Senin, 29 September 2025 0 comments

aku banyak takutnya.

Aku banyak takutnya: takut salah pilih, takut rumah tangga tak sesuai ekspektasi, takut beda pandangan di tengah jalan, takut omongan orang, takut tidak sepadan, bahkan takut tidak cukup membuat nyaman—tapi ya sudah, hidup memang tidak pernah adil, siapa suruh aku berharap terlalu banyak?

Kadang aku pikir cinta itu sederhana: ketemu orang yang bikin jantung deg-degan, lalu yakin dia soulmate. Tapi kalau cuma soal deg-degan, kopi sachet pun bisa bikin jantungku berlari. Soulmate ternyata bukan soal sensasi sementara, tapi soal rasa pulang. Aneh, ya. Ada orang yang bikin aku tenang meski kami sering nggak sepaham. Nggak selalu manis, nggak selalu romantis. Kadang malah bikin kepalaku penuh. Tapi entah kenapa, tetap ada rasa aman yang susah dijelaskan.

Lalu, ketakutan lain datang: “Bagaimana kalau karirnya nggak seimbang sama aku? Bagaimana kalau orang lain menganggap aku turun kelas karena pilih dia?” Aku sering lupa, ternyata aku lebih takut sama omongan orang ketimbang sepi di kamarku sendiri. Orang-orang memang hobi menilai hidup orang lain dengan standar yang bahkan mereka sendiri nggak sanggup penuhi. “Kok pasangannya gitu doang?”—padahal mereka sibuk ngutang di warung. “Kok masih ngontrak rumah?”—padahal cicilan rumah mereka sendiri macet. Ironis, aku bisa gemetar gara-gara bisik-bisik tetangga yang bahkan nggak bakal nungguin aku kalau sakit.

Lalu muncul lagi pertanyaan basi: “Apa aku sudah bikin dia nyaman?” Seolah aku harus jadi mesin serba bisa—bikin nyaman, bikin bahagia, bikin damai. Padahal kenyamanan itu cair. Kadang dia butuh ruang, kadang butuh pelukan, kadang malah butuh jauh dariku. Dan aku? Aku nggak harus selalu bisa memenuhi semuanya. Aku bukan hotel bintang lima. Kalau ada yang bilang pasangan itu harus selalu bikin nyaman 100%, ya suruh aja mereka bikin robot, bukan pasangan manusia.

Terus gimana kalau rumah tangga nggak sesuai ekspektasi? Ya, begitulah. Ekspektasi selalu terlalu mirip iklan: dapur rapi, anak wangi, pasangan harmonis. Kenyataannya? Kadang pintu dibanting, kadang piring pecah, kadang dingin menggantung berhari-hari. Dan anehnya, orang-orang tetap ikut komentar: “Sayang banget, dulu resepsinya mewah, lho.” Mereka lihat pesta, bukan luka. Mereka tahu gaun pengantin, tapi nggak tahu rasa sepi yang tidur di sebelahku.

Lalu ada pertanyaan paling berat yang kadang bikin aku ngeri: bagaimana aku bisa ikhlas punya anak? Tubuhku berubah, pikiranku digeser, ruang sosialku menyempit. Ikhlas? Kadang lebih mirip pasrah yang aku kasih bumbu makna supaya nggak pahit-pahit amat. Iya, ada balasan kecil yang bikin semua sakit terasa sepadan: tawa pertama, langkah goyah, panggilan “ibu”. Tapi jangan salah, nggak semua lelah terbayar lunas. Ada hari di mana aku tetap merasa hampa. Dan itu pun sah. Aku nggak mau lagi romantisasi seolah semua perempuan pasti akan “menemukan makna” dari luka.

Dan yang paling menjengkelkan, apapun pilihanku, omongan orang tetap datang. Punya pasangan mapan: “Ah, matre.” Punya pasangan sederhana: “Kok mau sama dia?” Nikah muda: “Nggak mikir panjang.” Nikah tua: “Kebanyakan milih.” Punya anak cepat: “Nggak pake KB, ya?” Belum punya anak: “Belum dikasih Tuhan, ya?” Rasanya semua orang punya komentar, padahal nggak ada satu pun yang ikut bayar listrikku.

Jadi ya, pada akhirnya, aku cuma bisa bilang ke diriku sendiri: soulmate atau bukan, karir seimbang atau tidak, rumah tangga indah atau berantakan, punya anak atau memilih jalan lain—semuanya tetap akan jadi tontonan gratis. Aku jungkir balik, mereka cuma duduk sambil ngemil kerupuk.

