Senin, 06 Oktober 2025 0 comments

kata-kata berbahaya

Aku sering heran kenapa orang begitu mudah bicara tentang love language. Seolah-olah cinta bisa diringkas jadi lima kategori rapi seperti di buku pegangan. Padahal bagiku, cinta tidak pernah sesederhana itu. Apalagi kalau sejak kecil aku tidak tumbuh di rumah yang mengenalkan cinta lewat kata-kata.

Karena jujur saja, aku tidak tumbuh di rumah yang penuh kata-kata manis. Aku tidak terbiasa mendengar “aku sayang kamu” di meja makan, atau ucapan “kamu hebat” setiap kali berhasil melakukan sesuatu. Di rumah, cinta bukan lewat kata. Cinta itu dibungkus dalam hal-hal lain: piring nasi yang sudah tersaji, listrik yang tetap menyala, pakaian yang selalu bersih.

Jadi jangan salahkan aku jika kini aku canggung. Aku bukan orang yang pandai mengekspresikan cinta lewat kata. Bagiku, kata itu tipis, rapuh, bisa hilang terbawa angin. Aku lebih percaya pada hal-hal kecil yang kasat mata: memastikan orang lain makan lebih dulu, menyiapkan sesuatu sebelum diminta, atau sekadar diam menemani.

Kadang aku iri juga, pada mereka yang bisa dengan mudah menulis “I love you” sepuluh kali sehari. Pada mereka yang bisa menangis sambil berkata “aku butuh kamu” tanpa malu. Aku? Aku malah membeku, bingung, menelan semua yang ada di dada. Karena di kepalaku selalu ada suara yang berkata: kata-kata itu tak menjamin apa-apa. Kata-kata bisa palsu. Kata-kata bisa menusuk. Kata-kata pernah kupelajari di rumah sebagai sesuatu yang… berbahaya.

Tapi bukan berarti aku tidak bisa mencintai. Aku hanya mencintai dengan caraku sendiri, caraku yang sering kali tidak terlihat. Aku mencintai lewat tindakan-tindakan kecil yang kadang kamu tidak sadar. Lewat perhatian yang tidak pernah aku umumkan. Lewat kehadiran yang mungkin terasa biasa, tapi sebenarnya itu satu-satunya hal yang bisa aku beri.

Dan ya, aku tahu itu kadang menyulitkanmu. Kau menunggu kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutku. Kau menunggu pengakuan yang tidak bisa kuberi. Aku tahu. Tapi percaya atau tidak, cinta itu ada. Ia hanya tidak pandai bicara.

Mungkin, kalau kau cukup sabar, kau akan tahu: cinta versiku bukan dari lidahku, tapi dari segala hal kecil yang diam-diam aku lakukan untukmu.

Minggu, 05 Oktober 2025 0 comments

10k di tangan istri yang tepat

Katanya, sepuluh ribu di tangan istri yang tepat bisa jadi berkat. Kalimat yang sering lewat di beranda media sosialku, biasanya disertai foto tangan perempuan yang sedang menanak nasi atau menyiapkan bekal sederhana untuk suaminya. Terlihat hangat memang, tapi di dunia nyata, sepuluh ribu bahkan sudah tak cukup untuk membeli rasa sabar, apalagi rasa kenyang.

Jajan fotoyu dan kopi ku saja sudah gocap. Itu pun belum termasuk ongkos perasaan setelah sadar saldo e-wallet tinggal seharga parkir motor di mall. Lucu, bagaimana orang masih percaya bahwa cinta dan penghematan bisa mengalahkan logika ekonomi.

Aku sering dengar orang berkata, “Uang bukan segalanya.” Kalimat itu memang terdengar bijak, tapi makin ke sini terdengar seperti candaan yang basi. Benar, uang bukan segalanya — tapi coba hilangkan uang dari hidupmu selama sebulan, nanti kamu akan tahu, bahkan sabun dan gas elpiji pun tak bisa dibayar pakai cinta.

Ada banyak rumah tangga yang tampak baik-baik saja di permukaan, tapi retak halus di dalamnya. Bukan karena kurang cinta, tapi karena terlalu sering menambal hidup dengan harapan tanpa perhitungan. Suami yang bangga bilang, “Aku tidak kaya, tapi aku tanggung jawab.” Padahal tanggung jawab tanpa kesiapan finansial sering kali cuma jadi slogan kosong.

Dan istrinya? Dilarang bekerja. Katanya, cukup di rumah saja, biar suami yang menafkahi. Padahal di balik pintu rumah itu, ada kepala yang nyaris meledak karena memikirkan beras yang menipis, listrik yang belum dibayar, dan kebutuhan anak yang terus bertambah. Combo yang pas untuk menambah peliharaan negara — fakir, miskin, dan yang terlantar — kali ini bukan karena malas, tapi karena sistem yang meninabobokan perempuan dengan kalimat manis bertajuk “surga di telapak kaki istri yang sabar.”

Perempuan diajarkan untuk hemat, untuk pandai mengatur keuangan, meski uangnya tak pernah cukup. Diajarkan untuk tetap tersenyum meski isi dapur sudah hampir kosong. Diajarkan untuk sabar, seolah kesabaran bisa mengganti harga minyak goreng.

