Kamis, 10 April 2025 0 comments

low pace, long story

Awalnya aku lari bukan karena suka. Bukan juga karena ingin jadi pelari. Aku lari semata-mata untuk persiapan naik gunung. Biar kaki nggak kaget pas diajak nanjak, biar napas nggak engap waktu summit. Latihan pun simpel: seminggu dua kali, cukup sebulan sebelum hari H pendakian. Habis itu? Ya sudah, sepatu lari masuk lagi ke pojokan rak.

Tapi ternyata kebiasaan kecil itu menempel. Lari yang tadinya cuma “bekal nanjak” perlahan jadi sesuatu yang kucari. Entah kenapa, meski nggak ada agenda mendaki, aku tetap pengin keluar, ikat sepatu, dan gas lari. Kadang di jalan sekitar rumah, kadang di jalan kota, kadang cuma keliling GOR.

Pace? Masih keong. Long run? Masih belum bisa. Suka banget sama lari? Jujur aja, masih belum. Tapi yang jelas, lari sudah jadi bagian dari rutinitas. Walaupun latihan nggak selalu konsisten, setidaknya dalam seminggu aku bisa dapat 10K.

Dan dari situ aku sadar, lari itu bukan soal siapa yang paling cepat atau siapa yang bisa jauh. Lari itu soal keberanian untuk tetap melangkah, meski rasanya berat, meski motivasi naik-turun, meski sering kali lebih banyak alasan untuk berhenti.

Kalau dulu lari hanyalah cara biar kuat nanjak, sekarang lari jadi cara untuk tetap bergerak, tetap waras, dan tetap merasa hidup.

0 comments

perempuan dan ubin kamar mandi

Ramai di sosmed kalau laki-laki memilih diam, duduk sendiri minum kopi kemasan botol sambil merokok di depan minimarket. Semua bisa saja benar — tapi hal itu juga bisa kulakukan. Bukan karena mau menyaingi, tapi karena itulah yang sebenarnya terjadi padaku. Kadang aku tak tahu harus bercerita ke siapa, jadi aku memilih menyendiri di kos sambil menggosok ubin kamar mandi.

Ada sesuatu yang ritualis dari aktivitas itu: busa sabun, gerakan memutar kain lap, air yang mengalir. Semakin bersih ubin, seolah-olah semakin banyak pula masalah hidup yang kupentingkan untuk disikat sendiri. Ubin yang mengkilap menjadi ukuran betapa rapi kehidupan yang kubiarkan orang lihat—padahal permukaannya saja, bukan isi bak cucianku yang kusam.

Aku kadang tidak bisa mengeluarkan perasaanku yang sebenarnya, terutama rasa sedih. Menangis di depan orang lain? Sampai hari ini itu terasa mustahil. Aku masih mengulik kenapa. Mungkin karena sejak lama aku diajari untuk kuat, untuk menahan, untuk tidak merepotkan. Mungkin juga karena setiap kali aku pernah buka sedikit, suara itu—penilaian, komentar, solusi yang tidak diminta—datang terlalu cepat, dan aku belajar menutup mulut.

Perasaan yang tidak pernah tervalidasi membuatku merasa salah bila meluapkannya. Jadi aku simpan. Aku simpan sampai tukang ingatanku penuhilah satu lemari penuh barang. Sampai suatu malam aku berdiri di kamar mandi, tangan pegal karena menggosok, dan bertanya pada ubin yang kian bersih: apakah ada cara agar isi kepala ikut bersih seperti ini?

Ternyata tidak. Ubin bisa mengkilap, tapi noda di kepala tidak selalu luntur oleh air. Namun ada satu hal yang kuberi pada diriku lewat kebiasaan sederhana itu: ruang. Ruang untuk merasa, tanpa drama publik. Ruang untuk bernafas ketika segala macam ekspektasi menekan dari luar. Menjadikan kamar mandi sebagai tempat kecilku supaya tidak menambah beban orang lain—ini pilihanku, dan aku menerima itu meski kadang menyakitkan.

Bukan berarti aku menolak bantuan. Aku hanya sedang belajar bahwa cara memproses luka berbeda-beda. Untuk sebagian orang berbagi adalah obat; untukku, ada fase aku butuh menyendiri, menggosok, merapikan permukaan dahulu sebelum berkata apa-apa. Dan kalau suatu hari aku membuka mulut itu pun, mungkin kata-kataku akan datang dari ubin-ubin yang sudah kucuci: jujur, polos, dan tak lagi takut dimarahi.

Jadi, biarlah mereka bicara tentang laki-laki di depan minimarket. Aku punya caraku sendiri — bukan lebih salah, bukan lebih benar. Hanya caraku. Aku menggosok ubin bukan untuk menyembunyikan, tapi untuk memberi tanda bahwa aku masih berusaha. Dan ketika malam turun, aku duduk di lantai kamar mandi yang dingin, merasa kelelahan dan anehnya sedikit lega, karena setidaknya hari ini ada satu sudut kecil yang kusentuh sampai selesai.


Selasa, 11 Maret 2025 0 comments

the romantic part of my life is just beginning.

Aku duduk di coffeeshop yang baristanya sudah hafal pesananku. Tanpa banyak kata, aku membayar dan duduk di tempat biasanya. Usai menelepon, aku memutar album baru Hindia yang belom aku dengarkan semuanya. Walau puasa, tempat ini tetap ramai dengan orang-orang sibuk yang mengadakan meeting di luar kantor. Tak lama hujan turun. Aku hanya bisa mendengarkan suara Baskara, samar rintik hujan dan omongan tak jelas orang-orang yang mengomongkan topik yang menurut mereka penting. Detik itu aku merasa seperti di dalam film.

Dibayanganku, aku seperti Bella Swan yang sedang duduk di depan jendela besar. Kamera berputar mengelilingiku, menangkap ekspresiku yang sebenarnya biasa saja tapi tak tahu detik itu aku merasa senang saja. Speed diperlambat sekian milidetik. Soundtrack hindia, everything you are sayup mulai terdengar.

The romantic part of my life is just beginning. Satu persatu doaku tembus ke langit. Aku takut perayaan ini terlalu cepat. Aku takut salah menangkap perasaanmu. Aku takut pesta ini kunikmati sendirian dan aku kembali terpuruk. Ragam wajahmu saja aku belum tahu. Luka yang kemarin juga belum pudar dari ingatan. I put everything on him but i'm not found a happy ending.

I learnt from it dan hasilnya sekarang aku bingung dengan mauku sendiri. Ketika ada seseorang datang aku malah kalang kabut sendiri. Aku tak mau terlalu melekat tapi tak mau melepaskan. Aku meniru apa yang dia lakukan dulu kepadaku. Apa aku jahat? Iya, aku tahu itu tapi kalau kamu harus tahu sebabnya, aku takut kehilangan (lagi). Aku belum tau apa traumanya. Aku cuma takut kalau ia mengikatku terlalu erat sampai aku tak bisa bernapas. Usahaku kali ini mudah-mudahan kembali menembus langit. Namun aku menyisakan sedikit ruang untuk kecewa yang semoga tak akan terpakai.
 
;