Beberapa orang datang hanya untuk mengacau kebahagiaan. Kadang tanpa sadar, kadang memang sengaja. Pilihannya sederhana: larut dalam drama yang mereka ciptakan, atau membuat huru-hara baru sekadar untuk menghibur dirimu sendiri. Aku memilih yang kedua—karena hidup sudah cukup berat untuk ditambah beban yang bukan milikku.
Debur ombak menemani pikiranku. Anginnya membawa rasa asin laut, dinginnya menempel di kulit, tapi ada juga tenang yang tidak bisa dijelaskan. Laut seolah mengingatkanku: segaduh apa pun manusia, semesta tetap punya ritmenya sendiri. Ombak datang, ombak pergi, tanpa peduli siapa yang sedang marah atau siapa yang sedang pura-pura bahagia.
Aku menulis ini di Pulau Sebesi, Lampung, sambil menunggu antrean mandi yang panjang. Rasanya lucu, di tengah perjalanan yang seharusnya tentang keindahan dan liburan, aku malah menemukan ruang untuk berdamai dengan isi kepala. Menunggu, yang biasanya membosankan, justru jadi momen untuk menuliskan apa yang sering kutahan.
Tapi berdamai tidak selalu mudah. Aku masih sering kesal pada diriku sendiri karena terlalu banyak diam. Terlalu sering menahan. Terlalu sering pura-pura baik-baik saja, padahal kepalaku penuh teriakan. Orang bilang waktu akan menyembuhkan, tapi aku tidak yakin. Waktu hanya membuatku lebih terbiasa menyimpan luka.
Aku tidak tahu sampai kapan bisa begini. Tidak tahu apakah benar aku kuat, atau hanya sedang pandai berpura-pura. Yang kutahu, aku lelah kalau harus terus mengakomodasi orang lain, menenangkan mereka, padahal aku sendiri butuh ditenangkan.
Di sini, jauh dari rumah, jauh dari ributnya orang-orang yang selalu merasa benar, aku belajar satu hal: mungkin aku tidak perlu selalu baik-baik saja. Mungkin aku berhak marah. Mungkin aku berhak kecewa. Dan kalaupun aku tidak bisa meluapkannya di depan siapa pun, biarlah laut yang jadi saksi.