Dan ironisnya, yang paling sering bilang “uang bukan segalanya” biasanya adalah mereka yang tak pernah kekurangan. Mereka yang tak perlu menghitung kembalian dari tukang sayur. Mereka yang tidur nyenyak karena tagihannya sudah lunas.

Cinta itu penting, tentu saja. Tapi cinta tanpa arah dan tanpa daya hanya akan membuat dua orang saling menua dalam tekanan. Sepuluh ribu di tangan istri yang tepat? Mungkin bisa jadi berkat — kalau suaminya juga tepat. Tepat pikiran, tepat usaha, dan tepat sadar bahwa cinta tak akan bertahan di perut yang lapar.

Senin, 29 September 2025 0 comments

aku banyak takutnya.

Aku banyak takutnya: takut salah pilih, takut rumah tangga tak sesuai ekspektasi, takut beda pandangan di tengah jalan, takut omongan orang, takut tidak sepadan, bahkan takut tidak cukup membuat nyaman—tapi ya sudah, hidup memang tidak pernah adil, siapa suruh aku berharap terlalu banyak?

Kadang aku pikir cinta itu sederhana: ketemu orang yang bikin jantung deg-degan, lalu yakin dia soulmate. Tapi kalau cuma soal deg-degan, kopi sachet pun bisa bikin jantungku berlari. Soulmate ternyata bukan soal sensasi sementara, tapi soal rasa pulang. Aneh, ya. Ada orang yang bikin aku tenang meski kami sering nggak sepaham. Nggak selalu manis, nggak selalu romantis. Kadang malah bikin kepalaku penuh. Tapi entah kenapa, tetap ada rasa aman yang susah dijelaskan.

Lalu, ketakutan lain datang: “Bagaimana kalau karirnya nggak seimbang sama aku? Bagaimana kalau orang lain menganggap aku turun kelas karena pilih dia?” Aku sering lupa, ternyata aku lebih takut sama omongan orang ketimbang sepi di kamarku sendiri. Orang-orang memang hobi menilai hidup orang lain dengan standar yang bahkan mereka sendiri nggak sanggup penuhi. “Kok pasangannya gitu doang?”—padahal mereka sibuk ngutang di warung. “Kok masih ngontrak rumah?”—padahal cicilan rumah mereka sendiri macet. Ironis, aku bisa gemetar gara-gara bisik-bisik tetangga yang bahkan nggak bakal nungguin aku kalau sakit.

Lalu muncul lagi pertanyaan basi: “Apa aku sudah bikin dia nyaman?” Seolah aku harus jadi mesin serba bisa—bikin nyaman, bikin bahagia, bikin damai. Padahal kenyamanan itu cair. Kadang dia butuh ruang, kadang butuh pelukan, kadang malah butuh jauh dariku. Dan aku? Aku nggak harus selalu bisa memenuhi semuanya. Aku bukan hotel bintang lima. Kalau ada yang bilang pasangan itu harus selalu bikin nyaman 100%, ya suruh aja mereka bikin robot, bukan pasangan manusia.

Terus gimana kalau rumah tangga nggak sesuai ekspektasi? Ya, begitulah. Ekspektasi selalu terlalu mirip iklan: dapur rapi, anak wangi, pasangan harmonis. Kenyataannya? Kadang pintu dibanting, kadang piring pecah, kadang dingin menggantung berhari-hari. Dan anehnya, orang-orang tetap ikut komentar: “Sayang banget, dulu resepsinya mewah, lho.” Mereka lihat pesta, bukan luka. Mereka tahu gaun pengantin, tapi nggak tahu rasa sepi yang tidur di sebelahku.

Lalu ada pertanyaan paling berat yang kadang bikin aku ngeri: bagaimana aku bisa ikhlas punya anak? Tubuhku berubah, pikiranku digeser, ruang sosialku menyempit. Ikhlas? Kadang lebih mirip pasrah yang aku kasih bumbu makna supaya nggak pahit-pahit amat. Iya, ada balasan kecil yang bikin semua sakit terasa sepadan: tawa pertama, langkah goyah, panggilan “ibu”. Tapi jangan salah, nggak semua lelah terbayar lunas. Ada hari di mana aku tetap merasa hampa. Dan itu pun sah. Aku nggak mau lagi romantisasi seolah semua perempuan pasti akan “menemukan makna” dari luka.

Dan yang paling menjengkelkan, apapun pilihanku, omongan orang tetap datang. Punya pasangan mapan: “Ah, matre.” Punya pasangan sederhana: “Kok mau sama dia?” Nikah muda: “Nggak mikir panjang.” Nikah tua: “Kebanyakan milih.” Punya anak cepat: “Nggak pake KB, ya?” Belum punya anak: “Belum dikasih Tuhan, ya?” Rasanya semua orang punya komentar, padahal nggak ada satu pun yang ikut bayar listrikku.

Jadi ya, pada akhirnya, aku cuma bisa bilang ke diriku sendiri: soulmate atau bukan, karir seimbang atau tidak, rumah tangga indah atau berantakan, punya anak atau memilih jalan lain—semuanya tetap akan jadi tontonan gratis. Aku jungkir balik, mereka cuma duduk sambil ngemil kerupuk.

Dan kalau semua lelahku terasa nggak ada ujungnya, aku cuma bisa menarik napas panjang, lalu bilang pelan-pelan: "Ya sudah, hidup memang tidak pernah adil. Tapi siapa yang suruh kita berharap terlalu banyak?”


 
;