Minggu, 09 November 2025 0 comments

manusia yang belajar jadi manusia.

Kadang yang menakutkan bukan monster di film, tapi manusia yang tersenyum di kehidupan nyata. Dua hari ini aku belajar satu hal: jadi manusia itu pekerjaan seumur hidup — dan tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar lulus.

Dua hari ini aku menyelesaikan drama “Walking on Thin Ice.” Thriller, crime, penuh ketegangan dan kebohongan. Tapi justru di situ aku belajar banyak tentang satu hal yang seharusnya paling sederhana — tapi ternyata paling rumit: jadi manusia.

Lucu, ya. Kita lahir sebagai manusia, tapi seumur hidup justru belajar caranya jadi manusia. Katanya, manusia harus punya hati. Tapi entah sejak kapan hati diganti dengan logika untung-rugi. Katanya, manusia itu makhluk sosial. Tapi aku lihat sekarang, banyak yang lebih nyaman bersosialisasi dengan layar, bukan dengan manusia lain.

Kadang aku berpikir: apa manusia benar-benar tahu artinya jadi manusia? Atau kita semua cuma aktor yang memainkan peran moral di panggung sosial? Semua tampak baik di permukaan, tapi di balik layar penuh retak dan hitungan. Saling menilai, saling menghakimi, saling menutupi boroknya masing-masing.

Dari drama itu aku belajar, ternyata yang paling menyeramkan bukan pembunuhnya. Tapi kenyataan bahwa setiap orang punya potensi untuk jadi jahat — asal ada alasan yang cukup, tekanan yang tepat, atau kesempatan yang pas. Semua orang bisa berubah jadi monster, asal diberi ruang untuk membenarkan diri.

Dan anehnya, kita masih berani menatap cermin dan bilang: “Aku orang baik.”

Padahal, kadang kebaikan itu cuma cara paling halus untuk terlihat lebih tinggi dari orang lain. Kebaikan yang bersyarat, yang menuntut tepuk tangan, yang haus validasi. Seolah kalau tidak diakui baik, maka hidup ini gagal.

Aku muak dengan narasi “jadi manusia yang baik.” Seakan semua harus berakhir dengan pencerahan. Padahal, kenyataannya nggak sesuci itu. Kadang kita cuma berusaha bertahan dari hari ke hari. Kadang kita berbuat salah, bukan karena niat jahat, tapi karena lelah. Kadang kita melukai orang lain tanpa sadar, hanya karena sedang berusaha menyembuhkan diri sendiri.

Menapak bumi, katanya. Tapi bumi ini juga sudah terlalu sesak oleh manusia yang merasa paling benar. Aku sering bertemu orang yang bilang, “Yang penting niat kita baik.” Tapi niat baik tanpa kesadaran cuma jadi pembenaran untuk mengulang kesalahan.

Aku belajar bahwa manusia bukan soal baik atau buruk. Tapi soal berani atau tidak untuk jujur pada dirinya sendiri. Berani mengaku takut. Berani bilang, “Aku belum bisa.” Berani mengakui bahwa ada sisi gelap yang tidak bisa dihapus dengan kutipan motivasi murahan.

Kadang aku merasa dunia ini seperti drama tanpa jeda. Semua orang sibuk tampil sempurna. Sibuk membuktikan bahwa mereka baik, pintar, mapan, bahagia. Padahal banyak dari mereka bahkan tidak tahu apa yang benar-benar mereka mau. Hidup jadi kompetisi absurd untuk jadi versi “terbaik” dari sesuatu yang bahkan tidak mereka pahami.

Dan aku? Aku sedang belajar menerima bahwa aku tidak akan pernah jadi sempurna. Bahwa kadang aku bisa marah tanpa alasan. Bahwa aku juga bisa egois, sinis, bahkan iri. Tapi dari semua itu, aku masih mau belajar. Masih mau sadar. Masih mau menatap ke dalam diri, meski sering kali yang kulihat bukan hal yang indah.

Karena mungkin, jadi manusia itu bukan soal menemukan kebaikan. Tapi tentang menahan diri untuk tidak tenggelam dalam keburukan. Tentang memilih untuk tetap waras ketika semua orang berlomba jadi yang paling benar. Tentang berani mengakui: “Aku juga bisa salah.”

Di dunia yang makin bising dengan klaim moral, aku hanya ingin jadi manusia yang tenang. Yang sadar bahwa menapak bumi artinya rela kotor. Bahwa hidup bukan untuk bersinar, tapi untuk bertahan. Bahwa menjadi manusia bukan perlombaan menuju kesempurnaan, tapi perjalanan panjang untuk mengenali diri sendiri — berkali-kali, jatuh, patah, lalu berdiri lagi.

