Minggu, 28 Mei 2023 0 comments

malam setelah secangkir kopi.

Malam ini aku sendirian di kamar, usai menghabiskan secangkir kopi dan bercengkerama dengan dua orang teman se-mess. Kepalaku terasa ringan karena sebelumnya aku hair spa dan karena kopi tentunya. Jariku ringan menari di atas keyboard. Namun kamarku masih berantakan karena aku belum beberes seminggu ini dan lemburan yang tak kunjung aku kerjakan.

Aku sudah merasa sumpek usai solo open tripku ke Karimun minggu lalu. Gelapnya kulit juga belum hilang tapi rasa senangku sudah sirna begitu aku menginjakkan kaki di sini. Tempat yang pernah aku impikan namun sekarang sedikit menyesal.

Hah. Kuhela napas panjang dulu sebelum kembali melanjutkan ceritaku.

Aku spontan bertanya pada teman yang mengajakku untuk bekerja di sini, setahun lalu. Ya, tepat tahun lalu di tanggal ini.

“Temen-temennya gimana? Toxic nggak?” tanyaku.

Dia, yang waktu itu masih di sini hanya menyahut, “Kamu lihat aja deh nanti. Baik-baik semua kok. Paling nanti bosen kalau di mess terus.”

Lalu aku masuk. Dan ternyata… ternyata bosen itu kata lain dari *“selamat datang di neraka versi manusia dewasa.”* Semua orang tampak sopan, tapi di balik senyum itu ada banyak agenda: gosip, persaingan, sampai permainan moral yang membuatmu bertanya-tanya apa orang ini benar-benar manusia atau robot yang diprogram untuk menipu.

Aku menjadi saksi bisu drama harian yang tidak pernah habis. Tertawa palsu, komentar sinis, tatapan yang terlalu panjang untuk hanya sekadar melihatmu lewat. Semua orang di sini ahli memainkan topengnya sendiri—dan parahnya, mereka semua mengira aku tidak bisa melihat. Tapi aku bisa. Aku selalu bisa melihat.

Aku mencoba bersabar. Aku mencoba menulis, mencoba melewatkan hari, mencoba percaya lagi pada manusia—tapi lingkungan ini seperti sapu lidi yang tiap kali kuketat malah menusuk tangan sendiri. Bahkan ide-ide untuk lari, seperti kuliah lagi atau menikah, terasa seperti pura-pura menjadi manusia normal di dunia yang sudah gila.

Mess ini? Tempat latihan ketekunan untuk pura-pura tidak peduli. Lingkungan ini? Tempat di mana jujur adalah lelucon paling mahal yang bisa kamu mainkan pada diri sendiri. Kalau kau berani terlalu terbuka, siap-siap dihakimi diam-diam. Kalau kau diam, bersiaplah dianggap bodoh. Tidak ada jalan tengah—kecuali kau pintar menyimpan wajah palsu, dan aku? Aku terlalu lelah untuk itu.

Dan malam ini, setelah secangkir kopi, aku tersenyum pahit sendiri. Karena setidaknya aku sadar: aku tidak perlu berpura-pura bahagia dengan semua kebusukan yang berjalan di sekitarku. Aku tidak perlu ikut menertawakan semua drama bodoh. Aku bisa tetap “aku,” meski kamar berantakan, lembar lembur menumpuk, dan dunia ini menertawakan harapan-harapan bodohku.

Dan entah kenapa, aku punya satu doa kecil—atau mungkin doa paling busuk: Semoga proyek ini, semua gosipnya, semua kesombongannya, dan semua senyum palsunya, hancur dengan cara yang sama seperti mereka hancurkan rasa tenang orang lain. Semoga mereka sadar, suatu hari nanti, kalau semua topeng itu jatuh, tidak ada yang tersisa kecuali kebusukan mereka sendiri.

Karena jujur dilarang di sini, biarlah kebohongan dan kehancuran jadi satu paket. Dan aku? Aku akan tetap menulis, menertawakan, dan minum kopi pahit ini sendirian.


Rabu, 12 April 2023 0 comments

perasaanku yang kacau dan bajingan yang baik hati.

Ya, ini masih merupakan tulisanku tentangnya. Teman lama yang sekarang entah apa. Degub jantungku tak bisa berbohong. Ia tak mau diam sepanjang perjalananku menuju Purwakarta. Entah darimana aku berasal, jantung ini tak bisa memelankan iramanya ketika mendekati kota ini. Perasaanku semakin kacau ketika melihat rumah bercat kuning tepat di ujung pertigaan jalan.

