sehebat-hebatnya manusia, besok hanya jadi cerita.
Munafik, kalau seorang manusia biasa mengatakan kalau ia tak ingin menjadi besar. Entah seberapa ukuran 'besar' yang ia harap tapi di dalam hati kecilnya pasti pernah ada keinginan itu. Tak ada standar untuk 'besar' yang diinginkan manusia. Bisa saja 'besar' yang telah aku raih nanti, bukan menjadi ukuran 'besar' yang kamu ingin.
Beberapa minggu ini, aku masih ter-heran dengan sikap dan karakter manusia yang ada disekitar ku. Tak tahu apa aku yang terlalu sensitif dan ba-per, tapi rasanya semakin kesini, semakin unik karakter manusia yang aku jumpai. Aku akui kalau mereka hebat. Mereka manusia yang bisa membuat orang luar ter-heran. Tapi, sehebat-hebatnya manusia, suatu saat hanya akan jadi cerita. Namun kamu mau cerita yang mana dulu? Cerita besar yang penuh ayal dan bualan atau cerita biasa saja yang akan meninggalkan decak kagum buat pembaca nya?
Latar belakang mereka sama, uang. Bahan bakar mereka bisa hidup, kalau udara bisa mereka ganti mungkin akan mereka lakukan. Apa yang mereka lakukan didasari dengannya. Apa yang mereka lakukan harus mendapatkannya.
Pertanyaan-ku, untuk apa? Untuk apa mereka mengumpulkan pundi-pundi sebanyak itu? Eksistensi? Validasi diri?
Semua dinilai dari nominal. Tak ada harga yang tak bisa dibayar. Liburan? Uang. Ketenangan? Uang. Kebahagiaan? Uang. Semua bisa dibeli, asal ada uang.
Tapi benarkah semua bisa dengan uang? Sesuatu yang bisa dinominalkan justru tak benar-benar bernilai. Be realistic. Mana mungkin bisa bahagia kalau nggak punya uang? Ya. Terus, kamu baru bisa bahagia kalau sudah punya uang. Kapan? Punya uang yang kamu maksud itu berapa? Sejuta? Sepuluh juta? Seratus juta? Atau secukupnya? Secukupnya bukan angka yang pasti kan? Kalau dinominalkan, nggak bisa.
Punya keyakinan kalau uang nggak bisa beli segalanya, nggak berarti aku nggak ngapa-ngapain juga. Tetap kerja cari uang bukan buat bahagia tapi buat kebutuhan hidup. Biar hidup lebih tenang, walau itu masih angan-angan saja sejauh ini. Penggalan lirik lagu Jam Makan Siang juga jadi bukti, kan. Kita mati butuh uang. Entah mau caranya dikubur atau dikremasi, semua butuh uang. Paling tidak, nanti kalau mati nggak nyusahin yang masih hidup.
Rata-rata, manusia yang begitu juga punya seribu wajah. Baik di depan, sampai belakang menghujat. Jilat sana-sini, demi posisi dan keuntungan sendiri yang ujung-ujungnya balik lagi ke uang. Hampir setiap hari mengutuk mereka-mereka yang seperti itu. Belagak paling sibuk padahal sok sibuk. Mengutuk mereka seumur hidup tak akan menjadikan hidup sesuai yang kita harapkan, yang ada capek badan dan mental. Mulut mereka manis luar biasa tapi hatinya lebih luar biasa lagi.
Solusinya?
mengutuk mereka seumur hidup tak akan menjadikan hidup lebih baik.
Kerja ikhlas nggak bikin miskin. Mental apa-apa mesti cuan harus dikurang-kurangi. Tapi ya tahu diri, jangan mentang-mentang begitu, pas temen jualan malah di nego. Apa yang mau dilakukan, pikir lagi. Mau nggak kalau kamu digituin. Coba cari sudut pandang lain, jangan mempersempit pandangan sendiri. Temukan cara hidup kita sendiri agar lepas dari rasa sakit!
Aku selalu berdoa buat orang-orang yang hidupnya 'begitu'. Semoga mereka lekas menemukan uang yang mereka dewakan itu sesuai yang mereka ingin, kalau bisa lebih biar mereka lekas sadar kalau punya uang banyak bukan jaminan mereka akan bahagia, bakal tenang. Semoga besok
Halo kamu, apa kabar? Tiba - tiba pagi ini, aku rindu Jakarta. Semua rutinitas yang dulu membuatku jenuh. Bangun pagi, berdesakan di kereta, bekerja, berdesakan lagi, tidur beberapa jam, kemudian mengulang kegiatan itu (lagi). Begitu terus selama tujuh hari dalam seminggu sampai akhirnya aku tak sengaja bertemu kamu.