Dan kalau semua lelahku terasa nggak ada ujungnya, aku cuma bisa menarik napas panjang, lalu bilang pelan-pelan: "Ya sudah, hidup memang tidak pernah adil. Tapi siapa yang suruh kita berharap terlalu banyak?”


Selasa, 16 September 2025 0 comments

kalau diceritain panjang, jadi aku mending lari.

Hidup yang monoton menjalani rutinitas yang itu-itu saja seharusnya banyak-banyak aku syukuri. Itu berarti badai kehidupan tidak sedang bersamaku. Di tengah hiruk pikuk undangan pernikahan dan tentang semua asumsi orang terhadapku, terima kasih karena menurut kalian aku berbahagia.

Aku tak setenang itu, sesekali aku ingin mencabik mulutnya saat ia mulai mengoceh menyalahkan semua orang seenaknya. Aku ingin menarik rambutnya sampai lepas dari kulit kepala ketika dagunya sudah mulai lebih tinggi dari lubang hidungnya. You will never understand the hell I feel inside my head. Aku diam bukan karena apa, aku diam karena sibuk menenangkan monster yang ada di dalamku.

Di umur yang tak lagi muda ini aku memutuskan untuk berhenti membandingkan nasibku. Aku sudah lelah melihat pencapaian orang lain yang kadang di usia mudanya sudah mendapatkan apa yang belum aku punya, pasangan hidup, rumah, pekerjaan tetap, mobil, destinasi liburan menarik, konser band luar negeri, tas mahal, dan segala bentuk berhala masa kini lainnya.



Dulu aku merasa hidupku tertinggal jauh. Kini aku memilih jalan berbeda: berhenti berlari mengejar standar orang lain, dan mulai belajar berlari dengan ritmeku sendiri. Mungkin aku belum punya semua itu, tapi aku punya ruang untuk bernapas, waktu untuk diriku sendiri, dan keberanian untuk tetap melangkah meski pelan.

Monster di kepalaku tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bisa diajak kompromi. Ada hari-hari ketika ia diam, ada juga saat ia meraung tak terkendali. Tapi aku menemukan cara sederhana untuk menenangkannya: melangkah keluar rumah, menapaki jalan, dan membiarkan tiap detak jantung mengalahkan riuh pikiran.

Kalau diceritakan panjang, mungkin kalian tidak akan peduli. Jadi aku lari saja. Biar sakit kepala berubah jadi sakit kaki. Biar monster di kepala diam, meski cuma sebentar.
Selasa, 09 September 2025 0 comments

Merbabu Sky Run 2025: Jalur, Dada, dan Diri Sendiri

Hidup memang kayak track trail: kadang mulus, kadang makadam; baru lega nemu turunan, eh lutut langsung protes. Begitu juga di Merbabu Sky Run 2025 ini. Jalurnya bikin dada ngos-ngosan, bikin kaki serasa ditarik paksa, tapi di tiap langkah ada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kubawa sendiri.












Aku sempat mikir, harusnya Virgin Trail Run-ku adalah Kendal Trail Run 7K. Tapi semesta bikin plot twist — Merbabu Sky Run kategori 10K jadi debut trail run-ku. Nggak tanggung-tanggung, langsung disuguhi jalur yang dar-der-dor: tanjakan panjang, turunan licin, semak liar, jalan makadam, sampai pemandangan gunung yang kayak nyinyir, ngetawain tiap kali aku berhenti ambil napas.

Tapi justru di jalur itu aku belajar lagi: bahwa semua orang lari dengan caranya sendiri, semua orang punya pace, semua orang punya pertarungannya masing-masing.

Dan aku sampai juga ke garis finish. Dengan wajah basah keringat, kaki gemetar, tapi senyum tetap lebar. Di depan kamera, aku angkat jempol — bukan buat gaya, tapi simbol bahwa aku bisa, meski jalur keras banget.

Finish kali ini bukan cuma soal catatan waktu di jam tangan. Tapi tentang bagaimana aku berdiri lagi setelah setiap turunan bikin lutut protes, tentang bagaimana aku berani bilang ke diri sendiri: “Kamu bisa, kamu kuat.”

Beauty and strong — bukan karena aku terlihat cantik di garis finish, tapi karena aku menyelesaikan lari ini dengan utuh: dengan rasa sakit, dengan keringat, dengan tawa, dan dengan hati yang penuh.

Merbabu Sky Run 2025 jadi lebih dari sekadar race. Ia jadi cermin, pengingat, bahwa hidup — seperti jalur ini — selalu penuh plot twist. Ngeselin tapi ngangenin.

 
;