Minggu, 08 September 2024 0 comments

tidak semua harus menjadi sesuatu.

"Banyak-banyak terima kasih Tuhan buat berkat-Mu yang terus ada sampai sekarang. Meskipun sempat aku ragu akan keberadaanku, aku percaya perjalanan ke tempat ini akan buat pengalaman yang lebih baik daripada hari ini."

Enggak tahu kenapa bisa berdoa kayak gitu pas bermalam di Baduy Dalam. Seharian jalan kaki menikmati ciptaan Tuhan seharusnya aku capek dan langsung tidur tapi kayaknya suasana bikin aku mikir jauh lagi. Hari ini terlalu banyak ilmu baru yang masuk ke otak ini. Perjalanan yang sebenernya sudah lama aku pengen ini punya banyak hal yang harus mulai aku lakukan.

Baduy sebenarnya punya banyak potensi buat jadi tempat wisata yang punya ciri khasnya. Masyarakat bisa kok jadi sama kayak masyarat luar lainnya. Nyatanya pemerintah setempat juga sudah hadir buat mereka. Tapi mereka menolaknya dengan halus. Mereka memilih hidup sederhana seperti ajaran yang mereka yakini.

Pilihan mereka justru yang membuat mereka terlihat berbeda dengan yang lainnya. Sampai di Baduy Dalam, mencoba mandi dengan pancuran air alami sudah di sambut sama kunang-kunang yang belom pernah sama sekali aku lihat dari dekat selama tiga dekade hidup di dunia ini. Belom lagi selama perjalanan kesederhanaan mereka juga buat aku heran, masih ada ya orang-orang yang kayak gini di Indonesia. Mereka bener-bener slow living, hidup apa adanya, terlihat tidak ada sesuatu yang mereka kejar.

Mereka sama sekali tidak ingin menjadi sesuatu yang orang biasa lain harapkan. Rutinitas mereka hanya ladang. Sore hari, hiburan mereka hanya bermain kolintang bersama. Rumah mereka hampir sama. Tak ada yang berlebihan.

Jauh berbeda dengan kehidupan jaman sekarang yang semua sudah diatur oleh standar yang diadakan oleh masyarakat. Seolah semua harus punya pencapaian di usia tertentu. Dewasa yang kukira sebebas itu ternyata terikat oleh "sesuatu" yang harus dicapai. Seumuranku sudah seharusnya punya anak yang sudah mau masuk ke Sekolah Dasar, punya penghasilan dua digit perbulan, sudah berkeliling minimal Asia Tenggara, sudah punya mobil, atau sudah punya rumah di kawasan elit. Kata siapa?

Aku yang berjuang sendirian ini dituntut untuk menjadi "sesuatu" berdasarkan standar yang ada di masyarakat. Memang kalau aku bisa mencapai semua itu, aku bisa bahagia? Apa kalian bisa menjaminnya?

Kalau bukan itu arti bahagia yang ada di kepalaku apa aku salah?

Semua orang punya tafsiran bahagia menurut versinya masing-masing. Aku bahagia bisa menghabiskan sebagian waktuku untuk duduk menikmati segelas kopi gula aren sendirian sambil scroll youtube short. Aku bahagia sesekali bisa pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi. Aku bahagia bisa mengitari mall sendiri tanpa beli apa-apa. Aku bahagia bisa hidup sampai sekarang.

Mungkin bahagiaku tak semewah makna bahagiamu. Tapi aku tak pernah menghakimi arti bahagia karena aku tahu aku tak punya hak akan itu. Untukku, tidak semua harus jadi sesuatu karena makna sesuatu punya versinya masing-masing.

Rabu, 07 Agustus 2024 0 comments

belum ada cerita tentangku.

