pada akhirnya semua akan berakhir.

Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menceritakan hal ini yang seharusnya membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum juga selesai, aku malah ingin segera memulai meluapkan ini semua. Cerita tentang aku yang mulai muak dengan banyak perubahan besar akibat pandemi ini. Bagaimana tidak, dua tahun ini mobilitas banyak dibatasi, semua terasa sulit.

Semua berawal dari bulan Maret 2020 lalu. Ketika virus ini masuk ke Indonesia, aku masih bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu kontraktor swasta. Kala itu aku ditempatkan di proyek pusat pembelanjaan yang aku yakin di tahun mendatang akan terkenal di Bintaro (kawasan yang lumayan keren buatku anak kampung). 

Akhir bulan Maret 2020, salah satu staff mendadak divonis Covid-19. Beliau tinggal di Depok, bolak-balik Bintaro setiap hari terlebih sebagai staff lapangan beliau sering lembur untuk storing. Kami masih positif thinking. Apalagi kasus di Indonesia masih belum mencapai angka ribuan. 

Kebetulan beliau memiliki kakak kandung yang punya jabatan lumayan di kantor. Beberapa hari sebelum beliau sakit, kakak kandungnya menggelar hajatan untuk putrinya. Beberapa menteri yang biasa aku lihat di headline berita online atau televisi datang ke sana. Beberapa politikus pun juga hadir. Ternyata besan si Bapak, pejabat berbintang.

Berselang beberapa hari, badai itu datang. Kantor tiba-tiba di lockdown. Kami tak boleh datang ke kantor selama seminggu. Beberapa orang dipilih menjadi koordinator yang bertugas memantau kesehatan kami setiap hari melalui beberapa grup yang baru dibuat.

Usai dua seminggu lockdown, kegiatan kami di kantor terasa dibatasi. Pantry bukan lagi tempat untuk bercengkerama di kala jam istirahat tiba.  Ruang rapat, di bawah pohon rindang, dan di ruangan lain dihiasi banyak tanda silang berwarna merah. Hand sanitizer menggantung di setiap pintu. Tak ada lagi senyum ramah yang mengembang tiap kali berpapasan dengan orang lain. Semua tertutup oleh masker. Semua telah berubah.

Mendekati bulan puasa, semua orang mendownload zoom. Aplikasi yang baru aku kenal ketika pandemi ini datang. Dari beberapa tempat yang berbeda, kami berkumpul dibantu dengan zoom. Berita duka kembali menyebar. Keuangan perusahaan mulai goyah, beberapa orang perlu dirumahkan.

Bulan puasa tiba, aku waktu itu tidak termasuk dalam seratus yang dirumahkan. Aku berangkat ke kantor tak seperti biasa. Banyak pembatasan yang mulai dilakukan pemerintah. Jam operasional KRL yang biasanya hingga tengah malam, kita hanya sampai sore. Aku harus berangkat pagi, menyelesaikan semua pekerjaan yang terasa lebih berat karena pekerjaan yang biasanya dikerjakan beberapa orang dikerjakan sendirian, pulang berlarian dengan jam agar bisa sampai kost-an dengan KRL. Beberapa kali aku terlambat sedikit, aku harus mengeluarkan uang lebih untuk naik moda transportasi lain yang ratusan kali lipat biayanya.

Suasana kantor yang tadinya ramai, berubah total. Satu ruangan berukuran 10x10 meter yang biasanya hiruk pikuk dipenuhi banyak orang, terasa longgar waktu itu. Aku duduk di depan komputer sendirian hari Senin dan Kamis. Teman satu divisiku datang di hari yang berbeda. Jadwal telah diatur agar ruangan tak penuh sesak.

Kalau aku tak beradaptasi, aku yang mati.

Satu-satunya yang paling membuat aku sedih, tahun 2020 jadi tahun pertama aku tak menikmati opor ayam buatan ibuku. Tak ada pilihan, kalau aku tak beradaptasi, aku yang mati. Mau tak mau, suka tak suka, aku harus menjalani itu semua.

Maret 2021, aku pulang ke kampung halaman. Banyak hal yang jadi pertimbangan kala itu. Aku resign, menyelesaikan semua pekerjaan yang bisa aku kerjakan dengan segala keterbatasanku. Kantor sudah berjalan seperti biasa kala itu. Sedikit sesal datang karena banyak ilmu yang bisa aku pelajari di sana tapi aku tak mau lebaran tahun lalu terulang kembali.

Firasat itu benar terjadi. Pandemi kembali meluas tahun ini. Lebaran kami tahun ini pun tak lengkap karena kakak perempuanku "terjebak" di tanah rantau. Kami juga mulai menerima kenyataan itu meski pahit.

Hari-hari ini banyak berita tak enak yang datang. Tak usah jauh disana, tetangga belakang rumah sudah menjadi korban yang meregang nyawa. Berbeda beberapa gang, teman SDku juga telah berpulang. Belum lagi banyak teman yang menjadi penyintas. Aku jadi banyak-banyak bersyukur. Di tengah pandemi, Tuhan baik sekali. Sulit mencari penghasilan dan pekerjaan tapi masih ada kesehatan yang sekarang harganya mahal sekali.

Pada akhirnya semua akan mati.

Tak ada satupun cerita yang tak memiliki akhir, kan? Semoga ini mempunyai akhir yang indah meski entah kapan. Tak usah peduli konspirasi yang diberitakan, tak usah peduli berita hoax yang beredar, cukup patuhi protokol kesehatan, PPKM, dan banyak berdoa agar kita tetap aman jiwa dan raga. Semoga Tuhan dan semesta selalu menjaga dan bersama dengan kita selalu.

Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes