Jumat, 21 November 2025 0 comments

tembok di 2050 Mdpl.

Sabtu dini hari, kami berangkat dari rusun — masih ngantuk, tapi pura-pura semangat. Rencana awalnya sih mau ngejar sunrise. Tapi kayaknya matahari pun tahu kami terlalu optimis untuk itu.

Baru keluar dikit, jalanan udah kayak antrean sembako: macet. Ternyata ada kecelakaan di depan terminal Banyumanik. Ya sudah, kami ikut macet bersama puluhan kepala yang juga bertanya-tanya kenapa harus di jam segini. Belum cukup, kami masih sempat-sempatnya mampir ke Indomaret — karena, tentu saja, pendakian tanpa sosis, roti, dan pocari kurang sedap.

Begitu lewat Pasar Jimbaran, suasananya sudah kayak simulasi neraka jam lima pagi. Lalu lalang sayuran segar, truk, pedagang yang teriak, motor zig-zag di antara karung kubis. Di situ aku baru sadar: mungkin yang paling tangguh di dunia bukan pendaki, tapi ibu-ibu pasar yang udah siap tempur sebelum subuh.

Kami belok ke arah Umbul Sidomukti, berharap bisa langsung tancap ke Basecamp Mawar. Tapi ya, harapan tinggal harapan. Portalnya masih tutup. Padahal, kami sudah cari info sekalian cari template video—katanya jalur tektok bisa dibuka dari jam dua. Jam di HP sudah menunjuk 03.30, dan kami cuma bisa bengong di bawah lampu jalan yang redup, sambil pura-pura gak bete.

Akhirnya, setelah debat kecil dan beberapa saran yang gak masuk akal “naik dari sini aja, toh sama aja gunungnya”, kami mutuskan lewat jalur Perantunan. Jalur yang katanya lebih ekstrem. Lebih alami. Lebih “murni”.

Langit masih gelap saat kami mulai bersiap untuk summit. Headlamp sudah menyala, wajah-wajah masih setengah sadar, dan langkah pertama terasa seperti negosiasi antara niat dan kantuk. Udara dingin menggigit, tapi kami pura-pura tangguh—karena gak lucu juga baru mulai sudah mengeluh.

Lewat Pos 1 kami terus jalan tanpa istirahat. Logika kami sederhana: mumpung napas masih panjang dan jalur belum tega bikin menyesal. Dari luar terlihat seperti semangat, tapi mungkin lebih karena gengsi—gak mau jadi yang pertama bilang “sebentar ya, minum dulu.”

Di Pos 2, cahaya mulai muncul dari balik kabut. Headlamp satu per satu padam, diganti sinar oranye lembut yang bikin gunung terlihat lebih ramah dari biasanya. Suasana berubah—yang tadinya sunyi, jadi penuh haha hihi palsu, bercampur antara euforia dan denial.

Masuk Pos 3, napas mulai tersengal, langkah mulai gonta-ganti kaki dominan. Lutut sudah mulai kirim surat protes. Tapi kami tetap berjalan santai, karena katanya slow is the new fast. Jalur berikutnya—dari Pos 3 ke Pos 4—adalah ujian mental. Tanah licin sisa hujan semalam, akar-akar menjulur seperti jebakan alam.

Begitu plang “Pos 4” muncul, kami seperti melihat oase. Tapi ya tentu saja, gunung gak suka kalau manusia terlalu senang. Langsung disambut hujan deras. Kami berhenti, menunggu reda, berusaha tidak kehilangan jari-jari karena kedinginan.

Beberapa dari kami mulai menggigil, dan karena diam terlalu lama bikin keadaan makin absurd, akhirnya kami lanjut. Jas hujan dikeluarkan—warna-warni: merah, kuning, biru, hijau. Di tengah kabut dan tanah basah itu, kami terlihat seperti rombongan ayam karet yang tersesat di dunia mistis. Setiap langkah disertai bunyi plastik gesek yang membuat suasana makin tragikomik.

Dan di titik itu, aku mulai bertanya-tanya dalam hati: ini pendakian atau parade sirkus tanpa penonton?

Badai belum juga berlalu. Angin makin jadi, hujan makin kurang ajar, dan kami tetap memaksa naik ke Pos 5—karena sudah terlalu jauh untuk menyerah, tapi terlalu sengsara untuk disebut menikmati.

Setiap langkah terasa seperti dada dan lutut sedang reuni penuh rindu—bertabrakan tanpa henti. Hujan yang tadi cuma deras sekarang berubah jadi ambisius. Tanah makin licin, akar-akar berubah jadi seluncuran alami, dan sepatu kami tidak lagi punya konsep “grip”.

Kami sampai di Pos 5 dengan kondisi yang bisa dibilang: putus asa tapi masih sok kuat. Hujan masih belum selesai memainkan konsernya, jadi kami tidak berlama-lama. Tanpa pikir panjang, kami langsung bergegas menuju puncak Bondolan.

Di tengah perjalanan, bonus datang: air terjun dadakan. Dan bukan air terjun estetik ala wallpaper—ini lebih seperti Milo panas yang ditumpahkan Tuhan tepat ke jalur. Lumpur coklat mengalir deras, membentuk sungai kecil yang gak kecil-kecil amat. Setiap kali melangkah, kami seperti sedang berjuang tidak hanyut oleh minuman energi versi murah ini.

Plastik jas hujan terus berkibas, muka kami sudah tidak bisa dibedakan mana keringat mana hujan. Suhu terus turun, stamina menolak naik.

Tapi puncak Bondolan sudah dekat. Atau minimal, itu yang terus kami bisikkan untuk menenangkan diri. Karena di balik kabut dan guyuran hujan itu, entah apa yang sebenarnya menunggu.

Dan akhirnya, puncak Bondolan atau sesuatu yang seharusnya puncak Bondolan. Karena yang terlihat dari atas hanya tembok putih raksasa—kabut tebal yang berdiri seperti dinding permanen, seakan-akan gunung sedang berkata, “Ngapain jauh-jauh naik kalau cuma mau lihat putih? Nih, ambil semuanya.”

Tidak ada pemandangan. Tidak ada lembah. Tidak ada matahari dramatis. Hanya angin kencang yang datang dari samping seperti tamparan realita.

Kami bertahan beberapa detik—sekadar untuk membuktikan bahwa kami sudah sampai. Lalu angin membuat keputusan untuk kami: segera turun, sebelum kalian terbang tanpa sayap.

Perjalanan turun adalah perjuangan lain, tapi setidaknya hujan mulai capek nyerang. Begitu kami kembali mencapai Pos 1, gunung tiba-tiba berubah mood. Langit cerah. Awan hilang. Matahari muncul dengan polosnya.

Kami saling pandang. Mau balik lagi? Tentu tidak.

Aroma Indomie dari warung basecamp sudah merayu seperti mantra.
Di titik itu, pemandangan indah bukanlah golden hour atau bukit yang selaras—tapi semangkuk mie kuah panas dengan telur ceplok yang bentuknya tidak sempurna.

Dan jujur… itu puncak paling masuk akal hari itu.

Minggu, 09 November 2025 0 comments

manusia yang belajar jadi manusia.

Kadang yang menakutkan bukan monster di film, tapi manusia yang tersenyum di kehidupan nyata. Dua hari ini aku belajar satu hal: jadi manusia itu pekerjaan seumur hidup — dan tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar lulus.

Dua hari ini aku menyelesaikan drama “Walking on Thin Ice.” Thriller, crime, penuh ketegangan dan kebohongan. Tapi justru di situ aku belajar banyak tentang satu hal yang seharusnya paling sederhana — tapi ternyata paling rumit: jadi manusia.

Lucu, ya. Kita lahir sebagai manusia, tapi seumur hidup justru belajar caranya jadi manusia. Katanya, manusia harus punya hati. Tapi entah sejak kapan hati diganti dengan logika untung-rugi. Katanya, manusia itu makhluk sosial. Tapi aku lihat sekarang, banyak yang lebih nyaman bersosialisasi dengan layar, bukan dengan manusia lain.

