Minggu, 31 Desember 2023 0 comments

perayaan patah hati.

Aroma solar, rokok, pop mie, dan air laut bercampur. Gemuruh suara mesin dan teriakan pedagang menjajakan dagangannya diselingi dengan suara Nadin yang tak lelah menemani. Barisan pulau, lampu kota yang berkedip malu, dan penumpang yang lalu lalang mencari posisi terbaik meramaikan pemandangan. Semua berdendang indah selaras dengan gerak tenang ombak Selat Sunda. Gerimis kembali menyapa. Alam seolah menyemarakkan perayaan patah hatiku.

Aku turut senang, kamu menemukan belahan jiwamu. Orang yang selama ini kamu perjuangkan dan tunggu. Tak ada yang salah dengan ini semua. Hanya ada aku dan ekspektasiku yang menenggelamkanku dalam kepedihan yang berlarut. Paling tidak dengan kehadiranmu yang sebentar, aku menjadi tahu kalau aku tidak sepenuhnya mati rasa. Masih ada sisa-sisa perasaan yang sementara ini kembali kosong. Sembari aku membersihkan serpihan lukaku, ijinkan aku merayakan kesedihanku agar nanti ketika seseorang datang, aku tak melukainya dengan puing peninggalanmu. Sekali lagi selamat ya. Semoga ia memang yang kamu cari. Doa terbaik aku panjatkan untukmu.

Terimakasih sudah banyak merayakanku, menemani malam-malam gelap yang sampai sekarang masih temaram. Terimakasih untuk kasih tulus tanpa pamrih yang mungkin salah aku tangkap. 
Minggu, 10 Desember 2023 0 comments

perjalanan mencari rumah.

Badai yang katanya datang menghantam tak kunjung mereda. Semua sibuk mengitariku. Tak hanya satu atau dua, masalah datang beramai-ramai. Semua berotasi seolah aku sumber dari segala sumber. Air mata sudah tak mampu melegakan pikiran. Aku kembali lagi menguji lambung lewat air perjamuan. Apa semua akan reda setelahnya? Paling tidak aku bisa melupakan semuanya sesaat.

Entah ini sarapan atau makan malam, semua jadi tak ada bedanya buatku. Sayup suaramu jauh di sambungan telepon tapi aku terus menguatkan iman kalau dirimu bukan milikku dan aku bukan siapa-siapa bagimu. Semua yang ada nyatanya fana. Aku hanya seseorang yang mampir di teras rumahmu dan kamu menyapaku dengan ramah. Aku yang tak pernah dianggap menjadi merasa besar kepala dan menganggapmu hanya seperti itu kepadaku. Setelah pintu terbuka, aku melihat deretan fotomu bersama wanita lain dan aku langsung tersadar. Ternyata kamu bukan rumah yang aku cari.

Aku sudah tak terlalu bersedih bukan karena ini bukan kali pertama, bukan karena wanitamu yang nyatanya juga meninggalkanmu, tapi memang sedari awal aku tahu posisiku dimana. Lewat malam-malam penuh air mata, aku semakin tak tahu malu. Sayup suaramu masih terdengar dan aku sudah tak ada rasa. Semua yang dulu pernah ada, melebur entah kemana. Mungkin dahulu aku hanya kagum, tak pernah lebih, dan definisi rumahku tak ada di kamu.

Aku yang tak tahu arah hanya terus beranjak. Walau tak tahu bagaimana bentuk dan alamatnya, setidaknya aku bergerak dan berusaha mencari agar kakiku tahu kalau perjalanan ini belum selesai. Setidaknya aku menjadi tahu bagaimana rasanya mendapatkan pengharapan walaupun semu.

Perjalananku mencari rumah masih berlanjut. 

Jumat, 24 November 2023 0 comments

maaf, aku belum bisa menjadi rumah yang nyaman untuk diriku sendiri.

Hari ini sebenarnya hari yang sudahku tunggu. Tapi entah mengapa semua yang tadinya menggebu menjadi melambat. Satu persatu menghilang. Semua yang tadinya menghadang ikut melawan.

Aku meringkuk di kamar seorang teman. Aku terpaksa mengungsi karena banyak hal yang aku takutkan. Aku tak berani menatap dan datang ke medan perang. Nyaliku tak sekeras suaraku. Aku lebih memilih bersembunyi ketimbang menghadapinya (mungkin) untuk yang terakhir.

Semua orang akan kalah dalam perang.

Saat ini aku sudah tak peduli siapa yang kalah atau yang salah. Aku hanya ingin menata hati agar aku tak jatuh terlalu jauh lagi. Semua yang berantakan sudah tak bisa lagi aku satukan. Semua yang hilang tak bisa kembali kalau memang bukan aku rumahnya.

Semua yang kusentuh tak ada lagi rasanya. Semua yang kugenggam malah pergi menjauh. Melihat mukanya lagi setelah sekian lama tak bertemu serasa menguji adrenalin. Seluruh tubuh mengejang seolah tahu hatiku. Degub jantung tak mau berhenti. Seharian sibuk memperhatikan jam berharap hari lekas usai. 

Setelah semua yang terjadi, aku percaya kalau semua orang berwarna abu-abu. Tak ada dari mereka yang berwarna putih atau hitam setelah mereka membaur menjadi satu di proyek. Mereka yang awalnya berwarna putih akan menjajal dunia hitam. Walau kadarnya berbeda, toh mereka akan menjadi keabuan. Sedang mereka yang berwarna hitam, tak mungkin selamanya hitam. Ada beberapa sisi yang masih berwarna putih kembali lagi, dengan kadar yang berbeda juga.

Bahkan, setelah raganya menjauh aku masih merasa ada yang mengikutiku. Kadang berupa sekelebat bayangan hitam atau sesosok bayangan yang menunggui tidurku. Aku tak tahu ini hanya halusinasi atau memang kenyataan. Hanya segelintir yang percaya dengan ocehanku. Apalagi aku hanya berani bilang kalau aku sudah memastikan kalau aku melihatnya benar secara sadar.

Mulutku selalu kalah. Ia tak pandai bersilat apalagi menjilat. Aku yang diam tetap terasa salah. Apalagi aku yang bicara terlambat. Semua orang terlanjur tahu versinya dan aku yang lambat hanya menyisakan sesal. Namun satu hal yang aku syukuri, aku jadi tahu siapa yang benar-benar kawan.
 
;