Sabtu, 02 September 2023 0 comments

sepiring nasi goreng untukku sendiri.

Biasanya aku tak mengapa duduk sendirian menghabiskan sepiring nasi goreng. Tak papa, menikmati secangkir kopi sendiri. Berani berjalan keluar sendirian kemana-mana. Tapi aku yang hari ini sedang tak ingin sendirian. Aku yang hari ini butuh seorang teman bercerita. 

Aku sedang lelah mendengar cerita yang sebenarnya membebaniku. Cerita cinta sepasang manusia yang sebenarnya hanya terhalang oleh gengsi dan ego masing-masing. Bertanya harus berbuat apa namun sebenarnya ia hanya butuh validasi kalau apa yang ia perbuat selalu benar. Kisah hubungan orang tua dan anak yang tak selalu baik-baik saja. Ataupun pengalaman hidup yang sebenarnya lebih pahit dari yang aku simpan. Semua beradu seolah yang paling gelap. Apa mereka mau bertanya bagaimana dengan ceritaku?

Aku yang hari ini tak sedang ingin mendengar. Aku yang hari ini sedang berada di puncak egoku hanya ingin di dengar oleh seseorang. Namun semua seakan menghindar ketika egoku di ujung lidah. Tapi aku masih tak bisa meminta. Semua ketakutan sudah menghadang sebelum aku berekspektasi. Aku tak pernah ada gairah untuk memohon.

Nanti ketika egoku mulai turun dan aku perasaan lelah ku tak kunjung reda, aku akan menghilang. Walau sekarang aku belum tahu mau kemana, yang pasti aku akan terus mencari seseorang yang pas untuk mendengar ceritaku yang sama sekali belum terungkap secara utuh.

Sekarang, aku titip maaf dahulu kalau tiba-tiba si pendengar ini menghilang. Mungkin saat itu tiba, aku sudah berada di tengah cerita lain atau semoga aku sudah menemukan pendengarku.

Jumat, 18 Agustus 2023 0 comments

masih ada yang peduli aku?

Hari ini katanya kamu punya teman. Tapi kamu malah makan sendirian di tempat biasa kita membicarakan kehidupan. Kamu yang jarang meminta untuk ditemani makan, mengecek ombak untuk pertama kalinya. Kamu menahan napas, berharap jawaban sesuai yang ada di kepala. Ternyata masih ada yang menganggapmu sebagai teman. Label itu tidak bertepuk sebelah tangan.

Kamu masih tenang sepanjang perjalanan pulang. Paling tidak nanti malam aku tidak merasa sendiri. Kamu yang sudah mengangkasa tidak ingin terjatuh. Kamu mengikat erat semua yang bisa kamu genggam. Namun semakin erat kamu menggenggamnya, semua berhamburan seperti pasir. Semua pergi satu-persatu. 

Kamu tak tahu mengapa ketika aku yang punya suara semua senyap. Namun ketika kamu hanya menjadi pengikut, semua berjalan lancar begitu saja. Apa ini hanya perasaanmu saja.

Kamu masuk ke dalam grup tetapi tidak satu circle.

Duduk sendirian di tengah keramaian kedai kopi ini seperti mengingatkan kalau pada akhirnya, kamu akan sendirian. Tak peduli seberapa banyak temanmu, seberapa luas circlemu, atau seberapa banyak tawa yang kamu umbar. Semua hanya ingin kehadiranmu ketika kamu punya sesuatu yang menguntungkan untuk mereka.

Awalnya kamu akan berkata tak mungkin. Namun semakin kesini dan melihat kenyataannya, semua semakin jelas. Kamu hanya tumbal. Kamu hanya cctv yang ditaruh di sudut ruangan dan akan diajak bicara ketika mereka butuh informasi. 

Apa mereka peduli dengan perasaanmu? 

Apa mereka peduli dengan kehadiranmu? 

Apa mereka peduli dengan pendapatmu? 

Tidak ada satupun yang kamu jawab iya, kan? Dan kamu masih tidak percaya dengan hati kecilmu itu. Ketika kamu butuh teman bicara, semua menjauh. Namun sebaliknya ketika mereka sedang goyah dengan hidupnya, kamu selalu ada dan bersedia datang walau kamu harus melewati badai di kepalamu sendiri. 

Lepas topeng senyummu itu satu persatu. Jangan paksa bibirmu untuk tersenyum walau sebenarnya kamu sudah lelah dengan yang kamu hadapi. Menangislah kalau itu bisa melegakan hatimu. Dunia memang kejam, yang mengaku kawan belum tentu akan datang menyelamatkan. Kamu harus berani menghadapi pertempuranmu sendirian.

Jangan sungkan menolak jika memang kamu merasa sudah tak sejalan. Berteriaklah tanpa menunggu kamu terhimpit. Belajar untuk sedikit tega. Apa yang ada di kepalamu bukan berarti salah. Hati yang kamu jaga, tidak menjagamu juga. Kamu yang selalu mencoba mengerti tak selamanya dimengerti.

Rasa tidak enakmu itu perlahan melahap suaramu. Pelan, senyap, dan tidak berasa. Semua yang ada di kepalamu sirna karena rasa tidak enakmu. Kamu memupuk rasa tidak percaya dirimu.