Kadang aku berpikir: apa manusia benar-benar tahu artinya jadi manusia? Atau kita semua cuma aktor yang memainkan peran moral di panggung sosial? Semua tampak baik di permukaan, tapi di balik layar penuh retak dan hitungan. Saling menilai, saling menghakimi, saling menutupi boroknya masing-masing.

Dari drama itu aku belajar, ternyata yang paling menyeramkan bukan pembunuhnya. Tapi kenyataan bahwa setiap orang punya potensi untuk jadi jahat — asal ada alasan yang cukup, tekanan yang tepat, atau kesempatan yang pas. Semua orang bisa berubah jadi monster, asal diberi ruang untuk membenarkan diri.

Dan anehnya, kita masih berani menatap cermin dan bilang: “Aku orang baik.”

Padahal, kadang kebaikan itu cuma cara paling halus untuk terlihat lebih tinggi dari orang lain. Kebaikan yang bersyarat, yang menuntut tepuk tangan, yang haus validasi. Seolah kalau tidak diakui baik, maka hidup ini gagal.

Aku muak dengan narasi “jadi manusia yang baik.” Seakan semua harus berakhir dengan pencerahan. Padahal, kenyataannya nggak sesuci itu. Kadang kita cuma berusaha bertahan dari hari ke hari. Kadang kita berbuat salah, bukan karena niat jahat, tapi karena lelah. Kadang kita melukai orang lain tanpa sadar, hanya karena sedang berusaha menyembuhkan diri sendiri.

Menapak bumi, katanya. Tapi bumi ini juga sudah terlalu sesak oleh manusia yang merasa paling benar. Aku sering bertemu orang yang bilang, “Yang penting niat kita baik.” Tapi niat baik tanpa kesadaran cuma jadi pembenaran untuk mengulang kesalahan.

Aku belajar bahwa manusia bukan soal baik atau buruk. Tapi soal berani atau tidak untuk jujur pada dirinya sendiri. Berani mengaku takut. Berani bilang, “Aku belum bisa.” Berani mengakui bahwa ada sisi gelap yang tidak bisa dihapus dengan kutipan motivasi murahan.

Kadang aku merasa dunia ini seperti drama tanpa jeda. Semua orang sibuk tampil sempurna. Sibuk membuktikan bahwa mereka baik, pintar, mapan, bahagia. Padahal banyak dari mereka bahkan tidak tahu apa yang benar-benar mereka mau. Hidup jadi kompetisi absurd untuk jadi versi “terbaik” dari sesuatu yang bahkan tidak mereka pahami.

Dan aku? Aku sedang belajar menerima bahwa aku tidak akan pernah jadi sempurna. Bahwa kadang aku bisa marah tanpa alasan. Bahwa aku juga bisa egois, sinis, bahkan iri. Tapi dari semua itu, aku masih mau belajar. Masih mau sadar. Masih mau menatap ke dalam diri, meski sering kali yang kulihat bukan hal yang indah.

Karena mungkin, jadi manusia itu bukan soal menemukan kebaikan. Tapi tentang menahan diri untuk tidak tenggelam dalam keburukan. Tentang memilih untuk tetap waras ketika semua orang berlomba jadi yang paling benar. Tentang berani mengakui: “Aku juga bisa salah.”

Di dunia yang makin bising dengan klaim moral, aku hanya ingin jadi manusia yang tenang. Yang sadar bahwa menapak bumi artinya rela kotor. Bahwa hidup bukan untuk bersinar, tapi untuk bertahan. Bahwa menjadi manusia bukan perlombaan menuju kesempurnaan, tapi perjalanan panjang untuk mengenali diri sendiri — berkali-kali, jatuh, patah, lalu berdiri lagi.

