Sabtu, 10 Juli 2021 0 comments

pada akhirnya semua akan berakhir.

Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menceritakan hal ini yang seharusnya membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum juga selesai, aku malah ingin segera memulai meluapkan ini semua. Cerita tentang aku yang mulai muak dengan banyak perubahan besar akibat pandemi ini. Bagaimana tidak, dua tahun ini mobilitas banyak dibatasi, semua terasa sulit.

Semua berawal dari bulan Maret 2020 lalu. Ketika virus ini masuk ke Indonesia, aku masih bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu kontraktor swasta. Kala itu aku ditempatkan di proyek pusat pembelanjaan yang aku yakin di tahun mendatang akan terkenal di Bintaro (kawasan yang lumayan keren buatku anak kampung). 

Akhir bulan Maret 2020, salah satu staff mendadak divonis Covid-19. Beliau tinggal di Depok, bolak-balik Bintaro setiap hari terlebih sebagai staff lapangan beliau sering lembur untuk storing. Kami masih positif thinking. Apalagi kasus di Indonesia masih belum mencapai angka ribuan. 

Kebetulan beliau memiliki kakak kandung yang punya jabatan lumayan di kantor. Beberapa hari sebelum beliau sakit, kakak kandungnya menggelar hajatan untuk putrinya. Beberapa menteri yang biasa aku lihat di headline berita online atau televisi datang ke sana. Beberapa politikus pun juga hadir. Ternyata besan si Bapak, pejabat berbintang.

Berselang beberapa hari, badai itu datang. Kantor tiba-tiba di lockdown. Kami tak boleh datang ke kantor selama seminggu. Beberapa orang dipilih menjadi koordinator yang bertugas memantau kesehatan kami setiap hari melalui beberapa grup yang baru dibuat.

Usai dua seminggu lockdown, kegiatan kami di kantor terasa dibatasi. Pantry bukan lagi tempat untuk bercengkerama di kala jam istirahat tiba.  Ruang rapat, di bawah pohon rindang, dan di ruangan lain dihiasi banyak tanda silang berwarna merah. Hand sanitizer menggantung di setiap pintu. Tak ada lagi senyum ramah yang mengembang tiap kali berpapasan dengan orang lain. Semua tertutup oleh masker. Semua telah berubah.

Mendekati bulan puasa, semua orang mendownload zoom. Aplikasi yang baru aku kenal ketika pandemi ini datang. Dari beberapa tempat yang berbeda, kami berkumpul dibantu dengan zoom. Berita duka kembali menyebar. Keuangan perusahaan mulai goyah, beberapa orang perlu dirumahkan.

Bulan puasa tiba, aku waktu itu tidak termasuk dalam seratus yang dirumahkan. Aku berangkat ke kantor tak seperti biasa. Banyak pembatasan yang mulai dilakukan pemerintah. Jam operasional KRL yang biasanya hingga tengah malam, kita hanya sampai sore. Aku harus berangkat pagi, menyelesaikan semua pekerjaan yang terasa lebih berat karena pekerjaan yang biasanya dikerjakan beberapa orang dikerjakan sendirian, pulang berlarian dengan jam agar bisa sampai kost-an dengan KRL. Beberapa kali aku terlambat sedikit, aku harus mengeluarkan uang lebih untuk naik moda transportasi lain yang ratusan kali lipat biayanya.

Suasana kantor yang tadinya ramai, berubah total. Satu ruangan berukuran 10x10 meter yang biasanya hiruk pikuk dipenuhi banyak orang, terasa longgar waktu itu. Aku duduk di depan komputer sendirian hari Senin dan Kamis. Teman satu divisiku datang di hari yang berbeda. Jadwal telah diatur agar ruangan tak penuh sesak.

Kalau aku tak beradaptasi, aku yang mati.

Satu-satunya yang paling membuat aku sedih, tahun 2020 jadi tahun pertama aku tak menikmati opor ayam buatan ibuku. Tak ada pilihan, kalau aku tak beradaptasi, aku yang mati. Mau tak mau, suka tak suka, aku harus menjalani itu semua.

Maret 2021, aku pulang ke kampung halaman. Banyak hal yang jadi pertimbangan kala itu. Aku resign, menyelesaikan semua pekerjaan yang bisa aku kerjakan dengan segala keterbatasanku. Kantor sudah berjalan seperti biasa kala itu. Sedikit sesal datang karena banyak ilmu yang bisa aku pelajari di sana tapi aku tak mau lebaran tahun lalu terulang kembali.

Firasat itu benar terjadi. Pandemi kembali meluas tahun ini. Lebaran kami tahun ini pun tak lengkap karena kakak perempuanku "terjebak" di tanah rantau. Kami juga mulai menerima kenyataan itu meski pahit.

Hari-hari ini banyak berita tak enak yang datang. Tak usah jauh disana, tetangga belakang rumah sudah menjadi korban yang meregang nyawa. Berbeda beberapa gang, teman SDku juga telah berpulang. Belum lagi banyak teman yang menjadi penyintas. Aku jadi banyak-banyak bersyukur. Di tengah pandemi, Tuhan baik sekali. Sulit mencari penghasilan dan pekerjaan tapi masih ada kesehatan yang sekarang harganya mahal sekali.

Pada akhirnya semua akan mati.

Tak ada satupun cerita yang tak memiliki akhir, kan? Semoga ini mempunyai akhir yang indah meski entah kapan. Tak usah peduli konspirasi yang diberitakan, tak usah peduli berita hoax yang beredar, cukup patuhi protokol kesehatan, PPKM, dan banyak berdoa agar kita tetap aman jiwa dan raga. Semoga Tuhan dan semesta selalu menjaga dan bersama dengan kita selalu.

