Kamis, 10 April 2025 0 comments

perempuan dan ubin kamar mandi

Ramai di sosmed kalau laki-laki memilih diam, duduk sendiri minum kopi kemasan botol sambil merokok di depan minimarket. Semua bisa saja benar — tapi hal itu juga bisa kulakukan. Bukan karena mau menyaingi, tapi karena itulah yang sebenarnya terjadi padaku. Kadang aku tak tahu harus bercerita ke siapa, jadi aku memilih menyendiri di kos sambil menggosok ubin kamar mandi.

Ada sesuatu yang ritualis dari aktivitas itu: busa sabun, gerakan memutar kain lap, air yang mengalir. Semakin bersih ubin, seolah-olah semakin banyak pula masalah hidup yang kupentingkan untuk disikat sendiri. Ubin yang mengkilap menjadi ukuran betapa rapi kehidupan yang kubiarkan orang lihat—padahal permukaannya saja, bukan isi bak cucianku yang kusam.

Aku kadang tidak bisa mengeluarkan perasaanku yang sebenarnya, terutama rasa sedih. Menangis di depan orang lain? Sampai hari ini itu terasa mustahil. Aku masih mengulik kenapa. Mungkin karena sejak lama aku diajari untuk kuat, untuk menahan, untuk tidak merepotkan. Mungkin juga karena setiap kali aku pernah buka sedikit, suara itu—penilaian, komentar, solusi yang tidak diminta—datang terlalu cepat, dan aku belajar menutup mulut.

Perasaan yang tidak pernah tervalidasi membuatku merasa salah bila meluapkannya. Jadi aku simpan. Aku simpan sampai tukang ingatanku penuhilah satu lemari penuh barang. Sampai suatu malam aku berdiri di kamar mandi, tangan pegal karena menggosok, dan bertanya pada ubin yang kian bersih: apakah ada cara agar isi kepala ikut bersih seperti ini?

Ternyata tidak. Ubin bisa mengkilap, tapi noda di kepala tidak selalu luntur oleh air. Namun ada satu hal yang kuberi pada diriku lewat kebiasaan sederhana itu: ruang. Ruang untuk merasa, tanpa drama publik. Ruang untuk bernafas ketika segala macam ekspektasi menekan dari luar. Menjadikan kamar mandi sebagai tempat kecilku supaya tidak menambah beban orang lain—ini pilihanku, dan aku menerima itu meski kadang menyakitkan.

Bukan berarti aku menolak bantuan. Aku hanya sedang belajar bahwa cara memproses luka berbeda-beda. Untuk sebagian orang berbagi adalah obat; untukku, ada fase aku butuh menyendiri, menggosok, merapikan permukaan dahulu sebelum berkata apa-apa. Dan kalau suatu hari aku membuka mulut itu pun, mungkin kata-kataku akan datang dari ubin-ubin yang sudah kucuci: jujur, polos, dan tak lagi takut dimarahi.

Jadi, biarlah mereka bicara tentang laki-laki di depan minimarket. Aku punya caraku sendiri — bukan lebih salah, bukan lebih benar. Hanya caraku. Aku menggosok ubin bukan untuk menyembunyikan, tapi untuk memberi tanda bahwa aku masih berusaha. Dan ketika malam turun, aku duduk di lantai kamar mandi yang dingin, merasa kelelahan dan anehnya sedikit lega, karena setidaknya hari ini ada satu sudut kecil yang kusentuh sampai selesai.


Selasa, 11 Maret 2025 0 comments

the romantic part of my life is just beginning.

Aku duduk di coffeeshop yang baristanya sudah hafal pesananku. Tanpa banyak kata, aku membayar dan duduk di tempat biasanya. Usai menelepon, aku memutar album baru Hindia yang belom aku dengarkan semuanya. Walau puasa, tempat ini tetap ramai dengan orang-orang sibuk yang mengadakan meeting di luar kantor. Tak lama hujan turun. Aku hanya bisa mendengarkan suara Baskara, samar rintik hujan dan omongan tak jelas orang-orang yang mengomongkan topik yang menurut mereka penting. Detik itu aku merasa seperti di dalam film.