Semalaman aku mencari kesalahan apa sampai aku berada di titik ini. Sepertinya sudah cukup buatku untuk selalu mengerti orang lain. Sudah cukup untuk selalu menyenangkan hati mereka. Sudah cukup untuk menuruti kata mereka. Aku tak sampai hati mengatakan kalau aku muak dengan cerita kalian. Aku tak pernah bisa bilang kalau aku pun pernah berada di titik yang lebih rendah dari kalian walau tampilanku haha-hihi setiap hari. Aku tak bisa meminta tolong karena aku diam saja selalu salah.

Aku terbiasa tidak dianggap, sehingga aku akan diam saja sampai kalian yang bertanya. Aku terbiasa tak didengar sehingga tiap kalian minta ku bercerita, aku tak pernah bisa. Wajar saja kalau kalian kira aku bisu. Aku tak berhak menuntut karena aku tahu aku bukan siapa-siapa.


Kembali ku mengingat sebab mulutku ini terkunci. Mungkin aku tak mau mengiba, mungkin aku tak suka orang tahu siapa aku sebenarnya, atau mungkin aku sudah terbiasa untuk tidak bercerita. Aku kembali menggali semua dosa yang pernah kulakukan. Mungkin saat ini waktunya Tuhan menghukumku.


Sampai ketika aku mulai ingin bercerita, ternyata kalian sudah terbiasa hanya bersàma telingaku saja. Aku ragu untuk mulai bicara dan memang semua orang ada masanya. Aku pergi dan kita berlalu begitu saja. Ceritaku? Dari awal aku sadar diri kalau tak ada yang lebih penting dari ceritamu. Sudut pandangku terlalu berbeda, hidupku terlalu mudah menurut kalian, dan lukaku tak sedalam kalian.

Minggu, 04 Agustus 2024 0 comments

sial, aku ketiduran

Aku berusaha keras mencari sumber suara. Entah berapa kali sudah berdering, sudah waktunya aku kembali ke rutinitas. Aku sempat diam sebentar, ternyata matahari sudah di ubun-ubun. Aku terlambat bangun.

Aku tak ingat jam berapa aku tertidur. Terakhir, aku masih menonton drama Korea sambil makan roti kukus yang salah pesan dan menyeruput kopi yang terlalu manis. Ponselku masih menyala di genggaman tangan dan kacamataku masih terpakai. Sial, aku ketiduran.

Aku mengecek notifikasi usai bergegas mandi dan bersiap. Semua masih sama saja. Tak ada tanda-tanda pesan darimu. WhatsApp, Instagram, X, atau aplikasi apapun.

Seperti biasa: layar penuh notifikasi tak penting, grup kantor, promo e-commerce, undangan webinar yang entah siapa yang mengundang—tapi satu hal yang selalu kosong: pesan darimu.

Aku memandang layar ponselku lama-lama. Barangkali ada notifikasi yang terselip. Barangkali ada sinyal semesta yang tertinggal. Tidak ada. Dan rasanya lucu, aku yang biasanya begitu menguasai rencana, timeline, target, akhirnya cuma jadi orang yang menunggu pesan kosong dari seseorang yang mungkin sudah menghapusku dari pikirannya.

Aku tersenyum pahit. Ya, beginilah aku. Terlambat bangun, terlambat sadar. Terlambat mengerti kalau semua notifikasi dunia tidak akan pernah mengisi ruang yang sebenarnya aku tunggu.

Aku menyeduh kopi lagi. Kali ini lebih pahit. Tidak manis. Entah kenapa aku ingin memaki, ingin menertawakan diriku sendiri. Pagi ini aku belajar bahwa tidak semua yang kita tunggu akan datang. Tidak semua alarm yang kita pasang akan membangunkan kita tepat waktu.

Dan seperti itu juga denganmu.

Aku telat bangun. Kau telat kembali. Kita sama-sama telat, dan sekarang aku duduk di sini menatap layar kosong, bertanya:

aku ini sebenarnya sedang menunggu pesan, atau sedang menunggu diriku sendiri kembali?


 
;