Rabu, 20 Maret 2024 0 comments

hidup yang begini-begini saja.

Gemericik kolam koi memenuhi telinga, sesekali suara decit burung ikut meramaikan isi kepala. Hembusan napas mulai terasa berat, pukul lima masih lumayan lama. Aku mulai bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Pekerjaan yang sebenarnya diada-adakan. Seharian aku hanya memandangi jarum jam, berharap semua segera berakhir dan aku kembali ke liangku. Begitu terus sampai tak terasa sudah dua tahun aku disini.

Jemariku semakin handal mengetik cerita, lidahku mulai lihai bersilat. Ilmu menghilang dan jurus mencuci tanganku semakin handal. Banyak orang menjadi panutanku dan banyak guru yang mengajariku. Tapi bukan itu semua yang ingin kudapatkan sebenarnya.

Scroll sosial media menjadi salah satu jalan untuk menghabiskan waktu. Hingga satu hal yang mengganjal di hatiku dan terus berputar di benakku. Aku banyak tertinggal diantara yang lain. Handphoneku yang butut. Tasku yang tak semahal milik yang lain. Pakaianku yang itu-itu saja. Sepatuku yang tak pernah ganti. Saldo rekeningku yang tak pernah bertambah. Belum hingga sekarang aku masih sendirian.

Tak banyak pencapaian dalam hidupku. Teman-teman sekitar sudah ada yang punya anak tiga, ada yang menikah lagi padahal baru tahun lalu bercerai, ada yang ikut suami mengambil pasca sarjana di luar negeri, ada yang sibuk menjadi abdi negara, ada yang sibuk keliling Eropa, ada yang  sibuk menggandeng pacarnya dari cafe ke cafe, dan ada aku yang hidupnya begini-begini saja.

Kadang aku merasa sampah. Kadang aku merasa lelah. Kadang aku merasa payah. Kadang aku merasa kalah.

Hidupku hanya berputar di rutinitas yang memuakan. Sesekali keluar mendengarkan cerita orang lain yang merasa paling teraniaya tanpa pernah mencoba memberi waktu untuk yang lain bercerita. Sesekali dikasihani karena pergi keluar sendirian. Sesekali dianggap keren karena story kelayapan padahal mereka tak tahu kalau aku hanya ingin menyibukan diri agar tak berbuat terlalu jauh.

Aku ingin kehidupan seperti yang mereka pertontonkan. Semua penuh cahaya dan tawa, penuh perayaan tanpa badai yang menghalangi, jauh dari seram. Terlihat lebih menarik, lebih berwarna, lebih ada proggres dan tidak begini-begini saja.

Apa yang dulu kubayangkan akan mudah kuraih ternyata tidak. Semua sulit untuk dicapai dan semakin suram. Semua pilihan jalan terlihat salah. Apa hidupku juga akan berakhir dengan begini-begini saja?

Rabu, 06 Maret 2024 0 comments

Dialog Pada Diri Sendiri (Bukan Lagi Monolog)

Aku mendoakanmu dari jauh. Jauh sekali sampai mungkin malaikat tak mendengarkan doaku yang baik-baik ini untukmu. Mereka enggan untuk aku mengingatmu barang sedetik karena tak ada kenangan manis ketika bersamamu.

Tenang, semua yang sirna akan diganti. Aku sudah mulai mengiklaskan dirimu. Aku senang, bisa terlepas darimu. Bebas dari bayanganmu yang selama ini memaksakan pelukanmu.

Aku berbicara pada diriku sendiri—atau mungkin berbicara pada bayanganmu yang belum sepenuhnya hilang. Kadang aku masih merasa kau berdiri di pojok kamarku, tersenyum seolah tak pernah ada salah. Kadang aku ingin menertawakan diriku sendiri yang pernah menganggapmu rumah. Ternyata aku cuma numpang mimpi di reruntuhan rumah orang lain.

Aku bilang pada diriku, “Sudahlah. Semua orang memang pandai pura-pura. Kamu juga pernah kan?” Dan aku tertawa kecil, sinis pada pantulan wajahku sendiri di cermin yang mulai berdebu. Aku tidak sedang berbohong. Aku hanya sedang mengulang-ulang kalimat yang dulu sering kau pakai untuk menenangkan kesalahanmu sendiri: “Tenang, semua baik-baik saja.”

Ternyata memang tidak ada yang baik-baik saja. Bahkan doaku pun terasa basi. Bahkan rinduku sudah jadi racun. Bahkan kata-kata maaf yang dulu ku simpan sekarang seperti tiket masuk ke tempat yang sudah terbakar habis.

Aku mengangguk pada diriku sendiri, “Ya, aku sudah mulai terbiasa tanpa dia.” Tapi sebenarnya aku sedang berkata, “Aku hanya mulai terbiasa dengan rasa sakitnya.” Bedanya tipis, dan aku sudah malas menjelaskannya pada siapa pun.

Orang bilang waktu akan menyembuhkan. Orang bilang ikhlas akan datang sendiri. Tapi orang-orang yang bilang itu tidak pernah benar-benar tahu rasanya jadi aku. Mereka hanya pandai memberi kata-kata gratis yang manis di permukaan. Padahal hidup ini bukan puisi motivasi; hidup ini lebih mirip catatan kaki yang penuh coretan.

Aku tak lagi ingin mengulang kisah lama. Aku tak ingin memintamu kembali. Aku juga tak ingin terlihat tegar di depan siapa pun. Aku hanya ingin diam, duduk, menatap dinding, dan berkata pada diriku sendiri: “Kita sudah sampai sejauh ini, tapi kenapa rasanya seperti baru mulai jatuh?”

Dan mungkin memang begitu. Mungkin aku tidak pernah benar-benar bangkit. Mungkin aku cuma belajar berjalan sambil menyeret luka. Tapi tak apa, kan? Setidaknya sekarang aku tahu: doa yang kuselipkan untukmu bukan lagi doa, hanya sisa-sisa kata yang bahkan malaikat pun malas mencatatnya.

Aku diam, menatap layar kosong. Dialog ini masih belum selesai. Tapi bukankah semua orang juga begitu? Berjalan sambil pura-pura selesai. Mengakhiri sambil pura-pura ikhlas. Menutup pintu sambil pura-pura lupa.

Dan aku? Aku hanya menulis di sini, menatap kata-kataku sendiri, berharap mereka berhenti menggigitku balik.


Jumat, 23 Februari 2024 0 comments

antrean mandi dan hal-hal yang tak pernah kusebutkan.

Beberapa orang datang hanya untuk mengacau kebahagiaan. Kadang tanpa sadar, kadang memang sengaja. Pilihannya sederhana: larut dalam drama yang mereka ciptakan, atau membuat huru-hara baru sekadar untuk menghibur dirimu sendiri. Aku memilih yang kedua—karena hidup sudah cukup berat untuk ditambah beban yang bukan milikku.

Debur ombak menemani pikiranku. Anginnya membawa rasa asin laut, dinginnya menempel di kulit, tapi ada juga tenang yang tidak bisa dijelaskan. Laut seolah mengingatkanku: segaduh apa pun manusia, semesta tetap punya ritmenya sendiri. Ombak datang, ombak pergi, tanpa peduli siapa yang sedang marah atau siapa yang sedang pura-pura bahagia.

Aku menulis ini di Pulau Sebesi, Lampung, sambil menunggu antrean mandi yang panjang. Rasanya lucu, di tengah perjalanan yang seharusnya tentang keindahan dan liburan, aku malah menemukan ruang untuk berdamai dengan isi kepala. Menunggu, yang biasanya membosankan, justru jadi momen untuk menuliskan apa yang sering kutahan.

Tapi berdamai tidak selalu mudah. Aku masih sering kesal pada diriku sendiri karena terlalu banyak diam. Terlalu sering menahan. Terlalu sering pura-pura baik-baik saja, padahal kepalaku penuh teriakan. Orang bilang waktu akan menyembuhkan, tapi aku tidak yakin. Waktu hanya membuatku lebih terbiasa menyimpan luka.

Aku tidak tahu sampai kapan bisa begini. Tidak tahu apakah benar aku kuat, atau hanya sedang pandai berpura-pura. Yang kutahu, aku lelah kalau harus terus mengakomodasi orang lain, menenangkan mereka, padahal aku sendiri butuh ditenangkan.

Di sini, jauh dari rumah, jauh dari ributnya orang-orang yang selalu merasa benar, aku belajar satu hal: mungkin aku tidak perlu selalu baik-baik saja. Mungkin aku berhak marah. Mungkin aku berhak kecewa. Dan kalaupun aku tidak bisa meluapkannya di depan siapa pun, biarlah laut yang jadi saksi.

 
;