Rabu, 08 Oktober 2025 0 comments

yang katanya 'surga'

Aku datang jauh dari dasar neraka, berjalan dengan luka di kaki dan sisa bara di dada, berharap di sini aku bisa bernapas lebih lama. Tapi ternyata, udara “surga” ini sama saja — cuma dibungkus lebih halus, diberi aroma bunga dan kata-kata manis agar terasa lebih bisa diterima.

Di sini memang tak sepanas asal usulku. Tak sebrutal dan sefrontal masa laluku. Tapi sisa-sisanya? Sama saja. Manusia tetaplah manusia — gemar menghakimi tapi takut dihakimi, sibuk memperbaiki citra tapi lupa memperbaiki isi kepala.

Racauanku dianggap aneh. Mereka bilang aku terlalu sensitif, terlalu emosional, terlalu... banyak mikir. Tapi kelakuan mereka tak jauh beda denganku. Hanya saja, mereka pandai membungkusnya dengan pakaian yang rapi, senyum yang dibuat-buat, dan doa yang dilafalkan hanya untuk didengar orang lain.

Balutan kulit mereka putih bersih, seolah kesucian bisa diukur dari seberapa terang warna epidermisnya. Tapi kalau kau bongkar sedikit lapisan luarnya, baunya sama. Busuk oleh iri, oleh pura-pura, oleh haus pengakuan.

Di sini, semua berlomba menjadi versi paling suci dari dirinya sendiri — bukan karena ingin berubah, tapi karena takut dibilang hina. Surga macam apa yang isinya orang-orang yang saling mengintip aib, sambil pura-pura mendoakan satu sama lain?

Aku tak tahu apakah aku terlalu rusak untuk tempat ini, atau justru tempat ini yang sebenarnya rusak tapi terlalu pandai berpura-pura utuh. Yang jelas, aku mulai rindu neraka — setidaknya di sana, semua orang jujur tentang betapa panasnya hidup.

Senin, 06 Oktober 2025 0 comments

kata-kata berbahaya

Aku sering heran kenapa orang begitu mudah bicara tentang love language. Seolah-olah cinta bisa diringkas jadi lima kategori rapi seperti di buku pegangan. Padahal bagiku, cinta tidak pernah sesederhana itu. Apalagi kalau sejak kecil aku tidak tumbuh di rumah yang mengenalkan cinta lewat kata-kata.

Karena jujur saja, aku tidak tumbuh di rumah yang penuh kata-kata manis. Aku tidak terbiasa mendengar “aku sayang kamu” di meja makan, atau ucapan “kamu hebat” setiap kali berhasil melakukan sesuatu. Di rumah, cinta bukan lewat kata. Cinta itu dibungkus dalam hal-hal lain: piring nasi yang sudah tersaji, listrik yang tetap menyala, pakaian yang selalu bersih.

Jadi jangan salahkan aku jika kini aku canggung. Aku bukan orang yang pandai mengekspresikan cinta lewat kata. Bagiku, kata itu tipis, rapuh, bisa hilang terbawa angin. Aku lebih percaya pada hal-hal kecil yang kasat mata: memastikan orang lain makan lebih dulu, menyiapkan sesuatu sebelum diminta, atau sekadar diam menemani.

Kadang aku iri juga, pada mereka yang bisa dengan mudah menulis “I love you” sepuluh kali sehari. Pada mereka yang bisa menangis sambil berkata “aku butuh kamu” tanpa malu. Aku? Aku malah membeku, bingung, menelan semua yang ada di dada. Karena di kepalaku selalu ada suara yang berkata: kata-kata itu tak menjamin apa-apa. Kata-kata bisa palsu. Kata-kata bisa menusuk. Kata-kata pernah kupelajari di rumah sebagai sesuatu yang… berbahaya.