Dibayanganku, aku seperti Bella Swan yang sedang duduk di depan jendela besar. Kamera berputar mengelilingiku, menangkap ekspresiku yang sebenarnya biasa saja tapi tak tahu detik itu aku merasa senang saja. Speed diperlambat sekian milidetik. Soundtrack hindia, everything you are sayup mulai terdengar.

The romantic part of my life is just beginning. Satu persatu doaku tembus ke langit. Aku takut perayaan ini terlalu cepat. Aku takut salah menangkap perasaanmu. Aku takut pesta ini kunikmati sendirian dan aku kembali terpuruk. Ragam wajahmu saja aku belum tahu. Luka yang kemarin juga belum pudar dari ingatan. I put everything on him but i'm not found a happy ending.

I learnt from it dan hasilnya sekarang aku bingung dengan mauku sendiri. Ketika ada seseorang datang aku malah kalang kabut sendiri. Aku tak mau terlalu melekat tapi tak mau melepaskan. Aku meniru apa yang dia lakukan dulu kepadaku. Apa aku jahat? Iya, aku tahu itu tapi kalau kamu harus tahu sebabnya, aku takut kehilangan (lagi). Aku belum tau apa traumanya. Aku cuma takut kalau ia mengikatku terlalu erat sampai aku tak bisa bernapas. Usahaku kali ini mudah-mudahan kembali menembus langit. Namun aku menyisakan sedikit ruang untuk kecewa yang semoga tak akan terpakai.
0 comments

tanpa perayaan.

Ada yang sibuk merayakan pencapaiannya padahal di sudut lain ada yang menderita karena ketidakpekaannya. Aku tidak menyalahkan siapapun atas kegagalan yang selama ini merongrongku. Aku tak merengek walau dunia selalu tak sejalan denganku. Aku tak minta banyak bantuan untuk melangkah walau kakiku telah koyak. Aku terus berlari menggunakannya meski aku tahu, tak mungkin aku dapat melakukannya.

Selamaku hidup, poros semesta berputar padamu. Sebanyak apapun usaha yang kuberikan, rasanya tak pernah cukup di matanya. Aku yang bernomor punggung dua, tetap tak pernah menjadi prioritas. Tetap namanya yang terpatri menjadi nomor satu meski yang ia beri tak lebih dari yang ia terima. Ia sibuk menyuapi egonya sendiri dan menganggap semua telah cukup. Aku tahu aku juga tak pernah lebih darinya tapi dari sedikit yang aku punya, tetap ku coba untuk memprioritaskan kepada yang seharusnya.

Suaraku tak pernah lebih lantang. Semua harus berada di bawahnya tanpa semua sadari. Apapun yang terjadi meski kamu lebih baik, kamu tak boleh lebih darinya. Itu adalah peraturan tak tertulis namun wajib ditaati apapun yang terjadi.

Dan aku lelah. Lelah menjadi bayangan yang dipaksa untuk tetap redup agar cahaya palsunya terlihat lebih terang. Lelah menahan diri agar tidak melangkah lebih jauh hanya karena takut menyalahi aturan yang bahkan tidak pernah aku buat. Ada kalanya aku ingin berhenti, melepaskan nomor di punggungku, dan berjalan pelan dengan kakiku yang koyak—tanpa lagi berlomba, tanpa lagi mengukur diriku dengan dia.

Karena bukankah hidup seharusnya bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai, tapi bagaimana kau tetap bisa bernapas setelah semua luka? Aku ingin percaya bahwa suatu hari, meski aku selalu nomor dua di matanya, aku bisa jadi nomor satu di mataku sendiri.
 
;