Mungkin, memang tidak ada manusia yang benar-benar berjalan di tanah yang kokoh. Kita semua cuma berjalan di atas es tipis — menahan napas, berharap tidak retak. Tapi aku memilih terus melangkah. Karena mungkin di antara semua kebisingan dan kepalsuan ini, satu-satunya hal paling manusiawi yang tersisa hanyalah: keberanian untuk tetap berjalan, meski tahu dunia bisa pecah di bawah kaki kapan saja.

Sabtu, 25 Oktober 2025 0 comments

kapan nyusul?

Di tengah tren nikah muda, aku merasa seperti anomali. Bukan karena aku anti pada pernikahan, tapi karena aku tidak ingin berbohong pada diri sendiri. Orang-orang di sekitarku seolah punya peta hidup yang sama: lulus, menikah, punya anak, menua bersama. Aku tidak menentang itu, tapi aku juga tidak ingin berlari hanya karena semua orang berlari ke arah yang sama. Kadang aku iri, bukan pada kebahagiaan mereka, tapi pada keyakinan mereka untuk mengikuti arus tanpa banyak bertanya. Aku iri pada kemampuan mereka untuk menyerah pada tekanan sosial dan tetap tampak bahagia di foto-foto yang penuh senyum.

Aku hanya belum menikah. Tapi di mata mereka, status itu seperti dosa sosial. Seolah aku gagal jadi dewasa hanya karena belum ada cincin di jari. Mereka bertanya dengan nada ringan tapi penuh makna: “Kapan nyusul?” Pertanyaan sederhana yang menusuk di tempat paling sunyi dalam kepala. Aku hanya bisa tersenyum, pura-pura tidak terganggu, padahal ada keinginan untuk bertanya balik: kenapa mereka begitu terganggu dengan pilihan hidup orang lain? Aku tak pernah menanyakan kenapa mereka menikah, kenapa terburu-buru, kenapa tetap bertahan padahal sudah tak bahagia. Tapi dunia ini aneh—diam dianggap sombong, jujur dianggap takut, dan berbeda dianggap salah.

Kadang aku berpikir, mungkin diamku salah. Kukira dengan diam, orang-orang akan berhenti menggonggong. Tapi rupanya semakin aku tenang, semakin keras mereka menilai. Mereka yang menikah dengan sponsor orang tua berbicara lantang soal kemandirian. Mereka yang hidupnya masih ditopang berbicara tentang tanggung jawab. Mereka yang tak pernah benar-benar memikul beban berbicara tentang kesiapan. Ironi yang terlalu nyata, tapi dibiarkan karena status “sudah menikah” seolah cukup untuk menutup semua celah logika.

Aku tidak menolak menikah. Aku hanya tidak ingin menjadikannya pelarian. Aku ingin hidup yang dijalani karena sadar, bukan karena takut. Aku ingin cinta yang lahir dari kesiapan, bukan kepanikan. Karena di balik banyak pernikahan yang tampak bahagia, aku melihat mata yang lelah, hati yang dingin, dan kehidupan yang penuh kompromi tanpa arah. Mereka menang di mata sosial, tapi kehilangan diri mereka sendiri pelan-pelan.

Tidak semua orang punya privilese yang sama. Tidak semua bisa memulai hidup baru dengan tabungan aman dan restu tanpa beban. Beberapa dari kami masih berjuang untuk berdiri sendiri, bukan karena ego, tapi karena ingin memastikan bahwa nanti, saat waktunya tiba, kami benar-benar siap berbagi hidup, bukan sekadar menambah beban. Tapi dunia tidak sabar pada orang yang sedang mempersiapkan diri. Dunia hanya tahu hasil, bukan proses.

Aku lelah, tapi juga sadar. Bahwa diam bukan kelemahan, melainkan bentuk perlawanan paling halus. Bahwa tidak menikah belum tentu berarti kesepian. Kadang justru di kesendirian, aku menemukan kejujuran yang tidak kupahami saat berada di tengah keramaian. Karena di dunia yang sibuk berpura-pura bahagia, mungkin kesendirian adalah satu-satunya ruang di mana aku benar-benar jadi diriku sendiri.

Selasa, 21 Oktober 2025 0 comments

Menang Atas Perasaan


Pelan. Itu kata yang akhir-akhir ini sering aku ulang dalam kepala, seolah jadi mantra buat menahan diri supaya nggak kabur lagi. Aku sedang belajar keluar dari versi diriku yang selalu menghindar — yang pura-pura sibuk, pura-pura nggak peduli, padahal cuma takut disakiti. Aku pikir dulu menjauh adalah cara paling aman buat bertahan, tapi nyatanya justru bikin aku perlahan kehabisan napas, dicekik pelan-pelan oleh rasa sepi yang kuundang sendiri.