Tapi bukan berarti aku tidak bisa mencintai. Aku hanya mencintai dengan caraku sendiri, caraku yang sering kali tidak terlihat. Aku mencintai lewat tindakan-tindakan kecil yang kadang kamu tidak sadar. Lewat perhatian yang tidak pernah aku umumkan. Lewat kehadiran yang mungkin terasa biasa, tapi sebenarnya itu satu-satunya hal yang bisa aku beri.

Dan ya, aku tahu itu kadang menyulitkanmu. Kau menunggu kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutku. Kau menunggu pengakuan yang tidak bisa kuberi. Aku tahu. Tapi percaya atau tidak, cinta itu ada. Ia hanya tidak pandai bicara.

Mungkin, kalau kau cukup sabar, kau akan tahu: cinta versiku bukan dari lidahku, tapi dari segala hal kecil yang diam-diam aku lakukan untukmu.

Minggu, 05 Oktober 2025 0 comments

10k di tangan istri yang tepat

Katanya, sepuluh ribu di tangan istri yang tepat bisa jadi berkat. Kalimat yang sering lewat di beranda media sosialku, biasanya disertai foto tangan perempuan yang sedang menanak nasi atau menyiapkan bekal sederhana untuk suaminya. Terlihat hangat memang, tapi di dunia nyata, sepuluh ribu bahkan sudah tak cukup untuk membeli rasa sabar, apalagi rasa kenyang.

Jajan fotoyu dan kopi ku saja sudah gocap. Itu pun belum termasuk ongkos perasaan setelah sadar saldo e-wallet tinggal seharga parkir motor di mall. Lucu, bagaimana orang masih percaya bahwa cinta dan penghematan bisa mengalahkan logika ekonomi.

Aku sering dengar orang berkata, “Uang bukan segalanya.” Kalimat itu memang terdengar bijak, tapi makin ke sini terdengar seperti candaan yang basi. Benar, uang bukan segalanya — tapi coba hilangkan uang dari hidupmu selama sebulan, nanti kamu akan tahu, bahkan sabun dan gas elpiji pun tak bisa dibayar pakai cinta.

Ada banyak rumah tangga yang tampak baik-baik saja di permukaan, tapi retak halus di dalamnya. Bukan karena kurang cinta, tapi karena terlalu sering menambal hidup dengan harapan tanpa perhitungan. Suami yang bangga bilang, “Aku tidak kaya, tapi aku tanggung jawab.” Padahal tanggung jawab tanpa kesiapan finansial sering kali cuma jadi slogan kosong.

Dan istrinya? Dilarang bekerja. Katanya, cukup di rumah saja, biar suami yang menafkahi. Padahal di balik pintu rumah itu, ada kepala yang nyaris meledak karena memikirkan beras yang menipis, listrik yang belum dibayar, dan kebutuhan anak yang terus bertambah. Combo yang pas untuk menambah peliharaan negara — fakir, miskin, dan yang terlantar — kali ini bukan karena malas, tapi karena sistem yang meninabobokan perempuan dengan kalimat manis bertajuk “surga di telapak kaki istri yang sabar.”

Perempuan diajarkan untuk hemat, untuk pandai mengatur keuangan, meski uangnya tak pernah cukup. Diajarkan untuk tetap tersenyum meski isi dapur sudah hampir kosong. Diajarkan untuk sabar, seolah kesabaran bisa mengganti harga minyak goreng.

Dan ironisnya, yang paling sering bilang “uang bukan segalanya” biasanya adalah mereka yang tak pernah kekurangan. Mereka yang tak perlu menghitung kembalian dari tukang sayur. Mereka yang tidur nyenyak karena tagihannya sudah lunas.

Cinta itu penting, tentu saja. Tapi cinta tanpa arah dan tanpa daya hanya akan membuat dua orang saling menua dalam tekanan. Sepuluh ribu di tangan istri yang tepat? Mungkin bisa jadi berkat — kalau suaminya juga tepat. Tepat pikiran, tepat usaha, dan tepat sadar bahwa cinta tak akan bertahan di perut yang lapar.

 
;