Mungkin, memang tidak ada manusia yang benar-benar berjalan di tanah yang kokoh. Kita semua cuma berjalan di atas es tipis — menahan napas, berharap tidak retak. Tapi aku memilih terus melangkah. Karena mungkin di antara semua kebisingan dan kepalsuan ini, satu-satunya hal paling manusiawi yang tersisa hanyalah: keberanian untuk tetap berjalan, meski tahu dunia bisa pecah di bawah kaki kapan saja.

Sabtu, 25 Oktober 2025 0 comments

kapan nyusul?

Di tengah tren nikah muda, aku merasa seperti anomali. Bukan karena aku anti pada pernikahan, tapi karena aku tidak ingin berbohong pada diri sendiri. Orang-orang di sekitarku seolah punya peta hidup yang sama: lulus, menikah, punya anak, menua bersama. Aku tidak menentang itu, tapi aku juga tidak ingin berlari hanya karena semua orang berlari ke arah yang sama. Kadang aku iri, bukan pada kebahagiaan mereka, tapi pada keyakinan mereka untuk mengikuti arus tanpa banyak bertanya. Aku iri pada kemampuan mereka untuk menyerah pada tekanan sosial dan tetap tampak bahagia di foto-foto yang penuh senyum.

Aku hanya belum menikah. Tapi di mata mereka, status itu seperti dosa sosial. Seolah aku gagal jadi dewasa hanya karena belum ada cincin di jari. Mereka bertanya dengan nada ringan tapi penuh makna: “Kapan nyusul?” Pertanyaan sederhana yang menusuk di tempat paling sunyi dalam kepala. Aku hanya bisa tersenyum, pura-pura tidak terganggu, padahal ada keinginan untuk bertanya balik: kenapa mereka begitu terganggu dengan pilihan hidup orang lain? Aku tak pernah menanyakan kenapa mereka menikah, kenapa terburu-buru, kenapa tetap bertahan padahal sudah tak bahagia. Tapi dunia ini aneh—diam dianggap sombong, jujur dianggap takut, dan berbeda dianggap salah.

Kadang aku berpikir, mungkin diamku salah. Kukira dengan diam, orang-orang akan berhenti menggonggong. Tapi rupanya semakin aku tenang, semakin keras mereka menilai. Mereka yang menikah dengan sponsor orang tua berbicara lantang soal kemandirian. Mereka yang hidupnya masih ditopang berbicara tentang tanggung jawab. Mereka yang tak pernah benar-benar memikul beban berbicara tentang kesiapan. Ironi yang terlalu nyata, tapi dibiarkan karena status “sudah menikah” seolah cukup untuk menutup semua celah logika.

Aku tidak menolak menikah. Aku hanya tidak ingin menjadikannya pelarian. Aku ingin hidup yang dijalani karena sadar, bukan karena takut. Aku ingin cinta yang lahir dari kesiapan, bukan kepanikan. Karena di balik banyak pernikahan yang tampak bahagia, aku melihat mata yang lelah, hati yang dingin, dan kehidupan yang penuh kompromi tanpa arah. Mereka menang di mata sosial, tapi kehilangan diri mereka sendiri pelan-pelan.

Tidak semua orang punya privilese yang sama. Tidak semua bisa memulai hidup baru dengan tabungan aman dan restu tanpa beban. Beberapa dari kami masih berjuang untuk berdiri sendiri, bukan karena ego, tapi karena ingin memastikan bahwa nanti, saat waktunya tiba, kami benar-benar siap berbagi hidup, bukan sekadar menambah beban. Tapi dunia tidak sabar pada orang yang sedang mempersiapkan diri. Dunia hanya tahu hasil, bukan proses.

Aku lelah, tapi juga sadar. Bahwa diam bukan kelemahan, melainkan bentuk perlawanan paling halus. Bahwa tidak menikah belum tentu berarti kesepian. Kadang justru di kesendirian, aku menemukan kejujuran yang tidak kupahami saat berada di tengah keramaian. Karena di dunia yang sibuk berpura-pura bahagia, mungkin kesendirian adalah satu-satunya ruang di mana aku benar-benar jadi diriku sendiri.

 
;