Selasa, 14 Oktober 2025 0 comments

am i toxic?

Sometimes I catch myself wondering if I’m toxic. Not because I enjoy hurting people, but because it’s hard for me to believe that anyone could really care about me without a reason. Whenever someone gets too close, I start to tense up. My mind goes on high alert, scanning every word, every silence, every small delay in their reply. It’s like I’m always waiting for proof that I’m not worth staying for. And when I think I see it — even if it’s not really there — I start pulling away. Quietly. Casually. Like disappearing before they can notice I’m gone.

It’s a habit that feels safe but also lonely. Every time someone tries to care, I question it. Every act of kindness feels suspicious, every compliment sounds rehearsed. I don’t know when I started doubting love like this. Maybe it began the first time I trusted someone who left without explanation. Or maybe it’s a mix of all the small heartbreaks that piled up until I stopped expecting people to stay. I built a version of myself that looked independent, strong, self-contained — but it was really just armor. Armor so heavy that even I started believing I didn’t need anyone.

But lately, I’ve been tired. Not the kind of tired that sleep can fix — the kind that sits deep in your chest. I’m tired of my own patterns. Tired of pretending that I don’t care when I do. Tired of pushing people away and then wondering why I feel so isolated. I’m starting to see how I sabotage things before they even have a chance to grow. How I convince myself I’m unlovable just to avoid the risk of being proven wrong later. It’s messed up — this need to control my own heartbreak by starting it early.

Sometimes I think maybe I’m not toxic — maybe I’m just scared. Maybe I’m someone who learned to survive by staying a few steps ahead of pain. But survival isn’t living. I don’t want to keep losing good things just because I’m afraid of losing them. So now I’m trying to slow down. To breathe when I feel the urge to run. To stay when everything in me wants to disappear. It’s not easy. My fear doesn’t vanish overnight. But I guess that’s the point — slow down, but don’t stop.

I’m learning that letting people care about me doesn’t make me weak. It doesn’t make me naive. It just means I’m brave enough to try again — even after the part of me that still flinches every time someone says, “I’m here.” And maybe that’s what healing looks like: staying. Staying long enough to see that not everyone leaves, and that not every kind of love ends in pain.

I think I’m finally learning to live without fighting my own heart.

Maybe the goal isn’t to trust everyone blindly, but to trust myself enough to handle whatever comes. To know that if someone stays, I can let them. And if they leave, I’ll survive.

That’s the peace I’m chasing now — not the absence of pain, but think I’m finally learning to live without fighting my own heart.

Maybe the goal isn’t to trust everyone blindly, but to trust myself enough to handle whatever comes. To know that if someone stays, I can let them. And if they leave, I’ll survive.

That’s the peace I’m chasing now — not the absence of pain, but the presence of gentleness toward myself.

Slow down, but don’t stop.

Keep going, even if the only thing moving is your breath. presence of gentleness toward myself.

Slow down, but don’t stop.

Keep going, even if the only thing moving is your breath.

Rabu, 08 Oktober 2025 0 comments

yang katanya 'surga'

Aku datang jauh dari dasar neraka, berjalan dengan luka di kaki dan sisa bara di dada, berharap di sini aku bisa bernapas lebih lama. Tapi ternyata, udara “surga” ini sama saja — cuma dibungkus lebih halus, diberi aroma bunga dan kata-kata manis agar terasa lebih bisa diterima.

Di sini memang tak sepanas asal usulku. Tak sebrutal dan sefrontal masa laluku. Tapi sisa-sisanya? Sama saja. Manusia tetaplah manusia — gemar menghakimi tapi takut dihakimi, sibuk memperbaiki citra tapi lupa memperbaiki isi kepala.

Racauanku dianggap aneh. Mereka bilang aku terlalu sensitif, terlalu emosional, terlalu... banyak mikir. Tapi kelakuan mereka tak jauh beda denganku. Hanya saja, mereka pandai membungkusnya dengan pakaian yang rapi, senyum yang dibuat-buat, dan doa yang dilafalkan hanya untuk didengar orang lain.

Balutan kulit mereka putih bersih, seolah kesucian bisa diukur dari seberapa terang warna epidermisnya. Tapi kalau kau bongkar sedikit lapisan luarnya, baunya sama. Busuk oleh iri, oleh pura-pura, oleh haus pengakuan.

Di sini, semua berlomba menjadi versi paling suci dari dirinya sendiri — bukan karena ingin berubah, tapi karena takut dibilang hina. Surga macam apa yang isinya orang-orang yang saling mengintip aib, sambil pura-pura mendoakan satu sama lain?

Aku tak tahu apakah aku terlalu rusak untuk tempat ini, atau justru tempat ini yang sebenarnya rusak tapi terlalu pandai berpura-pura utuh. Yang jelas, aku mulai rindu neraka — setidaknya di sana, semua orang jujur tentang betapa panasnya hidup.

Senin, 06 Oktober 2025 0 comments

kata-kata berbahaya

Aku sering heran kenapa orang begitu mudah bicara tentang love language. Seolah-olah cinta bisa diringkas jadi lima kategori rapi seperti di buku pegangan. Padahal bagiku, cinta tidak pernah sesederhana itu. Apalagi kalau sejak kecil aku tidak tumbuh di rumah yang mengenalkan cinta lewat kata-kata.

Karena jujur saja, aku tidak tumbuh di rumah yang penuh kata-kata manis. Aku tidak terbiasa mendengar “aku sayang kamu” di meja makan, atau ucapan “kamu hebat” setiap kali berhasil melakukan sesuatu. Di rumah, cinta bukan lewat kata. Cinta itu dibungkus dalam hal-hal lain: piring nasi yang sudah tersaji, listrik yang tetap menyala, pakaian yang selalu bersih.

Jadi jangan salahkan aku jika kini aku canggung. Aku bukan orang yang pandai mengekspresikan cinta lewat kata. Bagiku, kata itu tipis, rapuh, bisa hilang terbawa angin. Aku lebih percaya pada hal-hal kecil yang kasat mata: memastikan orang lain makan lebih dulu, menyiapkan sesuatu sebelum diminta, atau sekadar diam menemani.

Kadang aku iri juga, pada mereka yang bisa dengan mudah menulis “I love you” sepuluh kali sehari. Pada mereka yang bisa menangis sambil berkata “aku butuh kamu” tanpa malu. Aku? Aku malah membeku, bingung, menelan semua yang ada di dada. Karena di kepalaku selalu ada suara yang berkata: kata-kata itu tak menjamin apa-apa. Kata-kata bisa palsu. Kata-kata bisa menusuk. Kata-kata pernah kupelajari di rumah sebagai sesuatu yang… berbahaya.

Tapi bukan berarti aku tidak bisa mencintai. Aku hanya mencintai dengan caraku sendiri, caraku yang sering kali tidak terlihat. Aku mencintai lewat tindakan-tindakan kecil yang kadang kamu tidak sadar. Lewat perhatian yang tidak pernah aku umumkan. Lewat kehadiran yang mungkin terasa biasa, tapi sebenarnya itu satu-satunya hal yang bisa aku beri.

Dan ya, aku tahu itu kadang menyulitkanmu. Kau menunggu kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutku. Kau menunggu pengakuan yang tidak bisa kuberi. Aku tahu. Tapi percaya atau tidak, cinta itu ada. Ia hanya tidak pandai bicara.

Mungkin, kalau kau cukup sabar, kau akan tahu: cinta versiku bukan dari lidahku, tapi dari segala hal kecil yang diam-diam aku lakukan untukmu.

 
;