Semalam angin berbisik padaku, "Percuma untuk mengejarnya kembali, nyalimu tak ada. Apa kamu mau kembali kalah? Apa kamu berani mempertaruhkan semuanya?"
Aku terdiam, tak ada jawab. Bayangkan kalau aku dulu mampu. Gemuruh tepuk tangan sudah ku tuai. Sanjung dan puji memenuhi lumbung. Namun nyatanya? Aku jatuh. Terkapar, sendirian dan tak berdaya. Mereka bilang aku belum beruntung. Mereka bilang aku terlalu muluk-muluk. Mereka bilang aku.
Aku semakin jauh. Semakin ditenggok ke belakang, semakin dekat jaraknya. Mereka mampu mengejar. Fokus ke depan, musuh sudah tak terlihat. Beristirahat sebentar, makin tertinggal. Terus berlari, napas sudah senin-kamis. Pengin berjalan, terkejar yang lain.
Semoga kita tak kehabisan semoga.
Mimpi itu tak hanya milikku saja. Mimpi semua orang yang selalu hadir di balik layarku. Mimpi usang yang hingga kini belum bertemu tuannya. Aku sempat mengusirnya jauh, menyuruhnya pergi karena aku bukan pemiliknya. Dia hanya singgah, memberi harapan kemudian lari hingga aku tak sanggup mengejarnya. Terus seperti itu hingga aku kembali kalah.
Ku hela napas panjang, menguatkan diri untuk kembali melanjutkan rutinitas. Bukan demi diri tapi demi orang-orang di balik layar. Paling tidak aku saja yang hancur, tidak dengan mimpi mereka. Apa dengan tangisku ini semesta akan iba dan memberikan segala yang aku impikan?
Aku butuh ruang untuk memikirkan semua angan-anganku. Di kala orang sudah settle dengan apa yang dia punya, aku malah goyah dengan apa yang aku miliki. Dilematika masuk daftar awal (lagi).
Ada rumpang ketika belum rampung,
ada solusi ketika tersudutkan situasi,
ada usai ketika kisah telah selesai.
Kegundahan kembali menyeruak. Ada sesuatu yang mengganjal karena perjuangan masih diberi kesempatan. Semacam air di tengah dehidrasi yang mendera atau koma di tengah kalimat. Mata air yang menghidupi.
Ketika sudut menjelma menjadi awal baru, aku malah sibuk mencari liang untuk bersembunyi. Ketika titik berubah menjadi koma, aku malah takut untuk tak menyudahi karena takut kembali kecewa. Takut kembali tersakiti. Kelak, apakah rasa ini semua akan terulang lagi? Semoga ini yang terakhir.