Sore itu aku terburu-buru menaiki kereta terakhir dari Stasiun Jurang Mangu. Awal pandemi, jadwal kereta ikut kacau. Kereta terakhir yang biasanya tiba jam 23.45 wib berubah menjadi 16.45 wib. Padahal jam kerjaku masih sama saja.
Aku berdiri memandang keluar jendela berusaha tetap waras di tengah semua angan - angan yang sampai saat itu belum tercapai. Ralat, hingga saat ini mungkin. Berbagai pertanyaan muncul begitu saja di kepala. Apa mereka tidak bosan dengan rutinitas yang mereka jalani? Beberapa wajah mereka sudah tak asing buatku. Bisa dibilang aku bertemu mereka setiap pagi dan kalau aku tak lembur, aku juga bisa pulang bersama mereka. Ekspresi mereka tertutup oleh masker yang mulai minggu lalu harus selalu menemani. Kita masih sama-sama manusia. Hidup rumit namun sederhana, panjang namun sementara, dan mereka menuju ke tujuan yang sama. Keabadian, yang entah kapan bisa kita nikmati.
Hidup rumit namun sederhana, panjang namun sementara, dan mereka menuju ke tujuan yang sama. Keabadian.
Peron dua, Stasiun Tanah Abang. Aku kembali menunggu kereta usai berdesakan berpindah jalur. Kamu, orang yang saat itu asing buatku. Mungkin saat itu tampilanmu di mataku biasa saja: kaos oblong hitam dengan sablon yang mulai memudar—tulisan besar “Seringai” dan segala simbolnya—celana jeans gelap, rambut sedikit berantakan, tas selempang yang terlipat di depan. Kamu tidak menonjol, tapi ada sesuatu di cara kamu berdiri yang menarik perhatianku; mungkin posturmu, mungkin senyummu yang nyaris tak terlihat di balik masker.
Kereta datang seperti biasa: bunyi decitan pintu, napas orang banyak, dan hawa hangat yang menguap dari tubuh manusia. Kita terdorong bersama arus, tubuh-tubuh mengunci tanpa izin. Di antara desakan itu, aku menangkap bau kopi—kopi yang entah dari mana—dan sedikit wangi aftershave yang nyaris tidak sopan untuk dirindukan. Kamu menoleh, lalu pandangan kita bertemu. Tidak ada kata, hanya sekejap yang terasa panjang. Matamu menyiratkan sesuatu yang aku tak berani tafsirkan.
Sampai akhirnya, kamu duduk di pojok gerbong, menempel pada jendela, menatap ke luar seperti mencari sesuatu yang tak ada. Aku duduk beberapa tempat darimu, pura-pura membaca notifikasi kosong di ponsel. Jantungku bergerak canggung. Kepala penuh kata yang tak bisa kubilang. Rasanya ingin menanyakan: siapa kamu sebenarnya? Mengapa, di antara ribuan orang ini, aku tiba-tiba merasa familiar?
Kamu menoleh sekali lagi ketika aku tersengal karena tasku tersangkut. Kau membantu—bukan dengan kata, hanya gerakan tangan yang cepat dan jelas. Sebuah tindakan kecil, tapi cukup untuk membuat aku merasa diterima untuk sesaat. Aku ingin mengucapkan terima kasih, tapi suaraku tersangkut oleh kereta yang menderu. Jadi aku hanya mengangguk. Kamu membalas dengan setengah senyum, lalu menunduk lagi.
Di stasiun berikutnya—entah nama apa—kamu turun. Langkahmu hilang di antara orang dan lampu neon. Aku menatap pintu kereta yang menutup di belakangmu sampai suara deru menenggelamkan sisa-sisa perhatian itu. Dalam hitungan detik, kamu jadi kenangan lain yang mungkin hanya ada karena aku mau mengingatnya.
Malam itu, aku pulang dengan kantong penuh sisa rasa yang tak jelas: rindu yang bukan rindu pada orang lama, penasaran yang bukan ingin memiliki, dan kehangatan kecil yang datang dari kebaikan asing. Jakarta, kota yang seringkali kejam, tiba-tiba terasa memberi celah kecil—sebuah momen singkat yang membuat napas agak lebih ringan.
Dan aku masih bertanya pada diri sendiri sampai sekarang: apakah kamu juga mengingat? Atau semuanya hanya satu adegan kecil di ingatanku yang manja, dibuat agar aku tidak merasa sepenuhnya sendirian?


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact