Jumat, 02 Januari 2026 0 comments

berharap begini saja.

Tahun ini aku tidak minta banyak. Bahkan mungkin tidak minta apa-apa. Cukup bertahan sampai akhir tahun tanpa drama tambahan, tanpa target palsu, tanpa daftar pencapaian yang harus dipamerkan agar terlihat hidup. Tidak ada kekhawatiran yang perlu dipelihara, tidak ada lomba yang harus dimenangkan. Bangun, jalan, pulang. Sesederhana itu. Aneh, tapi rasanya cukup.

Aku tidak tahu ini disebut puas atau menyerah. Bisa jadi aku akhirnya sampai, bisa juga aku cuma kehabisan tenaga untuk peduli. Ambisi yang dulu ribut di kepala sekarang diam, tidak mati, tapi jelas tidak mau bangun. Rasanya seperti mesin yang masih menyala tapi tidak lagi ke mana-mana dan untuk sekali ini, aku tidak terganggu.

Dulu aku berjalan pakai bahan bakar yang tidak sehat tapi efektif: kebencian, dendam, pembuktian. Semua itu mendorongku cepat, jauh, dan tanpa istirahat. Sekarang tangkinya kosong. Aku berdiri di sini sambil menatap sisa-sisanya, sadar bahwa ternyata ia tidak bisa dipakai selamanya. Ironis, tapi jujur: aku sampai di titik ini justru ketika alasan-alasan itu berhenti bekerja.

Dan mungkin itu inti dari semuanya. Aku tidak ingin mengganti bahan bakar lama dengan yang baru. Tidak ingin memaksa diri menemukan makna, motivasi, atau mimpi yang terdengar bagus saat diceritakan ulang. Tahun ini aku memilih diam. Bukan karena kalah, tapi karena lelah. Dan untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.

Bukan berarti aku benar-benar berhenti. Aku hanya berhenti memaksa. Di sela kelelahan ini, aku tetap menyimpan bucket list kecil bukan daftar mimpi besar yang harus mengubah hidup, cuma beberapa hal sederhana yang ingin kutepati sendiri. Tidak untuk dipamerkan, tidak untuk dibuktikan ke siapa pun. Hanya penanda bahwa aku masih ada dan masih berjalan.

Hal-hal itu tidak terdengar heroik. Tidak akan membuat siapa pun bertepuk tangan. Tapi entah kenapa, aku membutuhkannya. Bukan sebagai ambisi, melainkan sebagai alasan untuk berhenti sejenak dan berkata, “ya, aku sampai juga di sini.” Setelah sekian lama bergerak karena dorongan marah dan ingin menang, rasanya adil kalau sekali ini aku bergerak demi diriku sendiri.

Mungkin ini bukan tentang mencapai sesuatu, tapi tentang merayakan bertahan. Merayakan versi diriku yang tidak lagi haus pengakuan, tapi masih cukup waras untuk memberi diri sendiri hadiah kecil. Dan kalau pada akhirnya itu satu-satunya yang bisa kucapai tahun ini, kurasa itu bukan kegagalan. Itu bentuk lain dari hidup.



Senin, 15 Desember 2025 0 comments

Tuhan terlalu baik tapi aku terlalu curiga.

Kadang aku masih ragu dan bingung dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Kenapa Tuhan baik, terlalu baik malah. Padahal dengan semua yang sudah terjadi, aku merasa tak sepantas itu untuk mendapatkan semua ini. Memakai seragam ini, bisa duduk bersama orang-orang yang sebelumnya tak pernah kuduga, bisa kembali tinggal di kota ini. Rasanya tak pernah terbayang sebelumnya.

Yang tidak pernah dibicarakan orang adalah rasa bersalah yang datang bersama “berkat”.

Karena saat hidup akhirnya lurus, pertanyaannya bukan lagi kenapa aku gagal, tapi kenapa aku berhasil. Dan anehnya, yang kedua jauh lebih menyiksa.

Aku menatap diri sendiri di kaca—rapi, pantas, terlihat seperti orang yang tahu ke mana hidupnya pergi. Padahal tidak. Aku hanya sedang berdiri di antrean yang benar, mengenakan kostum yang tepat, di waktu yang kebetulan berpihak. Tidak ada pencerahan. Tidak ada momen film religi dengan musik lembut. Yang ada hanya aku, dengan kepala penuh kebisingan dan hati yang masih curiga pada kebahagiaan.

Aku menunggu semuanya runtuh.