Sekarang kamu menuai semua yang kamu tanam. Suaramu tak pernah dianggap ada dan kamu hilang dalam kesendirianmu. Tangis semakin tak terdengar dan gema suaramu menghilang.

Minggu, 25 Juni 2023 0 comments

aku belum bisa membencimu.

Hal yang sedari dulu aku hindari malah terjadi dengan manusia yang tak pernah kuduga sepertimu. Iya, dulu aku paling benci dengan hal yang berbau cinta. Seolah semua yang bersinggungannya akan menghancurkanku perlahan suatu hari nanti. Tak ada yang kekal dengan cinta kecuali deritanya. 

Banyak pertanyaan kupendam sendiri. Apa semua makhluk diciptakan berpasangan? Kalau benar mengapa rasio perbandingan lelaki dan perempuan tak seimbang? Mengapa manusia harus berpasangan bila bisa mendapatkan bahagianya sendiri? Itu yang terus aku patri dalam kepala sampai orang aneh sepertimu melepasnya paksa. 

Lucu ya, aku luluh dengan orang sepertimu. Seseorang yang biasa saja namun pesona bagai pangeran yang memberiku harapan, buaian cinta, dan masa depan. Kamu terlalu mudah untuk dikagumi baik lewat tindakan sederhana yang selalu berhasil membuatku terheran, tutur katamu yang tajam namun selalu benar, atau wajahmu yang tak terlalu tampan tapi juga tak pernah membosankan. Semua yang ada dalammu hampir membuatku terbuai untuk ikut bersamamu saja. 

Jantungku bekerja lebih keras ketika aku bersamamu. Semua tentangmu terasa tak masuk akal namun kamu yang membuatku nyaman seperti rumah yang selalu aku rindukan. Dan kamu sukses membuatku jatuh hati. 

Aku tak pernah bisa diam jika bersamamu. Jauh berbeda ketika aku berada di kantor atau arisan keluarga. Semua hal tentangku, selalu kuceritakan. Dari hal sepele tentang anjingku yang sering lupa kalau punya kaki sampai masalah kantor dan perihal masa depan yang menjerat jiwa. Bersamamu, semua isi kepala bisa kutumpahkan tanpa ada perisai yang menghalanginya. Aku betah mendengarkan cerita konyolmu walau jutaan kali kau ulangi, ocehanmu tentang multiverse yang semakin menggila, atau masalah film yang seringkali membuat kamu spoiler.

Diceritamu kepalaku lebih keras dari batu karang, egoku lebih luas dari lautan, gengsiku lebih tinggi dari Jayawijaya, sikapku lebih dingin dari Everest. Katamu, semua prioritasku hanya untuk diriku namun tak ada komitmen yang jelas untuk hubungan yang menjanjikan masa depan bersamamu.

Bertahun aku di dekatmu, kau hafal kejelekanku di luar kepala. Merajut kisah sebentar dengan harap menjadi teman hidup. Separuh jalan telah terlewati meski ada kecewa. Kesempatan demi kesempatan datang untuk jadi pembelajaran. Begitu tergila-gilanya aku sampai tak sadar langit abu-abu menghiasi malam-malamku. 

Satu hari di bulan Juni, aku tak sabar menunggu pukul tujuh. Aku memilih baju yang kuanggap pantas. Malam itu semua terasa biasa saja. Baumu masih sama dengan kemarin. Namun matamu tak pernah bisa berbohong. Kau katakan semua isi hatimu. Tangismu malam itu membukakan mataku kalau kita hanya sepasang anak manusia yang butuh ruang sendiri. Sekian lama kita tersesat dalam labirin panjang tanpa tahu dimana ujungnya.

"Kukira kita bisa." Aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Semua yang selama ini di kepala, semua angan yang tak pasti, semua harapan yang kita tulis bersama, semua sudah terjawab dalam tatap matamu sekaligus malam itu.

Aku mencoba mengerti perihal maaf yang kau beri. Semakin panjang kata di antara kita semakin menyadarkan dimana posisiku berada dan aku menerima itu karena aku tahu kalau aku tak bisa menjadi apa yang selama ini bukan aku. Aku terlalu rumahan untuk dirimu yang selalu berada di jalan. 'Kita' yang aku mau bukan yang seperti ini.

Aku ingin bersamamu dalam lembah maupun puncak. Banyak yang masih ingin aku lewati bersamamu, mencari hal baru yang belum pernah aku rasakan. Walau kadang jauh dari zona nyamanku tapi apapun itu aku menikmatinya karena bersamamu. Tapi kita tak bisa bersama lagi. Tak mungkin ada dua nahkoda dalam satu kapal.

Kompromiku ternyata tak sebesar yang kukira. Aku dan kau sudah tak bisa menjadi pahlawan untuk masing-masing. Kita tak bisa beranjak ketika kita bersama. Hati-hati di jalan, ya. Kini aku pulang sendiri. Aku akan mencoba memahami dunia ini dengan caraku sendiri. Terimakasih sudah sempat memberiku hati. 

I let you go and i know my soul.
I have found what I look for.

Aku belum bisa membencimu sekarang dan semoga tak akan pernah bisa. Semoga apa yang pernah kita lalui tetap menjadi memori yang indah di ujung ingatanku.

 
;