Rabu, 07 Agustus 2024 0 comments

belum ada cerita tentangku.

Semalaman aku mencari kesalahan apa sampai aku berada di titik ini. Sepertinya sudah cukup buatku untuk selalu mengerti orang lain. Sudah cukup untuk selalu menyenangkan hati mereka. Sudah cukup untuk menuruti kata mereka. Aku tak sampai hati mengatakan kalau aku muak dengan cerita kalian. Aku tak pernah bisa bilang kalau aku pun pernah berada di titik yang lebih rendah dari kalian walau tampilanku haha-hihi setiap hari. Aku tak bisa meminta tolong karena aku diam saja selalu salah.

Aku terbiasa tidak dianggap, sehingga aku akan diam saja sampai kalian yang bertanya. Aku terbiasa tak didengar sehingga tiap kalian minta ku bercerita, aku tak pernah bisa. Wajar saja kalau kalian kira aku bisu. Aku tak berhak menuntut karena aku tahu aku bukan siapa-siapa.


Kembali ku mengingat sebab mulutku ini terkunci. Mungkin aku tak mau mengiba, mungkin aku tak suka orang tahu siapa aku sebenarnya, atau mungkin aku sudah terbiasa untuk tidak bercerita. Aku kembali menggali semua dosa yang pernah kulakukan. Mungkin saat ini waktunya Tuhan menghukumku.


Sampai ketika aku mulai ingin bercerita, ternyata kalian sudah terbiasa hanya bersàma telingaku saja. Aku ragu untuk mulai bicara dan memang semua orang ada masanya. Aku pergi dan kita berlalu begitu saja. Ceritaku? Dari awal aku sadar diri kalau tak ada yang lebih penting dari ceritamu. Sudut pandangku terlalu berbeda, hidupku terlalu mudah menurut kalian, dan lukaku tak sedalam kalian.

Minggu, 04 Agustus 2024 0 comments

sial, aku ketiduran

Aku berusaha keras mencari sumber suara. Entah berapa kali sudah berdering, sudah waktunya aku kembali ke rutinitas. Aku sempat diam sebentar, ternyata matahari sudah di ubun-ubun. Aku terlambat bangun.

Aku tak ingat jam berapa aku tertidur. Terakhir, aku masih menonton drama Korea sambil makan roti kukus yang salah pesan dan menyeruput kopi yang terlalu manis. Ponselku masih menyala di genggaman tangan dan kacamataku masih terpakai. Sial, aku ketiduran.

Aku mengecek notifikasi usai bergegas mandi dan bersiap. Semua masih sama saja. Tak ada tanda-tanda pesan darimu. WhatsApp, Instagram, X, atau aplikasi apapun.

Seperti biasa: layar penuh notifikasi tak penting, grup kantor, promo e-commerce, undangan webinar yang entah siapa yang mengundang—tapi satu hal yang selalu kosong: pesan darimu.

Aku memandang layar ponselku lama-lama. Barangkali ada notifikasi yang terselip. Barangkali ada sinyal semesta yang tertinggal. Tidak ada. Dan rasanya lucu, aku yang biasanya begitu menguasai rencana, timeline, target, akhirnya cuma jadi orang yang menunggu pesan kosong dari seseorang yang mungkin sudah menghapusku dari pikirannya.

Aku tersenyum pahit. Ya, beginilah aku. Terlambat bangun, terlambat sadar. Terlambat mengerti kalau semua notifikasi dunia tidak akan pernah mengisi ruang yang sebenarnya aku tunggu.

Aku menyeduh kopi lagi. Kali ini lebih pahit. Tidak manis. Entah kenapa aku ingin memaki, ingin menertawakan diriku sendiri. Pagi ini aku belajar bahwa tidak semua yang kita tunggu akan datang. Tidak semua alarm yang kita pasang akan membangunkan kita tepat waktu.

Dan seperti itu juga denganmu.

Aku telat bangun. Kau telat kembali. Kita sama-sama telat, dan sekarang aku duduk di sini menatap layar kosong, bertanya:

aku ini sebenarnya sedang menunggu pesan, atau sedang menunggu diriku sendiri kembali?


Jumat, 02 Agustus 2024 0 comments

gambar seorang anak perempuan.

Seorang anak perempuan sedang menggambar sebuah rumah. Tak muluk-muluk yang ia ganbar dengan pensil hitamnya. Tangan mungilnya mulai menarik garis yang tentu saja tak serapi bila ia menggunakan penggaris. Ia memulai membuat garis horisontal yang membagi kertas itu menjadi dua bagian. Lalu ia membuat dua garis vertikal diatasnya. Garis itu sejajar, tak terlalu panjang sampai membagi bagian atas garis horisontalnya. Jaraknya pun cukup dekat. Diatas kedua garis vertikal tersebut, ia membuat segitiga yang tak terlalu tinggi. Kemudian ia menghias isi persegi tersebut dengan persegi lain dengan satu berukuran lumayan besar dan empat lagi yang berhimpit dengan ukuran yang lebih kecil. Tak lupa ia menggambar beberapa tanaman rumput perdu dan pepohonan di samping kanan kiri gambarnya.

Anak perempuan itu tak terlalu suka mewarnai. Ia membiarkan gambarnya berwarna hitam putih. Ia hanya memulas pensil warna hijau di samping kanan kiri dan bawah gambarnya. Di bagian atas gambarnya, ia memulaskan warna biru muda. Beberapa bunga juga ia warnai merah tua dan muda. Semua tampak cantik dan berwarna di sekitar "rumah" yang ia gambar. Bukan ia tak punya waktu untuk itu, ia memang hanya menginginkan banyak warna.

Tuhan, sesederhana itu saja inginku. Apa aku tak pantas untuk mendapatkannya? Apa pintaku terlalu muluk-muluk? Apa aku tak bisa seperti yang lainnya?

Aku tak perlu yang "terlalu", aku hanya ingin yang sesederhana mungkin saja. Tak apa kalau biasa saja karena aku hanya butuh yang seperti itu.

 
;