Karena begitulah hidup mengajariku: kalau terlalu tenang, berarti badai sedang ambil ancang-ancang. Jadi setiap kali seseorang berkata, “Kamu beruntung,” aku ingin tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena mereka tidak tahu berapa banyak bagian dari diriku yang sudah mati untuk sampai ke titik ini.

Tuhan, kalau memang Kau sedang baik, tolong jangan tiba-tiba berubah pikiran.

Aku duduk di antara orang-orang yang berbicara tentang rencana lima tahun ke depan, sementara aku masih berusaha berdamai dengan lima tahun ke belakang. Mereka bicara tentang mimpi, aku menghitung trauma. Mereka menyebut masa depan, aku masih membereskan reruntuhan.

Dan lucunya, aku terlihat baik-baik saja.

Seragam ini menutup banyak hal. Ia membuatku tampak sah, resmi, layak. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kainnya ada tubuh yang lelah berpura-pura pantas. Bahwa setiap pencapaian ini rasanya seperti kesalahan administratif yang belum diperbaiki semesta.

Aku tidak iri pada mereka. Aku iri pada versi diriku yang bisa menerima semua ini tanpa curiga. Karena sampai hari ini, aku masih merasa seperti tamu yang duduk terlalu lama di rumah orang lain. Menikmati jamuan, sambil siap-siap minta maaf kalau sewaktu-waktu disuruh pulang.

Mungkin ini doa yang buruk. Mungkin ini iman yang retak. Tapi beginilah kejujuranku: aku tidak tahu cara bersyukur tanpa takut. Tidak tahu cara bahagia tanpa bersiap kehilangan.J ika Tuhan memang sedang mengujiku, ini ujian yang paling kejam—memberiku hidup yang baik, lalu membiarkanku mempertanyakan apakah aku pantas memilikinya dan kalau ini bukan ujian, maka aku harus belajar satu hal yang belum pernah benar-benar kupelajari: Percaya bahwa sesuatu yang baik tidak selalu harus dibayar dengan penderitaan.

Tapi malam ini, aku belum sampai ke sana.

Sabtu, 29 November 2025 0 comments

catatan yang tidak perlu diingat tapi tak bisa dilupakan.

Ada masa ketika aku pikir hidup paling melelahkan adalah deadline kantor dan rapat yang tidak pernah selesai. Lalu aku ikut Pelatihan Bela Negara di Rindam Magelang, dan ternyata tubuh manusia bisa disiksa dengan cara yang jauh lebih kreatif daripada sekadar zoom jam delapan pagi.

Semuanya dimulai dengan upacara, acara paling damai selama pelatihan. Sebelum kami dilempar ke realitas tempat ini: dunia di mana “istirahat” hanyalah kata dalam kamus, dan “minum” hanya dilakukan saat pelatih tidak melihat. Lengkap dengan suara teriakan yang bisa menggetarkan tanah, atau minimal menggetarkan niat untuk hidup.

PBB menjadi pembuka: seni menggerakkan kaki kanan dan pikiran kiri secara bersamaan. Dalam hitungan lima menit, kami berubah dari manusia merdeka menjadi robot setengah rusak yang salah langkah hanya karena angin lewat. Pelatih mengawasi seperti cctv yang selalu “recalculating”, tapi dengan volume suara lebih besar dan ancaman yang lebih meyakinkan.

Kelas-kelas teori kemudian hadir sebagai oase palsu. Duduk memang, tapi otak tetap dipaksa bekerja sambil mata berjuang agar tidak tumbang. Materi kebangsaan, etika, kepemimpinan, radikalisme semuanya disampaikan dengan gaya yang membuatmu sadar bahwa ini bukan sekadar pelatihan. Ini “peringatan halus” dari negara: jangan macam-macam.

Bela diri taktis muncul untuk mengingatkan bahwa tubuhmu bisa sakit di tempat-tempat yang sebelumnya tidak kamu ketahui memiliki saraf. Posisi kuda-kuda? Lebih mirip kuda pincang. Pelatih mencontohkan sekali, kami mengulang sepuluh kali, dan tetap terlihat seperti video buffering.

Lalu jadilah kami dilempar ke permainan kepemimpinan dan kerja sama tim. “Kerja sama,” katanya. Padahal lebih mirip simulasi bagaimana manusia kehilangan kesabaran dalam 30 detik pertama. Ada yang dominan, ada yang pasrah jadi batu hias. Semua demi menyelesaikan misi yang, ironisnya, bahkan di dunia nyata pun tidak akan pernah kami hadapi.