Setiap kali sesuatu mulai terasa dekat, aku refleks menarik diri. Ada bagian dari diriku yang percaya kalau kedekatan cuma awal dari kehilangan. Jadi aku menyiapkan diri lebih dulu — bukan dengan kekuatan, tapi dengan jarak. Ironis, ya? Aku sibuk menjauh biar nggak kecewa, tapi malah kecewa karena terus menjauh. Sampai akhirnya aku sadar, aku nggak hidup, cuma sembunyi dalam versi aman dari diriku sendiri.

Sekarang aku sedang belajar buat diam di tempat. Belajar buat nggak buru-buru menutup pintu setiap kali ada yang ngetuk, bahkan kalau bunyinya bikin jantung deg-degan. Aku mencoba menahan diri untuk nggak langsung kabur saat rasa takut datang, membiarkan perasaan itu duduk sebentar, lalu pergi sendiri. Aku ingin berhenti nge-ghost diriku sendiri setiap kali hidup mulai terasa ribut.

Nggak mudah, tentu saja. Kadang aku masih ingin lari sejauh mungkin, biar nggak perlu ngerasain apa-apa. Tapi aku mulai sadar, kabur itu bukan bentuk perlindungan, itu cuma cara halus buat bunuh diri pelan-pelan. Aku nggak lagi ngejar kesembuhan instan — karena nggak ada. Aku cuma pengen bisa hadir di tengah rasa takut, di tengah bingung, di tengah hidup yang sering terasa absurd.

Tapi “berdamai” ternyata bukan kata yang lembut seperti yang sering dikutip di internet. Nggak ada lilin aromaterapi, nggak ada playlist lo-fi, nggak ada journaling penuh afirmasi positif. Berdamai itu kotor, sunyi, dan kadang bikin muak. Karena nggak ada yang romantis dari duduk sendirian di kamar, ngerasa kosong, tapi harus pura-pura baik-baik aja. Di titik tertentu aku mulai bertanya-tanya: ini tenang, atau cuma mati rasa?

Lucu juga ya, dunia suka banget ngomong soal self-love, tapi nggak pernah ngajarin gimana cara mencintai diri sendiri yang rusak. Katanya, “terima dirimu apa adanya.” Oke, tapi gimana kalau yang ada itu cuma reruntuhan? Kalau setiap kali aku ngaca, yang kutemui cuma wajah yang capek pura-pura kuat? Kadang aku berpikir, mungkin aku nggak benar-benar pengen sembuh — mungkin aku cuma pengen berhenti berpura-pura.

Luka-luka ini anehnya justru terasa jujur. Mereka kasar, tapi nyata. Sementara versi “positif” dari diriku terasa seperti topeng yang lengket dan susah dilepas. Aku mulai bisa menghargai sisi gelap itu — bukan karena aku bangga, tapi karena di sanalah aku benar-benar hidup. Dunia nggak pernah suka orang yang jujur tentang sakitnya, tapi aku juga udah terlalu letih buat terus menutupi darah di balik senyum.

Sekarang aku tahu, nggak semua hal akan baik-baik aja. Beberapa luka nggak bisa sembuh — mereka cuma berhenti nyakitin karena kita udah kebal. Dan mungkin itu nggak apa-apa. Mungkin jadi dewasa bukan soal pulih, tapi soal bisa hidup berdampingan dengan yang retak tanpa berharap utuh lagi. Aku mulai belajar mencintai ketidakpastian, karena ternyata di sanalah kejujuran tinggal.

Malam ini aku nggak nyari cahaya. Aku cuma duduk di tengah gelap, ngerasain detak jantung yang masih ada, tanda kalau aku belum sepenuhnya menyerah. Mungkin ini bentuk keberanian yang paling sederhana — bukan berlari ke arah terang, tapi bertahan di tempat, walau semua hal dalam diri teriak pengen kabur. Aku nggak tahu apakah ini proses, atau cuma istirahat sebelum mundur lagi. Tapi untuk sekarang, biarlah begini dulu.

Karena besok, siapa tahu aku balik ngilang lagi. Dan kalaupun iya, mungkin itu juga bagian dari perjalanan — versi lain dari bertahan. Kadang bertahan memang nggak selalu berarti terus maju. Kadang bertahan cuma berarti… masih di sini, walau semuanya pengen pergi.

 
;