sebuah pengingat kalau semisal besok aku lupa.

Kembali aku menuliskan catatan. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk pengingatku sendiri agar nanti ketika aku menjadi besar dan lupa cara menjadi manusia, aku tak memerlukan orang lain untuk menampar pipi-ku. Melainkan aku sendiri dengan catatan ini.

sehebat-hebatnya manusia, besok hanya jadi cerita.

Munafik, kalau seorang manusia biasa mengatakan kalau ia tak ingin menjadi besar. Entah seberapa ukuran 'besar' yang ia harap tapi di dalam hati kecilnya pasti pernah ada keinginan itu. Tak ada standar untuk 'besar' yang diinginkan manusia. Bisa saja 'besar' yang telah aku raih nanti, bukan menjadi ukuran 'besar' yang kamu ingin.

Beberapa minggu ini, aku masih ter-heran dengan sikap dan karakter manusia yang ada disekitar ku. Tak tahu apa aku yang terlalu sensitif dan ba-per, tapi rasanya semakin kesini, semakin unik karakter manusia yang aku jumpai. Aku akui kalau mereka hebat. Mereka manusia yang bisa membuat orang luar ter-heran. Tapi, sehebat-hebatnya manusia, suatu saat hanya akan jadi cerita. Namun kamu mau cerita yang mana dulu? Cerita besar yang penuh ayal dan bualan atau cerita biasa saja yang akan meninggalkan decak kagum buat pembaca nya?

Latar belakang mereka sama, uang. Bahan bakar mereka bisa hidup, kalau udara bisa mereka ganti mungkin akan mereka lakukan. Apa yang mereka lakukan didasari dengannya. Apa yang mereka lakukan harus mendapatkannya.

Pertanyaan-ku, untuk apa? Untuk apa mereka mengumpulkan pundi-pundi sebanyak itu? Eksistensi? Validasi diri?

Semua dinilai dari nominal. Tak ada harga yang tak bisa dibayar. Liburan? Uang. Ketenangan? Uang. Kebahagiaan? Uang. Semua bisa dibeli, asal ada uang.

Tapi benarkah semua bisa dengan uang? Sesuatu yang bisa dinominalkan justru tak benar-benar bernilai. Be realistic. Mana mungkin bisa bahagia kalau nggak punya uang? Ya. Terus, kamu baru bisa bahagia kalau sudah punya uang. Kapan? Punya uang yang kamu maksud itu berapa? Sejuta? Sepuluh juta? Seratus juta? Atau secukupnya? Secukupnya bukan angka yang pasti kan? Kalau dinominalkan, nggak bisa.

Punya keyakinan kalau uang nggak bisa beli segalanya, nggak berarti aku nggak ngapa-ngapain juga. Tetap kerja cari uang bukan buat bahagia tapi buat kebutuhan hidup. Biar hidup lebih tenang, walau itu masih angan-angan saja sejauh ini. Penggalan lirik lagu Jam Makan Siang juga jadi bukti, kan. Kita mati butuh uang. Entah mau caranya dikubur atau dikremasi, semua butuh uang. Paling tidak, nanti kalau mati nggak nyusahin yang masih hidup.

Rata-rata, manusia yang begitu juga punya seribu wajah. Baik di depan, sampai belakang menghujat. Jilat sana-sini, demi posisi dan keuntungan sendiri yang ujung-ujungnya balik lagi ke uang. Hampir setiap hari mengutuk mereka-mereka yang seperti itu. Belagak paling sibuk padahal sok sibuk. Mengutuk mereka seumur hidup tak akan menjadikan hidup sesuai yang kita harapkan, yang ada capek badan dan mental. Mulut mereka manis luar biasa tapi hatinya lebih luar biasa lagi.
Solusinya?

mengutuk mereka seumur hidup tak akan menjadikan hidup lebih baik.

Kerja ikhlas nggak bikin miskin. Mental apa-apa mesti cuan harus dikurang-kurangi. Tapi ya tahu diri, jangan mentang-mentang begitu, pas temen jualan malah di nego. Apa yang mau dilakukan, pikir lagi. Mau nggak kalau kamu digituin. Coba cari sudut pandang lain, jangan mempersempit pandangan sendiri. Temukan cara hidup kita sendiri agar lepas dari rasa sakit!

Aku selalu berdoa buat orang-orang yang hidupnya 'begitu'. Semoga mereka lekas menemukan uang yang mereka dewakan itu sesuai yang mereka ingin, kalau bisa lebih biar mereka lekas sadar kalau punya uang banyak bukan jaminan mereka akan bahagia, bakal tenang. Semoga besok mereka kita bisa lebih baik lagi jadi manusia.

Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes