dari atas hanya tembok putih raksasa—kabut tebal yang berdiri seperti dinding permanen, seakan-akan gunung sedang berkata, “Ngapain jauh-jauh naik kalau cuma mau lihat putih? Nih, ambil semuanya.”

Tidak ada pemandangan. Tidak ada lembah. Tidak ada matahari dramatis. Hanya angin kencang yang datang dari samping seperti tamparan realita.

Kami bertahan beberapa detik—sekadar untuk membuktikan bahwa kami sudah sampai. Lalu angin membuat keputusan untuk kami: segera turun, sebelum kalian terbang tanpa sayap.

Perjalanan turun adalah perjuangan lain, tapi setidaknya hujan mulai capek nyerang. Begitu kami kembali mencapai Pos 1, gunung tiba-tiba berubah mood. Langit cerah. Awan hilang. Matahari muncul dengan polosnya.

Kami saling pandang. Mau balik lagi? Tentu tidak.

Aroma Indomie dari warung basecamp sudah merayu seperti mantra.
Di titik itu, pemandangan indah bukanlah golden hour atau bukit yang selaras—tapi semangkuk mie kuah panas dengan telur ceplok yang bentuknya tidak sempurna.

Dan jujur… itu puncak paling masuk akal hari itu.

 
;