Jam makan pun tidak jauh lebih baik. Bahkan lebih horor. Porsinya gila. Nasi numpuk kayak lagi bangun pondasi rumah. Dan lauknya? Cuma dua: pindang yang baunya mengintai mimpi buruk, dan telur rebus yang muncul setiap saat kayak mantan toxic yang nggak mau pergi. Susu Milku yang lebih bisa di bilang sirup rasa susu coklat siap mendorong roti Ro-ka rasa pandan. Mau protes? Silakan, tapi lidahmu bakal ikut dilipat sama pelatih.

Kemudian datang bagian paling menyenangkan versi pelatih: survival. Bagian paling menyedihkan versi peserta. Tapi justru aku paling menikmati bagian ini.

Kami belajar menangkap ular tapi hari itu menjadi menu makan siang. Dari cara memegang ekornya, menekan kepalanya, menguliti, memotong, dan membakar. Daging ular bakar tak seenak bayanganku. Aku lebih suka di goreng garing sehingga mirip leher ayam. Tapi aku lebih memilih ular ketimbang ikan pindang yang sejak dulu sudah aku jauhi.

Water rescue? Jangan bayangkan adegan heroik di sungai atau kolam. Nyatanya hanya latihan kering di lapangan, semacam tutorial dasar untuk menyelamatkan orang yang bahkan tidak tenggelam. Kami belajar teknik angkat, tarik, dan gendong. Yang paling dekat dengan air hanyalah keringat sendiri, itu pun kalau masih tersisa air dalam tubuh untuk dikeluarkan.

Di sela-sela itu semua, ada yel-yel yang harus diteriakkan penuh semangat. Entah kenapa rasanya seperti candaan gelap tentang hati yang sudah beberapa kali ingin menyerah.

Lagu Halo-Halo Bandung diputar lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai rasanya otakku minta cerai dari kepalaku sendiri. Kalau Bandung bisa ngomong, mungkin dia bakal bilang, “Udahlah bang, saya capek.” Tapi pelatih tetap nyuruh kami teriak, seolah lagu itu adalah oksigen. Padahal tiap kali nyanyinya mulai, yang mati duluan justru semangatku. Di sela-sela siksa itu, kami harus teriak, "Hanya satu tekad kami!" Entah tekad apa. Tekad untuk bertahan hidup? Tekad untuk kabur? Tekad untuk bunuh diri secara emosional, yang jelas, tiap kali teriakannya menggema, rasa lelah berubah jadi pasrah.

Outbond itu, menuruni dinding dengan tali. Anehnya jadi satu-satunya bagian yang terasa waras. Tubuh tegang, tangan panas, kaki gemetar, tapi kepalaku justru tenang. Tidak ada teriakan yang masuk, tidak ada lagu nasional yang memantul di otak. Hanya aku, tali, dan dinding. Kalau semua ini harus diulang, bagian itu saja. Yang lain? Tidak usah sok heroik.

Malamnya disebut-sebut “malam pembentukan mental”. Katanya seram. Nyatanya tidak. Tidak ada hantu, tidak ada bisikan. Yang ada cuma wajah-wajah penuh cat hitam yang susah hilang, lengket di kulit dan di kepala. Capek, lengket, malas. Seramnya bukan pada suasana, tapi pada kesadaran bahwa besok masih harus bangun dan berpura-pura kuat.

Dan entah bagaimana, semua itu akhirnya selesai juga. Teriakan berhenti. Barisan bubar. Tidak ada lagi nasi gunung, telur abadi, dan pindang sialan yang terus mengejar sampai mimpi. Kami pulang bukan sebagai pahlawan cuma orang-orang lelah yang senang karena satu hal sederhana: akhirnya bisa lari jauh dari pindang.

Ini cuma catatan singkat tentang hari-hari yang seharusnya bisa dilupakan tapi sialnya menempel: teriakan tanpa jeda, lagu yang diputar kebanyakan, tubuh yang dipaksa patuh, wajah penuh hitam yang susah hilang, nasi kebanyakan, telur yang selalu ada, dan pindang yang rasanya seperti hukuman tambahan—semua bercampur jadi satu rasa muak yang anehnya bertahan lama; tidak ada pelajaran heroik, tidak ada momen suci, hanya kelelahan yang jujur dan satu kesadaran pahit: aku tidak ingin mengingatnya, tapi tubuhku sudah lebih dulu menyimpannya.


 
;