Aku mendoakanmu dari jauh. Jauh sekali sampai mungkin malaikat tak mendengarkan doaku yang baik-baik ini untukmu. Mereka enggan untuk aku mengingatmu barang sedetik karena tak ada kenangan manis ketika bersamamu.
Tenang, semua yang sirna akan diganti. Aku sudah mulai mengiklaskan dirimu. Aku senang, bisa terlepas darimu. Bebas dari bayanganmu yang selama ini memaksakan pelukanmu.
Aku berbicara pada diriku sendiri—atau mungkin berbicara pada bayanganmu yang belum sepenuhnya hilang. Kadang aku masih merasa kau berdiri di pojok kamarku, tersenyum seolah tak pernah ada salah. Kadang aku ingin menertawakan diriku sendiri yang pernah menganggapmu rumah. Ternyata aku cuma numpang mimpi di reruntuhan rumah orang lain.
Aku bilang pada diriku, “Sudahlah. Semua orang memang pandai pura-pura. Kamu juga pernah kan?” Dan aku tertawa kecil, sinis pada pantulan wajahku sendiri di cermin yang mulai berdebu. Aku tidak sedang berbohong. Aku hanya sedang mengulang-ulang kalimat yang dulu sering kau pakai untuk menenangkan kesalahanmu sendiri: “Tenang, semua baik-baik saja.”
Ternyata memang tidak ada yang baik-baik saja. Bahkan doaku pun terasa basi. Bahkan rinduku sudah jadi racun. Bahkan kata-kata maaf yang dulu ku simpan sekarang seperti tiket masuk ke tempat yang sudah terbakar habis.
Aku mengangguk pada diriku sendiri, “Ya, aku sudah mulai terbiasa tanpa dia.” Tapi sebenarnya aku sedang berkata, “Aku hanya mulai terbiasa dengan rasa sakitnya.” Bedanya tipis, dan aku sudah malas menjelaskannya pada siapa pun.
Orang bilang waktu akan menyembuhkan. Orang bilang ikhlas akan datang sendiri. Tapi orang-orang yang bilang itu tidak pernah benar-benar tahu rasanya jadi aku. Mereka hanya pandai memberi kata-kata gratis yang manis di permukaan. Padahal hidup ini bukan puisi motivasi; hidup ini lebih mirip catatan kaki yang penuh coretan.
Aku tak lagi ingin mengulang kisah lama. Aku tak ingin memintamu kembali. Aku juga tak ingin terlihat tegar di depan siapa pun. Aku hanya ingin diam, duduk, menatap dinding, dan berkata pada diriku sendiri: “Kita sudah sampai sejauh ini, tapi kenapa rasanya seperti baru mulai jatuh?”
Dan mungkin memang begitu. Mungkin aku tidak pernah benar-benar bangkit. Mungkin aku cuma belajar berjalan sambil menyeret luka. Tapi tak apa, kan? Setidaknya sekarang aku tahu: doa yang kuselipkan untukmu bukan lagi doa, hanya sisa-sisa kata yang bahkan malaikat pun malas mencatatnya.
Aku diam, menatap layar kosong. Dialog ini masih belum selesai. Tapi bukankah semua orang juga begitu? Berjalan sambil pura-pura selesai. Mengakhiri sambil pura-pura ikhlas. Menutup pintu sambil pura-pura lupa.
Dan aku? Aku hanya menulis di sini, menatap kata-kataku sendiri, berharap mereka berhenti menggigitku balik.