Jumat, 02 Juli 2021 0 comments

rumput tetangga selalu lebih menggoda.

Pikiran kosong, buka sosmed. Pikiran buntu, buka sosmed. Pikiran kacau, buka sosmed. Pikiran galau, buka sosmed. Apapun yang terjadi minimal sekali sehari ada peraturan yang nggak tertulis buat buka sosmed. Minimal kasih kabar ke orang kalau kita masih bernyawa.

Tapi, efeknya luar biasa. Bukan bikin terhibur malah bikin insecure. Gila, si A udah bisa beli mobil baru tahun ini. Padahal sering update beli tas baru merek artis. Belum lagi cicilan apartment juga belum lunas. Sarapan, makan siang, makan malam Go-food mulu. Duitnya ngegunting sendiri kali, ya? Padahal tau sendiri, gaji rate-nya segitu aja. Jadi simpenan om-om kali ya. Si B kerjaannya staycation mulu. Rumah sama hotel juga tinggal ngesot sampe. Kantor lama adem ayem ya udah aku tinggal. Apa setannya aku kali ya? Story si C keliatan bahagia banget sekarang. Giliran ditinggal aja begitu. Dulu, lupa namanya libur, sambat sana-sini soal workload. Apa jangan-jangan buat sabotase biar aku cabut, ya?

Niat awal buka sosmed biar terhibur malah kita makin dikibulin sama semesta. Kita pikir kita udah jadi manusia terbahagia sedunia dengan segala yang dijalani tapi nyatanya. Buka sosmed malah bukan bikin terhibur malah bikin insecure. Bibit-bibit cemburu malah makin dipupuk, sebentar lagi panen.

Mengintip secuil kehidupan orang lain ternyata bahaya untuk mental.

Awalnya cuma pengen tahu, si- A sekarang kayak apa ya? Dulu kan dia suka jualan di sekolah buat tambahan uang saku, kuliah juga jalur bidik misi malah berujung mengumpat. Dunia nggak adil banget. Kok dia bisa jadi sukses. Aku yang jauh punya privilege malah stuck gini-gini aja, punya orang dalam kali ya. Apa jangan-jangan dia nge- cheat pake Game Shark?

Hey, poros semesta nggak ada di dirimu. Hidup bukan perlombaan, bukan tentang siapa dulu yang sukses, siapa yang duluan nikah. Mau jadi yang pertama mati? Enggak, kan. Rumput tetangga punya kekuatan magis kayak pelakor, selalu lebih menggoda. Tapi kamu nggak tahu kan, itu sintetis apa asli.

Rabu, 30 Juni 2021 0 comments

kembali kalah (lagi)

Mimpi lama yang telah terkubur, kembali bangkit seperti zombie. Dari balik bayangan kekalutan, ia mengendap-endap muncul. Dari bayang-bayang ketakutan, ia mengkagetkanku."Lalu bagaimana?" Tanyanya.

Semalam angin berbisik padaku, "Percuma untuk mengejarnya kembali, nyalimu tak ada. Apa kamu mau kembali kalah? Apa kamu berani mempertaruhkan semuanya?"

Aku terdiam, tak ada jawab. Bayangkan kalau aku dulu mampu. Gemuruh tepuk tangan sudah ku tuai. Sanjung dan puji memenuhi lumbung. Namun nyatanya? Aku jatuh. Terkapar, sendirian dan tak berdaya. Mereka bilang aku belum beruntung. Mereka bilang aku terlalu muluk-muluk. Mereka bilang aku.

Aku semakin jauh. Semakin ditenggok ke belakang, semakin dekat jaraknya. Mereka mampu mengejar. Fokus ke depan, musuh sudah tak terlihat. Beristirahat sebentar, makin tertinggal. Terus berlari, napas sudah senin-kamis. Pengin berjalan, terkejar yang lain.

Semoga kita tak kehabisan semoga.

Apalagi yang bisa aku harap. Pantas saja tidak. Aku kehabisan semoga. Semua sudah aku rapalkan sedari dulu. Kini tak ada yang tersisa. Semoga kita tak kehabisan semoga.

Mimpi itu tak hanya milikku saja. Mimpi semua orang yang selalu hadir di balik layarku. Mimpi usang yang hingga kini belum bertemu tuannya. Aku sempat mengusirnya jauh, menyuruhnya pergi karena aku bukan pemiliknya. Dia hanya singgah, memberi harapan kemudian lari hingga aku tak sanggup mengejarnya. Terus seperti itu hingga aku kembali kalah.

Ku hela napas panjang, menguatkan diri untuk kembali melanjutkan rutinitas. Bukan demi diri tapi demi orang-orang di balik layar. Paling tidak aku saja yang hancur, tidak dengan mimpi mereka. Apa dengan tangisku ini semesta akan iba dan memberikan segala yang aku impikan?

Aku butuh ruang untuk memikirkan semua angan-anganku. Di kala orang sudah settle dengan apa yang dia punya, aku malah goyah dengan apa yang aku miliki. Dilematika masuk daftar awal (lagi).

Ada rumpang ketika belum rampung,
ada solusi ketika tersudutkan situasi,
ada usai ketika kisah telah selesai.

Kegundahan kembali menyeruak. Ada sesuatu yang mengganjal karena perjuangan masih diberi kesempatan. Semacam air di tengah dehidrasi yang mendera atau koma di tengah kalimat. Mata air yang menghidupi.

Ketika sudut menjelma menjadi awal baru, aku malah sibuk mencari liang untuk bersembunyi. Ketika titik berubah menjadi koma, aku malah takut untuk tak menyudahi karena takut kembali kecewa. Takut kembali tersakiti. Kelak, apakah rasa ini semua akan terulang lagi? Semoga ini yang terakhir.

 
;