Walau beberapa teman terus menghiburku, rasa takut ini terus menyelubungi. Mereka tetap mendengarkanku meski aku tak mau bercerita. Mereka tetap peduli meski aku tak meminta. Dan mereka tetap selalu ada meski aku selalu menghindar.

Dari balik ketakutanku, aku menjadi tahu siapa yang benar-benar peduli dan tidak. Siapa saja yang mencari kebenaran bukan pembenaran. Dari diamku tersirat seribu bahasa.

Ternyata beberapa orang memperhatikan dari jauh. Telinga mereka jauh lebih tajam. Setiap percik air yang menetes, mereka lebih peka. Semua yang tak aku sangka justru aku ketahui dari suara-suara tanpa tahu sumbernya.

Mereka memang bukan ibu peri. Mereka punya masing-masing badainya di kepala. Beberapa dari mereka lebih bajingan dariku tapi paling tidak mereka masih mau menemaniku di tempat yang gelap, mau mendekapku sejenak hingga aku bisa sedikit tenang.

Aku yang tak bisa meminta tolong lagi hanya diam tak bersuara. Namun entah darimana tangan mereka datang. Ia, bajingan yang baik itu punya cara sendiri untuk melindungiku sampai aku sering tak sadar kalau tangan kotornya yang menghadang pisau mengejar setiap langkahku.

Jujur aku semakin tak mengerti. Perkara ini seperti benang kusut yang sudah tak bisa digunakan lagi. Bahkan untuk menemukan kedua ujungnya saja, sulit. Masalah yang awalnya sepele dan kupikir akan menguap begitu saja nyatanya tetap terus membara. Sesekali setetes air turun dan memadamkannya tapi akan berkobar ketika gesekan terjadi.

Ego yang tak bisa dibendung melawan perasaan yang patut diperjuangkan.

Aku tak mencari siapa yang benar. Aku tak butuh validasi akan itu. Kalau aku butuh, dari awal aku tak akan bungkam. Nyatanya aku tetap bungkam meski kadang rasanya sudah tak tahu lagi dengan apa aku menyumpal mulutku. Sering aku tak tahan untuk tak berteriak ketika dia merasa makhluk Tuhan yang paling tersakiti.

Diam yang kuperjuangkan malah dianggap angin lalu yang tidak akan merebahkan bulu. Semesta berjalan seperti biasa dan waktu terus berputar sebagaimana mestinya. Ia terus mencari panggung untuk menjadi yang paling bersinar di tengah gemuruh yang ia ciptakan.


Jumat, 24 Maret 2023 0 comments

patah sebelum sempat tumbuh.

Ini menjadi kesalahanku yang kesekian kali dan aku yang bodoh tak punya niat untuk mengakhirnya segera. Berulang kali aku menolak rasa ini. Meneriakannya keras-keras kalau aku tidak sedang jatuh hati. Dia hanya seorang teman yang memang peduli dengan siapapun, bukan hanya aku. Kuulang terus kata “bukan hanya aku” ribuan kali di kepalaku.

Dia memang orang yang ramah, mudah dekat dengan siapapun. Orang yang selalu ada bila ada yang kesusahan bahkan mau menjadi tameng bila diperlukan. Memang, kehidupan tak selamanya terang. Ada beberapa ritual yang tak seharusnya dia lakukan malah menjadi rutinitas dan yang seharusnya dia lakukan malah dia abaikan.

Tapi, terlalu banyak tapi yang menganjal di hatiku. Dia orang yang selama ini aku cari. Pemikiran sederhananya dan setiap gerak-geriknya selalu menarikku untuk lebih bisa dekat dengannya. Seperti beberapa hari ini, suasana yang membuatku agak ngeri bisa dibuatnya lebih hangat hanya karena kehadirannya. Tak banyak bualan, ia lebih menunjukan sikap. Tak melulu menjadi dewasa, ia juga tak malu menunjukan sisi lainnya.

Berkali aku meyakinkan diri, berulang aku menyakiti hati.

Membenamkan wajahku ke dasar kolam tak membuat aku sadar kalau dia bukan milikku. Rasa kagum yang terus tumbuh ini jatuh ke orang yang salah. Kepalaku yang bebal sulit sekali untuk diberitahu. Telingaku sudah seperti orang tuli. Semakin rasa ini tumbuh, malah semakin besar rasa bersalah yang ikut terpupuk.

Hati ini sudah patah sebelum bisa tumbuh. Hati ini kembali jatuh ke hati yang salah. Dia sudah punya hati lain yang dijaga dan aku hanya salah satu orang yang berada di kerumunan.
 
;